Dua orang nelayan memindahkan hasil tangkapan ikan Teri Lengkuru dari kapal di Pelabuhan Perikanan Nusantara Prigi, Kecamatan Watulimo, Prigi, Trenggalek,  Banyaknya nelayan yang tidak melaut akibat cuaca buruk mengakibatkan harga ikan teri lengkuru naik tiga kali lipat per kuital nya dengan harga Rp100.000 menjadi Rp300.000. FOTO :  ANTARA/M Risyal Hidayat.
Saat ini masih ada peraturan daerah yang menghambat pengembangan sektor kelautan di Indonesia.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berjanji akan memangkas regulasi khususnya di daerah yang tidak mendukung bisnis sektor kelautan dan perikanan.

"Ke depan, kami mengupayakan regulasi yang probisnis," kata Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan KKP, Saut Hutagalung, dalam Rakernas Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia di Jakarta, hari ini.

Saut menyatakan, KKP akan melakukan harmonisasi regulasi di tingkat pusat maupun daerah sehingga meghasilkan kebijakan yang probisnis. Langkah ini penting, agar semakin banyak investor yang masuk Indonesia.

Saut mengakui, saat ini masih ada peraturan daerah yang menghambat pengembangan sektor kelautan di Indonesia. Sayangnya dia tidak menyebutkan secara detil regulasi yang dimaksud. 

Dia hanya mengungkapkan, banyak pungutan di tingkat provinsi atau kabupaten/kota. "Saat ini masih banyak pungutan di daerah," katanya.

KKP juga akan meningkatkan insentif fiskal untuk aktivitas di sektor kelautan dan perikanan. 'Provinsi yang berbentuk kepulauan harus diberi porsi lebih," kata dia.

Ketua Umum Asosiasi Pengolahan Produk Perikanan dan Pemasaran Indonesia (AP5I) Thomas Darmawan mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan asosiasi sejenis di negara lain di kawasan ASEAN.
 
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) belum lama ini menetapkan Pulau Morotai, Maluku Utara, menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang diharapkan bisa menjadi simpul akses bisnis penting di kawasan Asia Pasifik.
 
Dengan demikian, kata Presiden, Morotai bersama-sama dengan Bitung (Sulawesi Utara), dan Biak (Papua Barat), akan dapat menjadi serambi terdepan Indonesia di Samudera Pasifik.
 
 

Penulis: