Mochtar Riady: Perusahaan Harus Sensitif dengan Teknologi

Mochtar Riady: Perusahaan Harus Sensitif dengan Teknologi
Mochtar Riady. ( Foto: BeritaSatu Photo )
Nida Sahara / WBP Selasa, 28 November 2017 | 15:36 WIB

Jakarta- Pendiri Lippo Group Mochtar Riady mengatakan, perusahaan harus sensitif dengan perubahan teknologi di era digital seperti sekarang. Jika tidak, maka harus bersiap mengalami kemunduran. Pasalya, perubahan sosial yang terjadi di era digital saat ini tidak bisa dielakkan.

Dia memberi contoh, taksi Blue Bird yang memiliki 43.000 sopir taksi secara perlahan bisnisnya tersisihkan oleh kehadiran taksi online. Saat menjabat ketua Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia (MWA UI), Mochtar sempat berdiskusi santai dengan pemilik perusahaan Blue Bird. Dia mengaku merasa kagum dengan Blue Bird karena dapat mengelola ribuan pengemudi, dan para pengemudi tersebut seluruhnya tenang dan disiplin. Padahal untuk mengatur satu orang sopir saja, sudah kesulitan. Namun dalam waktu tidak lama, kejayaan taksi konvensional, seperti Blue Bird, mendadak surut lantaran kehadiran teknologi.

"Maka kita semua harus belajar dari Blue Bird, kita harus sensitif terhadap ekonomi, politik dan juga teknologi. Saya awalnya kagum dengan Blue Bird, tapi sekarang kalah dengan taksi online, itu karena tidak sensitif teknologi," kata Mochtar Riady di Jakarta, Selasa (28/11).

Padahal awalnya dia berpikir sarana transportasi taksi sulit untuk dikalahkan. Namun kini kehadiran beragam sarana transportasi berbasis online begitu cepat besar, dan taksi konvensional pun mulai tergeser.

Dia menjelaskan, perusahaan di Indonesia harus dapat mengikuti perubahan yang terjadi saat ini. Dalam pepatah Tiongkok, dia menyebutkan, tidak ada kekayaan yang bisa bertahan lebih dari tiga generasi. Seperti yang terjadi pada perusahaan mobil terbesar di Jepang yaitu Nissan yang telah di-take over oleh Prancis, kemudian mengambil keuntungan dengan Mitsubishi.

Beberapa bulan lalu, lanjut dia, perusahaan raksasa di Jepang seperti Sharp dan Toshiba di-take over oleh perusahaan Tiongkok. Hal tersebut karena perusahaan tidak sensitif terhadap perubahan teknologi sehingga mengalami kemunduran.



Sumber: Investor Daily
CLOSE