Ilustrasi garam.
Pemerintah tidak mengizinkan impor garam konsumsi saat masa panen seperti sekarang.

Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyatakan, anjloknya harga garam di tingkat petani belakangan ini bukan akibat kebijakan impor.

Pemerintah tidak mengizinkan impor garam konsumsi saat masa panen seperti sekarang.

Menurut Plh Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kemendag Gunaryo, penyebab jatuhnya harga garam adalah kualitas garam lokal yang kurang bagus. "Yang ada saat ini kualitasnya tidak sesuai, jadi lebih ke arah kualitas," kata Gunaryo.

Kemendag kata dia, telah menghentikan impor garam konsumsi sejak akhir Juni lalu menyusul masa panen garam yang terjadi pada Agustus hingga Oktober tahun ini.

Dia mengatakan, kebutuhan garam konsumsi Indonesia tahun ini sebesar 1,4 juta ton yang mampu dipenuhi petani dalam negeri sebesar 1,1 jutan ton, sedangkan sisanya impor.

Adapun kebutuhan garam industri mencapai 1,8 juta ton yang sepenuhnya impor. Hal ini terjadi karena produksi dalam negeri belum mampu memenuhi spesifikasi garam impor.

"1,4 juta ton kon kita mampu penuhi 1,1 juta ton, 1,8 juta ton industri, sejauh ini belum ada temuan kebocoran industri," kata Gunaryo.

Namun penghentian impor ini hanya untuk garam konsumsi, bukan garam industri. Tak heran, ada indikasi  garam industri bocor ke pasaran yang menyebabkan harga garam di tingkat petani anjlok.

Penulis: