Jaringan listrik PLN
Ada penerapan sistem akuntansi baru di PLN, sehingga membuat laba bersih terlihat susut pada semester I tahun ini.

Laba bersih seluruh BUMN pada semester I-2012 diperkirakan mencapai Rp 65,43 triliun, turun Rp3,82 triliun atau 5,5 persen dibandingkan periode sama tahun lalu. Namun, pendapatan BUMN justru naik Rp89,47 triliun atau 13,84 persen menjadi Rp 735,74 triliun.

Sekretaris Menteri BUMN Wahyu Hidayat menuturkan, penurunan total perolehan laba bersih BUMN terutama disebabkan oleh tergerusnya laba bersih PT PLN akibat penerapan standar akutansi baru ISAK 8 terkait akuntansi sewa-menyewa yang menyebabkan kenaikan sangat signifikan terhadap beban akumulasi penyusutan dan beban bunga pinjaman.

Pada semester I-2012, PT PLN hanya mencatatkan laba bersih Rp1,04 triliun, turun drastis dari perolehan pada tahun lalu sebesar Rp6,55 triliun. Padahal, dari sisi penjualan, PLN mampu membukukan kenaikan pendapatan 19 persen dari Rp 93,33 triliun menjadi Rp111,19 triliun.

“Ada penerapan sistem akuntansi baru di PLN, sehingga membuat laba bersih terlihat susut pada semester I tahun ini,” ujar Wahyu kepada Investor Daily di Jakarta, belum lama ini.

Berdasarkan data yang dihimpun, pada semester I-2012, Kementerian BUMN memperkirakan perolehan laba bersih BUMN mencapai Rp65,43 triliun, turun Rp3,82 triliun dari semester I-2011 sebesar Rp69,25 triliun.

“Datanya masih bisa berubah karena belum semua BUMN menyampaikan laporan kinerjanya. Tapi ini cukup mewakili gambaran kinerja BUMN secara keseluruhan,” ujar Wahyu.

Perolehan laba terbesar hingga saat ini masih diraih oleh PT Pertamina, dengan laba bersih mencapai Rp12,95 triliun. Kendati demikian, laba bersih tersebut tercatat turun sekitar 12 persen dari Rp14,79 triliun pada semester I-2011. Namun, BUMN migas terbesar tersebut masih membukukan kenaikan penjualan sebesar 14,44 persen, dari Rp279,31 triliun pada semester I-2011 menjadi Rp319,63 triliun.

Selain kedua BUMN tersebut, BUMN pertambangan juga membukukan penurunan laba bersih cukup signifikan. Hal tersebut dinilai Wahyu wajar terjadi seiring penurunan harga-harga komoditas. “Itu wajar karena memang harga komoditas anjlok. Peraturan bea keluar dan royalti juga sedikit banyak mempengaruhi,” jelas dia.

Sedangkan kerugian yang diderita oleh BUMN tercatat terus menurun. Hingga semester I-2012, nilai kerugian BUMN tercatat sebesar Rp1,93 triliun, menyusut sebesar 47 persen dibandingkan periode sama tahun lalu. “Ke depan, jumlah kerugian tersebut diharapkan dapat semakin diminimalisir, baik melalui optimaliasi pendapatan maupun efisiensi biaya,” ungkap Wahyu.

Aset Naik Rp504 Triliun
Kinerja mengesankan juga terlihat dari pertumbuhan aset BUMN yang menggambarkan gencarnya upaya ekspansi. Untuk pertama kalinya, total aset BUMN mencapai Rp3.160,67 triliun atau naik 15,95 persen atau Rp504,28 triliun dalam setahun terakhir. Total ekuitas juga tercatat meningkat Rp62,79 triliun dari Rp651,88 triliun menjadi Rp714,67 triliun.

Seiring kenaikan aset dan penurunan laba bersih, return on asset (ROA) BUMN tercatat turun dari 2,61 persen menjadi 2,07 persen. Demikian pula dengan return on equity (ROE) dari 10,62 persen menjadi 9,16 persen.

Sebelumnya, Menteri BUMN Dahlan Iskan menuturkan, dari seluruh aset BUMN, hanya sekitar setengah atau sekitar Rp1.500 triliun yang tergolong aset produktif. Untuk itu, pihaknya telah meminta masing-masing BUMN untuk merapikan dan memproduktifkan aset-asetnya.

“Mengenai aset, kami sudah putuskan untuk diselesaikan dan sudah menunjuk Pak Wamen (Wakil Menteri Mahmuddin Yasin) untuk menjadi ketua tim dalam merapikan aset dan kami targetkan selesai pada akhir tahun ini,” ujar Dahlan beberapa waktu lalu.

Dahlan menuturkan, Kementerian BUMN mulai menata dan memilah aset BUMN yang produktif dan yang tidak. Setelah itu, manajemen masing-masing BUMN diminta mencari jalan keluar untuk mengelola aset-aset tidak produktif tersebut.

Guna menata aset BUMN tersebut, Kementerian BUMN telah menyisihkan anggaran sebesar Rp12 miliar. Anggaran tersebut diperoleh dari upaya efisiensi anggaran perjalanan dinas Kementerian BUMN yang semula Rp30 miliar kemudian disusutkan menjadi Rp18 miliar.

Dari seluruh BUMN, menurut Dahlan, terdapat lima BUMN yang memiliki aset tidak produktif terbesar, yakni PT Pertamina, PT Bulog, PT PLN, PT Perkebunan Nusantara, dan PT Kereta Api Indonesia.

Penulis: