Migrant Care: Usut Tuntas Kematian Adelina Lisao di Malaysia

Migrant Care: Usut Tuntas Kematian Adelina Lisao di Malaysia
Wahyu Susilo. ( Foto: Antara )
Siprianus Edi Hardum / EHD Selasa, 13 Februari 2018 | 11:13 WIB

Jakarta - Migrant Care meminta pemerintah Indonesia agar mendesak pemerintah Malaysia mengusut tuntas kematian migran Indonesia pekerja rumah tangga (PRT) asal Nusa Tenggara Timur (NTT), Adelina Lisao di Malaysia. Adelina meninggal dunia diduga karena diperlakukan seperti hewan dan dianiaya oleh majikannya.

Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Migrant Care, Wahyu Susilo, kepada SP, Selasa (13/2).  Wahyu mengatakan, perempuan muda tersebut tidak tertolong jiwanya setelah ditemukan dalam kondisi tidak berdaya di emperan halaman majikannya di kawasan Taman Kota Permai, Bukit Mertajam, Penang, Malaysia, Minggu (11/2).

Berdasarkan pengakuan Steven Sim Chee Kong, anggota Parlemen Malaysia dari bukit Pertajam yang menemukan kasus ini, korban sempat mengaku selama sebulan terakhir dipaksa tidur di luar rumah bersama anjing piaraan majikan, tidak diberi makan dan mengalami penganiayaan. “Dalam kondisi yang penuh luka, korban sempat dirawat di RS Bukit Mertajam namun akhirnya tidak tertolong jiwanya,” kata Wahyu.

Kematian Adelina memperpanjang daftar kematian buruh migran Indonesia asal NTT yang ditahun 2017 mencapai 62 orang.
Untuk itu, kata Wahyu, Migrant Care mendesak pengusutan tuntas kasus ini agar majikan mendapatkan hukuman yang setimpal atas kekejiannya.

Migrant Care juga mendesak ada pengusutan dugaan bahwa Adelina adalah korban perdagangan manusia. “Pemerintah Indonesia dalam hal ini Kementerian Ketenagakerjaan dan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) agar desak pemerintah Malaysia usut kasus ini,” kata dia.

Wahyu mengatakan, pernyataan pihak perwakilan RI di Penang (KJRI Penang dan KBRI Kuala Lumpur) bahwa Adelina adalah PRT migran Indonesia yang tidak berdokumen tidak boleh menjadi alasan untuk tidak menangani kasus ini. “Kasus ini harus dituntaskan sebagai bentuk komitmen perlindungan warga negara Indonesia yang ada di luar negeri,” kaya dia.

Dirjen Pembinaan Penempatan dan Perluasan Kesempatan Kerja, Kemnaker, Maruli Hasoloan Tambunan dan Kepala Biro Humas Kemnaker, Sahat Sinurat, ketika dikonformasi tidak menjawab.

Sementara itu juru bicara BNP2TKI, Servulus Bobo Riti, mengatakan, pihaknya masih berkoordinasi dengan perwakilan RI di Malaysia baik KBRI di Kuala Lumpur maupun KJRI di Penang untuk memastikan jalan cerita dari kasus itu.

Menurut Servulus, BNP2TKI sangat menyesalkan tindakan majikan yang sungguh tidak manusia kepada pekerja migran Indonesia ini. “Kami juga turut berduka atas meninggalnya korban,” kata Servulus.

Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Kabupaten Kupang mencatat, sebanyak 62 pekerja migran asal NTT meninggal dunia di sepanjang tahun 2017. Keseluruhan kasus yang terdata adalah pekerja migran yang meninggal dengan negara penempatan Malaysia.

Dilihat dari data yang terhimpun, penyebab kematian pekerja migran asal NTT di Malaysia adalah karena sakit, dengan persentase 45.2 persen. Penyebab lain kematian pekerja migran asal NTT yang juga cukup besar adalah tragedi karamnya kapal yang ditumpangi puluhan pekerja migran pada Januari 2017.

Dari data yang ada, tercatat 10 pekerja migran asal NTT yang teridentifikasi meningga dunia dalam tragedi tersebut. Ditinjau berdasarkan jenis kelamin, sebesar 66% adalah pekerja migran yang meninggal berjenis kelamin laki-laki. Sementara berdasarkan asal kabupatennya, jumlah paling banyak adalah pekerja migran yang berasal dari Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS).



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE