Kereta Api Cepat, Jakarta-Surabaya Hanya 5 Jam

Kereta Api Cepat, Jakarta-Surabaya Hanya 5 Jam
Ilustrasi Kereta Api Cepat ( Foto: Istimewa )
Fuska Sani Evani / FMB Jumat, 8 Desember 2017 | 09:25 WIB

Yogyakarta - Pemerintah berencana akan membangun jalur kereta api cepat Jakarta-Surabaya yang ditargetkan akan mulai dibangun sebelum Lebaran tahun depan.

Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi mengatakan pembangunan kereta api cepat yang menghubungkan Jakarta-Surabaya ini akan mengurangi waktu tempuh yang sebelumnya 9 jam akan berkurang menjadi 5,5 jam.

“Kereta api ini bisa dua kali bolak-balik dalam sehari semalam,” kata Menhub saat membuka seminar pembangunan jalur kereta api cepat Jakarta-Surabaya,Kamis (7/12) di ruang seminar Sekolah Pascasarjana UGM.

Pembangunan kereta api cepat ini diharapkan meningkatkan kemampuan daya saing bangsa dan menurunkan biaya logistik arus barang dan jasa.

Jalur kereta api cepat tersebut menurut Menhub, memerlukan biaya yang tidak sedikit. Meski belum menyebutkan alokasi anggaran yang dibutuhkan, Menhub mengatakan pihaknya kini tengah mempertimbangkan beberapa pilihan jenis teknologi kereta api cepat seperti yang ada di Jepang, Korea dan Jerman. “Kita ingin mendapat pilihan teknologi cerdas dalam pembangunan kereta api cepat ini,”katanya.

Saat ini lanjut Menhub, sudah tiga proposal yang diajukan ke pemerintah terkait rencana pembangunan kereta api cepat tersebut, proposal tersebut berasal dari JICA, BPPT dan Jerman.

“Kita akan perbandingkan mana saja yang bisa digunakan dan mengetahui dinamika percepatan kereta api di masing masing Negara,” tuturnya.

Menhub berharap pembangunan kereta api cepat ini mampu mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus memberikan dampak ekonomi dan sosial bagi setiap kota yang nantinya disinggahi oleh kereta api tersebut.

“Dengan biaya besar yang dikeluarkan bisa memberikan dampak kemanfaatan ekonomi lebih banyak, meningkatkan daya saing,”katanya.

Dikatakan Menhub, moda transportasi kereta api merupakan angkutan yang paling banyak digemari dan dinilai ramah lingkungan. Oleh karena itu, Kemhub akan melakukan penataan jalur kereta api yang nantinya terintegrasi dan massif yang bisa menghubungan antar kota di Jawa.”Sesusi dengan arahan dan tujuan yang disampaikan Presiden agar nantinya bisa meningkatkan daya saing,” katanya.

Sedang Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Unggul Priyanto, mengapresiasi rencana pemerintah untuk segera membanguna kereta api cepat Jakarta-Surabaya. Menurutnya pembangunan kereta api cepat tersebut akan memperlancar arus barang sehingga harga komoditas bisa semakin murah.

Meski demikian, kata Unggul, pemerintah menurutnya juga perlu memperhatikan aspek teknologi dalam setiap rencana pembangunan infrastruktur dengan sebersa-besarnya memanfaatkan komponen lokal dari dalam negeri. “Pemanfaatan komponen lokal dalam negeri sebagai soko guru untuk bisa menjadi negara maju,” katanya.

Sementara itu, Ketua Masyarakat Tranportasi Indonesia (MTI) Prof Danang Parikesit menilai, pembangunan kereta api cepat membutuhkan dana yang yang cukup besar namun begitu pembangunan moda tranportasi ini juga memberi dampak bagi penurunanan biaya logistik di tanah air.

Menurutnya pembangunan kereta api cepat ini harus benar-benar memilih teknologi yang sesuai untuk bisa dimanfaatkan dalam waktu jangka panjang. “Keputusan memilih teknologi sangat penting karena untuk keperluan jangka waktu puluhan hingga seratus tahun akan datang,” katanya.

Sedang Korea Rail Network Authority, Dr Park Dae Geuni mengatakan, di Korea saat ini tengah berupaya meningkatkan percepatan kereta api cepat dari sebelumnya 120 km per jam ditingkatkan menjadi 230 km per jam secara bertahap. Sementara untuk pembangunan lintas jalur kereta api yang ada saat ini sebagian besar sudah menggunakan jalur rel ganda. “Sekitar 60 persen jalur rel ganda dan 40 persen jalur rel tunggal,” ungkapnya.



Sumber: Suara Pembaruan