Media Cetak Masih Bertahan di Era Digital

Ilustrasi media cetak (Istimewa)

Oleh: Faisal Maliki Baskoro / FMB | Kamis, 7 Desember 2017 | 15:31 WIB

Jakarta – Media cetak masih mampu mempertahankan pembacanya di tengah-tengah pergeseran minat baca dari cetak ke digital. Koran masih menjadi pilihan utama pembaca dan pandapatan iklan koran relatif tetap dari tahun ke tahun.

Menurut survey Nielsen Consumer & Media View (CMV) kuartal III 2017 yang dilakukan di 11 kota dan mewawancara 17.000 responden, saat ini media cetak (termasuk koran, majalah dan tabloid) memiliki penetrasi sebesar 8 persen dan dibaca oleh 4,5 juta orang. Dari jumlah tersebut, 83 persennya membaca koran. Televisi masih merajai dengan penetrasi 96 persen atau dilihat 52,8 juta orang sementara radio 37 persen atau 11,9 juta orang.

Alasan utama para pembaca masih memilih koran adalah karena nilai beritanya yang dapat dipercaya. “Elemen trust terhadap konten tentu berpengaruh terhadap iklan yang ada di dalamnya. Sehingga keberadaan koran sebagai media beriklan sangat penting untuk produk yang mengutamakan unsur trust misalnya produk perbankan dan asuransi,” ujar Hellen Katherina, Direktur Eksekutif Nielsen Media, dalam siaran persnya.

Sedangkan untuk tabloid atau majalah lebih kepada kisah nyata yang diulas. Jika dilihat dari profil pembaca, media cetak di Indonesia cenderung dikonsumsi oleh konsumen dari rentang usia 20-49 tahun (74 persen), memilki pekerjaan sebagai karyawan (32 persen) dan mayoritas pembacanya berasal dari kelas atas (54 persen).

Ini menunjukkan bahwa pembaca media cetak masih produktif dan dari kalangan yang mapan. Pembaca media cetak juga merupakan pembuat keputusan dalam rumah tangga untuk membeli sebuah produk (36 persen). Membaca buku adalah salah satu hobi dari konsumen media cetak. Selain membaca, mereka juga lebih cenderung menyukai traveling. Sebanyak tiga dari empat pembaca media cetak mengakui tidak keberatan saat melihat iklan karena iklan adalah salah satu cara untuk mengetahui produk baru.

Dengan semakin berkembangnya teknologi, pembaca media cetak juga menggunakan internet dalam kehidupan sehari-hari.

“Tingginya frekuensi penggunaan internet di antara pembaca media cetak yang mencapai 86 persen, yaitu di atas rata-rata yang sebesar 61 persen semakin memperkuat fakta bahwa pembaca media cetak berasal dari kalangan yang lebih affluent,” ujar Hellen.

Sebanyak 65 persen pembaca media cetak mengakses internet melalui smartphone dan menghabiskan waktu dengan internet hampir 3 jam setiap harinya.

Kepembacaan melalui internet atau digital juga cukup tinggi. Menurut data Nielsen Consumer and Media View, sampai dengan kuartal ketiga 2017, jumlah pembaca versi digital mencapai 6 juta orang dengan penetrasi sebesar 11 persen. “Ini membuktikan bahwa minat membaca tidak turun, tapi hanya berganti platform saja,” tambah Hellen.

Hal ini juga terlihat dari tingginya penetrasi kepembacaan digital di beberapa kota di pulau Jawa seperti, area Bandung dan sekitarnya (25 persen), Surakarta (22 persen), Yogyakarta dan sekitarnya (19 persen), Semarang dan sekitarnya (12 persen) serta Jakarta dan sekitarnya (11 persen). Sementara itu, di luar pulau Jawa, kebanyakan pembaca masih lebih banyak membaca dalam bentuk cetak.

Hal menarik lainnya adalah, versi digital mampu menjangkau pembaca dari Generasi Z dengan rentang usia 10-19 tahun (17 persen). Mereka adalah konsumen media masa depan.

Berbicara tentang konten media, pada kenyataannya konten muatan lokal masih menarik perhatian para pembaca di beberapa kota di Indonesia, baik yang dibaca melalui media cetak ataupun yang diakses di media online. Seperti di Makassar, sebanyak 80 persen konsumen membaca konten lokal melalui koran dan 60 persen mengakses konten lokal melalui internet. Di Surakarta, 54 persen konsumen membaca konten lokal melalui koran dan 36 persen mengaksesnya melalui Internet.

Dilihat dari sisi belanja iklan, meskipun jumlah pendapatan belanja iklan turun 11 persen dari tahun 2013 ke tahun 2017, namun total pendapatan iklan koran yang masih tetap berada di angka Rp 21 triliun adalah gambaran bahwa media cetak masih memiliki peluang mendapatkan kue iklan yang signifikan.

Jika dibandingkan porsi belanja iklan di media cetak dan media televisi, kategori hotel dan restoran masih banyak beriklan di media cetak dengan share 97 persen, lalu kategori kesehatan dan pengobatan serta kategori toko/toko spesialis masing-masing memiliki share iklan yang tinggi di media cetak dengan 95 persen, disusul oleh kategori institusi pendidikan formal (89 persen). Sementara share iklan di media cetak untuk kategori multivitamin dan suplemen adalah 18 persen, dan kategori perangkat dan layanan komunikasi masih di angka 12 persen, artinya pelaku media cetak masih memiliki peluang untuk memikat pengiklan dari kedua kategori ini

Survey CMV adalah survey sindikasi yang dilakukan Nielsen terhadap + 17,000 orang usia 10 tahun ke atas di 11 kota di Indonesia (Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Semarang, Surakarta, Surabaya, Denpasar, Medan, Palembang, Makassar dan Banjarmasin). Informasi yang ada di dalamnya termasuk data-data demografi, psikografi, penggunaan media, sampai dengan penggunaan produk.

Informasi belanja iklan diambil dari data Ad Intel yang memonitor aktivitas periklanan Indonesia. Monitoring iklan mencakup 15 stasiun TV nasional, 99 surat kabar dan 123 majalah dan tabloid. Angka belanja iklan didasarkan pada gross rate card, tanpa menghitung diskon, bonus, promo, dll.




Sumber: BeritaSatu.com
ARTIKEL TERKAIT