Ilustrasi kertas suara
Ini dilakukan terkait Blue Ocean Marketing Strategy kami. Jadi, kita tidak masuk ke produk yang sudah dibuat oleh kompetitor.

Setelah dua tahun vakum, PT Kertas Leces (Persero) mulai memproduksi kertas kelas premium yang menghasilkan marjin keuntungan tinggi.
 
"Produk inovatif ini memiliki marjin tinggi, dan belum pernah dilakukan perusahaan kertas lain di Indonesia," kata Direktur Utama Kertas Leces, Budi Kusmarwoto,  di Jakarta, Selasa (24/10).

Dia mengatakan, kertas premium ini memiliki marjin yang signifikan, dibandingkan dengan perusahaan kertas yang memproduksi kertas tulis cetak seperti HVS, HVO, photo copy.

"Bulan depan, kami mulai ekpor ke salah satu negara. kami menjauhi pasar-pasar yang sudah dimasuki pabrikan kertas lain," katanya. 

Langkah inovasi ini dipilih untuk meningkatkan performa perusahaan pelat merah ini sekaligus membuktikan kepada pemegang saham, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bahwa Kertas Leces mampu beroperasi tanpa penyertaan modal negara (PMN). 
 
"Semuanya ini dilakukan terkait Blue Ocean Marketing Strategy kami. Jadi, kita tidak masuk ke produk yang sudah dibuat oleh kompetitor," ungkap Budi.
 
Untuk memproduksi kertas premium Budi mengakui, perseroan harus memiliki mesin dengan tingkat kekhususan tersendiri. Selain itu, perseroan telah mendapatkan fasilitas kredit dari lembaga keuangan senilai Rp50 miliar.
 
"Kita punya opsi beberapa mesin, tiap mesin punya karakter yang bisa untuk produksi kertas premium dan memang spesifik," ujarnya.
 
PT Kertas Leces merupakan BUMN pabrik kertas di Indonesia yang menggunakan bahan baku kertas bekas dan ampas tebu. 
 
Saat ini kapasitas terpasangnya mencapai 640 ton per hari dengan produksi berbagai jenis kertas, antara lain kertas tulis cetak (HVS, HVO, Photo Copy), kertas koran dan kertas industri.
 
 

Penulis: