BeritaSatu.com

Hidup Anda bisa seindah pelangi
Jika Anda pandai mewarnai.
Kami datang setiap hitungan detik,
membawa aneka ragam informasi.

Beritasatu.com mewarnai hidup Anda
dengan informasi aktual-penuh makna.
Beritasatu.com sumber informasi terpercaya.
Close
    Beritasatu menerima blog karya Anda. Kirimkan ke blog@beritasatu.com

    Rumitnya Urbanisasi: Baik atau Buruk untuk Kota? (Bagian I)

    Jumat, 10 Februari 2012 | 10:35

    Akhir-akhir ini, saya banyak berpikir tentang masalah urbanisasi. Kalau tidak salah, saya pertama kali mendengar kata urbanisasi ketika masih SD. Waktu itu, saya ingat diajarkan definisi kata tersebut hanya sekilas, sebagai hafalan untuk pelajaran IPS. Saya sama sekali tidak menyangka bahwa di balik definisi tersebut terdapat sebuah fenomena yang begitu menarik dan rumit.

    Banyak perbedaan pendapat mengenai urbanisasi. Ada yang mengatakan bahwa urbanisasi harus terus ditingkatkan. Ada juga yang berpendapat bahwa urbanisasi itu berbahaya dan justru harus dikurangi. Namun, kedua pihak sama-sama mengakui bahwa pengaruh urbanisasi terhadap kehidupan perkotaan sangat besar dan harus diperhatikan.

    Namun, jawaban yang setengah-setengah tersebut tidak cukup bagi para pembuat kebijakan dan urban planner. Mereka harus mengambil sikap yang pasti tentang urbanisasi: baik atau buruk? Kita ambil contoh Jakarta, ibu kota yang juga merangkap pusat kegiatan ekonomi di Indonesia.

    Apakah urbanisasi ke Jakarta perlu dikurangi atau justru ditambah? Ini bukan pertanyaan yang bisa dijawab dengan mudah, karena dampak urbanisasi begitu luas dan begitu berbeda untuk berbagai aspek kehidupan kota.

    Mari kita mulai dengan melihat dampak negatif urbanisasi. Apabila jumlah pendatang baru terus meningkat, apa sajakah hal buruk yang bisa terjadi?

    Hampir semua dampak negatif yang sering dibicarakan adalah dampak yang berhubungan dengan supply dan demand. Urbanisasi yang tinggi akan menyebabkan demand terhadap sumber daya dan fasilitas yang tersedia kota meningkat dengan cepat, sedangkan supply sumber daya tersebut akan relatif konstan dalam jangka pendek karena supplier tidak sempat bereaksi. Maka, sumber daya tersebut akan semakin langka dan biaya untuk memperolehnya akan naik.

    Contoh pertama: perumahan. Dengan urbanisasi yang meningkat, permintaan untuk tanah, rumah jadi, dan rumah/kamar sewaan juga akan meningkat. Ini akan menyebabkan harga jual dan sewa properti naik dengan cepat.

    Contoh kedua adalah sektor transportasi. Urbanisasi yang meningkat mengakibatkan jumlah pengguna sarana transportasi naik, baik kendaraan pribadi maupun transportasi publik.

    Meningkatnya jumlah pengguna kendaraan pribadi akan menyebabkan kemacetan yang semakin buruk, sedangkan meningkatnya jumlah pengguna transportasi umum akan membuat bus dan kereta semakin penuh sesak, dan penumpang harus menunggu lebih lama untuk mendapatkan tempat di dalam kendaraan. Maka, “biaya” transportasi  dalam bentuk waktu tempuh dari titik A ke titik B akan naik.

    Kelangkaan yang muncul akibat urbanisasi yang tinggi tidak terbatas pada perumahan dan transportasi. Persediaan air bersih, kapasitas sekolah, lapangan kerja, semua berpotensi dibuat langka karena tingkat urbanisasi yang tinggi.

    Semua dampak negatif ini seolah mengarahkan kita pada kesimpulan bahwa urbanisasi itu buruk dan berbahaya. Namun, menurut saya urbanisasi memiliki lebih banyak dampak positif. Salah satu manfaat urbanisasi untuk kota tujuan adalah meningkatnya kegiatan ekonomi. Pendatang baru yang meningkatkan demand terhadap semua fasilitas tidak selalu buruk, karena peningkatan demand tersebut akan meningkatkan pendapatan produsen dalam kota.

    Selain itu, para pendatang tidak hanya menjadi konsumen, tapi juga menjadi tenaga kerja dan produsen. Para pendatang tidak hanya mengambil lapangan kerja yang ada; kadang, justru para pendatang yang menciptakan lapangan kerja baru, baik secara langsung (membuka usaha) maupun tidak langsung (menyediakan tenaga kerja murah untuk pabrik baru). Ini semua berpotensi untuk menggerakkan roda perekonomian di dalam kota dan menghasilkan pertumbuhan.

    Kepadatan penduduk yang tinggi juga telah memicu inovasi untuk meningkatkan efisiensi dalam kehidupan perkotaan. Salah satu contohnya adalah efisiensi spasial dalam tempat tinggal seperti apartemen dan bangunan vertikal lainnya.

    Banyak kota besar di dunia yang telah membangun apartemen dan rumah susun sejak puluhan tahun yang lalu karena mengantisipasi pertumbuhan kepadatan penduduk. Sistem perumahan seperti ini lebih ramah lingkungan karena penggunaan tanah per kapita jauh lebih rendah. Ini juga mempermudah tata kota secara keseluruhan.

    Contoh lainnya adalah inovasi sektor transportasi massal seperti mass rapid transit (MRT) yang hanya muncul di kota yang jumlah penduduknya sangat tinggi. Inovasi ini tidak akan terjadi apabila tidak ada tekanan dari membengkaknya jumlah penduduk akibat urbanisasi.

    Dari uraian cost dan benefit di atas, terlihat jelas bahwa sisi negatif dan positif dari urbanisasi sangat berhubungan. Semua potensi positif dari urbanisasi berasal dari inovasi untuk mengatasi dampak negatifnya. Apabila pemerintah mampu memanfaatkan urbanisasi melalui inovasi tersebut, maka urbanisasi bisa menjadi aset yang berharga.

    Sebaliknya, apabila pemerintah memiliki kapasitas inovasi yang rendah, urbanisasi hanya akan menjadi sumber masalah yang memperburuk kehidupan di dalam kota tersebut.

    Maka, inilah yang harus dipertimbangkan oleh perencana urban dalam mengambil sikap terhadap urbanisasi: apakah pemerintah memiliki kapasitas untuk berinovasi?

    Untuk kasus Jakarta, terlihat bahwa kapasitas inovasi pemerintah kurang. Kepadatan penduduk yang sangat tinggi dari puluhan tahun yang lalu sebenarnya ideal untuk membangun perumahan vertikal.

    Namun, lemahnya kapasitas pemerintah dalam tata kota menyebabkan kompleks perumahan horizontal yang justru berkembang, sehingga terjadi urban sprawl tidak terkendali dan penggunaan tanah yang tidak efisien. Hal yang sama berlaku untuk sistem transportasi yang tidak dibangun dengan baik sampai sekarang.

    Urbanisasi memang rumit dan menarik. Dan ini bahkan belum berbicara tentang urbanisasi dari perspektif individu yang pindah! Ya, mungkin pembahasan itu untuk lain kali saja.

    Blog Author
    Taufik Indrakesuma
    Taufik Indrakesuma
    Ekonom dan Pecinta Musik
    Taufik Indrakesuma adalah anggota White Margin-kumpulan tiga orang ekonom muda-yang bekerja di Singapura sebagai peneliti di proyek Asian Trends Monitoring. Seorang penggila mikroekonomi, terutama teori-teori behavioral economics. Taufik terinspirasi menulis setelah membaca buku-buku seperti "Freakonomics" dan "The Undercover Economist". Selain hobinya mengeluh nonstop di blogosphere dan Twitter (@fikkyfikky untuk pribadi dan tentunya @WhiteMargin), Taufik juga gemar bermain musik dan menonton Liverpool FC.
    Total post : 17 | lihat semua post