BeritaSatu.com

Hidup Anda bisa seindah pelangi
Jika Anda pandai mewarnai.
Kami datang setiap hitungan detik,
membawa aneka ragam informasi.

Beritasatu.com mewarnai hidup Anda
dengan informasi aktual-penuh makna.
Beritasatu.com sumber informasi terpercaya.
Close
    Beritasatu menerima blog karya Anda. Kirimkan ke blog@beritasatu.com

    Mewujudkan Kemandirian dan Ketahanan Pangan

    Sabtu, 29 Desember 2012 | 11:15

    Salah satu masalah serius yang dihadapi bangsa kita adalah kemandirian dan ketahanan pangan. Sebagai negara yang dikaruniai sumberdaya alam pertanian yang subur, bangsa kita justru menghadapi persoalan ketahanan dan kemandirian pangan.

    Hal ini bisa kita lihat dari data statistik BPS atas ketergantungan produk pangan impor, antara lain sebesar 100% untuk impor gandum, 60% untuk kedelai, 70% susu, 54% kebutuhan gula, dan sekitar 30% kebutuhan daging sapi. 

    Dalam rangka mencukupi permintaan dalam negeri, produk pangan tersebut sebagian besar dikirim dari negara-negara penghasil terbesar di dunia. Berdasarkan persentase, khusus untuk kebutuhan impor jagung dan beras tidak terlalu besar, yakni hanya 11% (2 juta ton impor) dari 18 juta ton produksi jagung nasional serta sebesar 5% (2 juta ton impor) dari 39 juta ton produksi beras nasional.

    Tentu saja pemerintah sudah banyak berbuat dalam upaya mengatasi kemandirian dan ketahanan pangan tersebut, meski perkembangannya masih belum optimal. Pemerintah sudah menargetkan menuju swasembada pada tahun 2014 untuk 5 (lima) komoditas pangan strategis, yaitu beras, jagung, kedelai, gula, dan daging sapi.

    Ibarat pepatah, mempertahankan itu lebih sulit daripada membangun. Itulah tampaknya yang terjadi dengan pencapaian pembangunan sektor pertanian, khususnya beras dan gula. Indonesia pernah mencapai swasembada beras selama satu dasawarsa sejak 1983 sampai tahun 1994 yang kemudian harus impor beras sampai sekarang.

    Sekarang ini, tantangan sektor pertanian kian kompleks. Karena tantangan yang harus dijawab tidak saja bagaimana kita mampu meningkatkan produksi dalam rangka menjaga ketahanan dan keamanan pangan, tetapi lebih dari itu, yakni juga menyangkut bagaimana meningkatkan kesejahteraan terhadap pelaku dalam sektor pertanian pangan, seperti membuka lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan petani.

    Harus diakui bahwa kebijakan sektor pertanian lebih banyaj diprioritaskan pada aspek produksi untuk memenuhi kebutuhan konsumen, sementara kesejahteraan dan kebutuhan petani justru masih terpinggirkan.

    Karena politik pangan yang berpihak pada konsumen, maka orientasi pemenuhan kebutuhan konsumen juga bersifat pragmatis. Misalnya, untuk menutup kekurangan kebutuhan domestik, maka  pemenuhan kebutuhan konsumsi dengan mudah kita lakukan dengan impor, seperti beras, daging, susu, kedelai, gula, jagung, dan buah-buahan.

    Namun perlu disadari, menurut badan pangan dunia (FAO) ketergantungan pasokan pangan impor bagi negara berpenduduk lebih besar dari 100 juta, akan membuat bangsa itu susah maju dan mandiri.

    Dalam rangka mewujudkan peningkatan ketahanan pangan, setidaknya ada lima kegiatan pokok, yakni pengawalan ketahanan pangan lewat produksi dalam negeri melalui optimalisasi lahan sawah (terutama di daerah irigasi), perluasan lahan pertanian, peningkatan mutu intensifikasi, perbaikan pascapanen, dan percepatan diversifikasi konsumsi pangan.

    Untuk membangkitkan pertanian dalam upaya perwujudan kedaulatan pangan yang berkelanjutan, pemerintah harus memiliki tiga agenda utama yakni mencegah alih fungsi lahan, melakukan reforma agraria, dan mendorong percepatan perluasan lahan pertanian tanaman pangan.

    Konversi lahan pertanian, khususnya sawah, untuk keperluan nonpertanian terus terjadi seolah tanpa kendali. Hal itu akan sangat berpengaruh terhadap ketahanan pangan nasional. Apalagi, konversi justru banyak terjadi di daerah-daerah yang menjadi sentra produksi beras nasional.

    Ketersediaan lahan, menjadi pilar paling penting dalam penguatan ketahanan pangan dan penggerak ekonomi masyarakat. Lahan merupakan sarana penting dalam peningkatan ketersediaan pangan.

    Untuk mengatasi alih fungsi lahan, selain harus melakukan pecetakan lahan sawah baru, juga mendorong dilakukan reforma agraria. Kepemilikan lahan-lahan pertanian untuk kepentingan yang lebih produktif dan merata harus lebih diutamakan. Pemusatan kepemilikan lahan-lahan yang cenderung tidak produktif akan merugikan perekonomian dan rakyat sendiri.

    Ditengarai banyak sekali lahan lahan tidur yang selama ini tidak produktif padahal lahan-lahan itu dapat mengatasi masalah peningkatan produksi pangan baik melalui ekstensifikasi atau perluasan areal tanam.

    Ketahanan pangan juga dapat dilakukan melalui peningkatan mutu intensifikasi, perbaikan pascapanen, dan percepatan diversifikasi konsumsi pangan. Peningkatan produksi pangan juga dapat dilakukan melalui peningkatan produktivitas atau intensifikasi seperti penggunaan benih unggul, pemupukan berimbang, pengendalian hama terpadu, dan efisiensi pemanfaatan air. Namun yang lebih penting adalah bagaimana kita memiliki konsep pertanian masa depan yang bisa mewujudkan pertanian yang kompetitif.

    Kegiatan lain yang juga dapat menyumbang pada penyediaan pasokan dari domestik adalah pengurangan kehilangan hasil saat panen dan pascapanen melalui introduksi alat mesin pertanian, termasuk teknologi penggilingan padi. Selain itu, perlu melakukan rehabilitasi sarana irigasi yang saat ini kondisinya sudah sekitar 40 persen rusak dan peningkatan indeks pertanaman melalui efisiensi pemanfaatan air.

    Diversifikasi Pangan
    Tantangan lain adalah diversifikasi pangan, baik dari sisi produksi maupun konsumsi. Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang merupakan potensi yang bisa menguntungkan pertanian Indonesia.

    Indonesia memiliki beberapa komoditas pangan, yang dapat dikembangkan sebagai komoditas pangan nasional. Diversifikasi produksi pangan ini bisa dilakukan melalui pengembangan pangan karbohidrat khas Nusantara spesifik lokasi seperti sukun, talas, garut, sagu, jagung dan lain-lain.

    Pengembangan produk (product development) melalui peran industri pengolahan untuk meningkatkan cita rasa dan citra produk pangan khas nusantara (image product) dan peningkatan produksi dan ketersediaan sumber pangan protein (ikan, ternak) dan zat gizi mikro (hortikultura).

    Diversifikasi konsumsi pangan terkait dengan upaya mengubah selera dan kebiasaan makan. Karena itu, pokok kegiatan ini berupa peningkatan pengetahuan, sosialisasi, dan promosi mengenai pola pangan beragam, bergizi, berimbang.

    Pendekatan pengembangan diversifikasi konsumsi pangan jangan diidentikkan dengan ke-giatan pengentasan kemiskinan, tetapi merupakan upaya perbaikan konsumsi gizi dan kesehatan.

    Dengan mengonsumsi pangan yang lebih beragam, bergizi, dan dengan kandungan nutrisi yang berimbang, maka kualitas kesehatan akan semakin baik. Hasil ikutannya adalah, konsumsi beras per kapita diharapkan menurun. Hasil ikutan ini sama pentingnya dengan pencapaian tujuan utamanya tadi.

    Apabila upaya-upaya tersebut di atas berhasil dilakukan maka produksi padi dan pangan sumber karbohidrat lain serta protein dan zat gizi mikro akan semakin meningkat, konsumsi beras per kapita akan menurun, dan kualitas konsumsi pangan masyarakat akan semakin beragam, bergizi, dan berimbang.

    Komentar
    Artikel ini belum lengkap tanpa pendapat Anda. Kirim komentar Anda.
    Loading komentar...
    Blog Author
    Aunur Rofiq
    Aunur Rofiq
    Politisi DPP PPP
    Sekarang menjadi Ketua Bidang Ekonomi dan Kewirausahaan DPP PPP, Pembina Himpunan Pengusaha Santri Indonesia, praktisi Bisnis Perkebunan dan Pertambangan. Aunur Rofiq bisa dihubungi di: aunur_ro@gmail.com
    Total post : 18 | lihat semua post