Perbankan Harus Merangkul Tekfin jika Ingin Terus Tumbuh

Ilustrasi Perbankan (Investor Daily/Investor Daily/David)

Oleh: Faisal Maliki Baskoro / FMB | Kamis, 7 Desember 2017 | 16:28 WIB

Jakarta - Gelombang perubahan dalam teknologi digital telah berdampak terhadap dunia perbankan. Meski menimbulkan guncangan (disruption) tetapi perbankan tidak menolak tekfin. Bahkan perbankan, mau tidak mau, harus berkolaborasi dengan perusahaan teknologi finansial (tekfin) untuk mempertahankan pertumbuhannya.

“Diprediksi setidaknya 30 persen jenis pekerjaan di sektor perbankan akan menghilang dalam lima tahun ke depan. Mau tak mau, perbankan konvensional mesti menyesuaikan diri dengan tren fintech ini," kata Leonardo Koesmanto, Head of Digital Banking Bank DBS Indonesia, dalam siaran persnya hari ini.

Menurutnya, tekfin memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan bank konvensional. Tekfin memiliki struktur organisasi yang lebih ramping dan daya penetrasinya yang dinamis, membuatnya bergerak lebih cepat dan lincah dibandingkan bank konvensional. Tekfin dapat menawarkan produk-produk baru yang dibutuhkan masyarakat sejalan dengan gaya hidup digital.

Leonardo menambahkan sudah ada beberapa korporasi finansial besar yang mulai berinvestasi dan bekerja sama dengan perusahaan tekfin untuk meningkatkan kemampuan teknologi digitalnya.

"Kolaborasi atau ko-inovasi dengan fintech merupakan jalan terbaik bagi bank untuk mempertahankan pertumbuhannya. Artinya, bank konvensional harus mengubah model dan strategi bisnis untuk melebarkan pasarnya. Di sisi lain, fintech juga akan mendapatkan keuntungan modal, data, pasar, dan dukungan regulasi dari perbankan," kata Leonardo.

Dia mengatakan kecenderungan masyarakat menginginkan bentuk layanan cepat, mudah, dan praktis dalam aktivitas sehari-hari. Perilaku berbelanja misalnya, yang tadinya melalui gerai toko di mal maupun pasar dapat dilakukan dengan sekali klik di depan komputer atau gawai telepon seluler (ponsel). Begitu pula transaksi perbankan, berbagai jenis pembayaran tagihan dan investasi dapat dilakukan melalui aplikasi dalam ponsel pintar.

Secara terpisah, Ivan Nikolas Tambunan, CEO perusahaan start-up tekfin Akseleran yang bergerak di bidang crowdfunding, mengatakan kepada Beritasatu.com beberapa waktu lalu bahwa tekfin tidak akan mengambil alih fungsi perbankan. Justru tekfin berharap bisa berkolaborasi dengan perbankan yang memiliki modal, akses dan pengalaman yang lebih luas.

Laporan Klynveld Peat Marwick Goerdeler, sebuah lembaga auditor internasional, menyebutkan ada tiga lapisan perubahan dalam industri perbankan. Pertama adalah model bisnis dengan mengombinasikan berbagai layanan berbasis teknologi. Kedua, perubahan produk menjadi lebih fleksibel serta pelanggan sentris. Lapisan terakhir adalah memberikan cara baru dalam mengoperasikan infrastruktur transaksional perbankan.

Bank DBS Indonesia mencoba mengadopsi tren tekfin melalui aplikasi “digibank” yang memberikan layanan asisten virtual di Indonesia. Melalui aplikasi ini, nasabah dengan mudah membuat rekening baru tanpa harus datang ke kantor cabang. Selain itu, nasabah juga dapat berinteraksi setiap saat dengan robot asisten untuk kebutuhan transaksi harian mereka.

Di India, layanan ini telah menarik 1,5 juta nasabah baru sejak diluncurkan perdana pada 2016 yang lalu. Sedangkan di Indonesia, sejak Agustus 2017 tercatat sekitar 15.000 nasabah sudah mengunduh aplikasi ini. DBS menargetkan akan memiliki 3,5 juta nasabah baru digibank dalam lima tahun ke depan.




Sumber: BeritaSatu.com
ARTIKEL TERKAIT