Dari 127 Komoditas Perkebunan, Baru 15 yang Sumbang PDB

Hamparan kebun kelapa sawit membentuk pola unik terlihat dari udara di Provinsi Riau, Kamis (3/4). (Antara/Anggoro)

Oleh: / WBP | Minggu, 10 Desember 2017 | 11:00 WIB

Yogyakarta- Kementerian Pertanian (kemtan) menyebutkan baru 15 komoditas dari total 127 komoditas perkebunan yang berkontribusi menyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) sektor tanaman perkebunan.

Dirjen Perkebunan Kemtan Bambang memaparkan sektor perkebunan pada 2016 menyumbang Rp 429 triliun terhadap PDB nasional. Jumlah tersebut melebihi migas yang hanya Rp 365 triliun. "Pendapatan kita dari Rp 429 triliun, baru berasal dari 15 komoditas, padahal sektor perkebunan punya 127 komoditas yang belum dikelola dengan baik," kata Bambang pada Peringatan HUT Ke-60 Perkebunan di Yogyakarta, Minggu (10/12).

15 komoditas yang telah menyumbang PDB perkebunan, antara lain kelapa sawit, kopi, kakao, kelapa, teh, vanili dan rempah-rempah seperti lada dan cengkeh.

Bambang menjelaskan sumbangan terbesar terhadap PDB nasional berasal dari komoditas minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) yakni lebih dari Rp 206 triliun.

Menurut dia, Indonesia harus memanfaatkan potensi sektor perkebunan di tengah komoditas energi fosil seperti batu bara dan migas yang mulai berangsur habis. Banyak negara lain yang menghendaki kejayaan perkebunan Indonesia.

Terkait itu, Kementerian Pertanian berupaya agar produk perkebunan nasional terbebas dari isu negatif di pasar dunia.

Hal senada disampaikan staf ahli Menteri Pertanian Bidang Lingkungan, Mukti Sardjono, yang menyebutkan bahwa ekspor minyak kelapa sawit Indonesia sudah lebih dari 20 juta ton. Namun, Indonesia harus lebih kuat mempromosikan produk yang berkelanjutan.

"Kita punya dasar CPO Indonesia lebih berkelanjutan dari Malaysia. Mereka melakukan promosi jauh lebih giat. Berita terakhir ISPO kita paling rendah kualitasnya," kata Mukti.

Mukti menambahkan CPO merupakan salah satu komoditas yang paling disoroti dari segi aspek lingkungan karena dinilai penyebab perusakan hutan (deforestasi) dan menghasilkan emisi gas rumah kaca yang berdampak pada perubahan iklim global.

Namun perluasan lahan yang paling besar justru ada pada komoditas kedelai dan bunga matahari seluas 150 juta hektare, sementara penggunaan lahan CPO Indonesia dan Malaysia disebut efisien karena hanya memakan luas 11,5 juta ha.




Sumber: ANTARA
ARTIKEL TERKAIT