BeritaSatu.com

Hidup Anda bisa seindah pelangi
Jika Anda pandai mewarnai.
Kami datang setiap hitungan detik,
membawa aneka ragam informasi.

Beritasatu.com mewarnai hidup Anda
dengan informasi aktual-penuh makna.
Beritasatu.com sumber informasi terpercaya.
Close
    Beritasatu menerima blog karya Anda. Kirimkan ke blog@beritasatu.com

    Strategi Dan Arah Kebijakan Ekonomi 2013

    Kamis, 10 Januari 2013 | 08:30

    Di tengah berlanjutnya krisis di negara-negara Eropa dan Amerika Serikat, perekonomian Indonesia tahun 2012 menunjukkan kinerja yang cukup menggembirakan. Dalam nota keuangan APBNP 2012, kondisi makro ekonomi diperkirakan tidak akan banyak mengalami perubahan, yakni target pertumbuhan ekonomi dipatok sekitar 6,5% lebih rendah dari target sebelumnya 6,7%.

    Inflasi naik menjadi 6,8% dari sebelumnya 5,3%. Sementara suku bunga SPN 3 bulan turun dari 6% menjadi 5%, dan nilai tukar rupiah melemah menguat dari Rp 8.800 menjadi Rp 9.000 per dollar AS. Harga minyak naik dari semula 90 US$/barel menjadi 105 US$/barel dan target lifting minyak turun dari 950 ribu barel perhari menjadi 930 ribu barel perhari.

    Optimisme terhadap kondisi perekonomian akan terus berlanjut seperti terlihat dari target dalam APBN 2013, yakni pertumbuhan ekonomi sebesar 6,8%, inflasi dan suku bunga SBI 3 bulan, masing-masing sebesar 4,5% dan 5%. Nilai tukar rupiah Rp 9.300 per dollar AS dan harga minyak ditetapkan sebesar 100US$/barel dengan lifting minyak  900 barel perhari serta lifting gas bumi sebesar 1.360 barel perhari.

    Sementara itu, Bank Indonesia (BI) memperkirakan neraca pembayaran Indonesia pada akhir tahun 2012 akan mencatatkan surplus. Sehingga pada akhir tahun nanti diperkirakan juga akan mengerek posisi cadangan devisa. Defisit transaksi berjalan pada kuartal II-2012 melebar menjadi 6,9 miliar dollar AS (3,1 persen dari PDB). Angka ini lebih tinggi daripada defisit pada kuartal I-2012 yang sebesar 3,2 miliar dollar AS. Neraca pembayaran RI akan kembali surplus. Perkiraan kita sekitar 1 miliar dollar AS. Itu bisa terjadi di kuartal III-2012 ini.

    BI sendiri memproyeksikan defisit neraca pembayaran sebesar 2 persen dari PDB pada akhir tengah tahun ini. Kondisi tersebut sehubungan dengan transaksi modal dan finansial yang meningkat akibat penanaman modal asing yang kian membesar.

    Surplus neraca pembayaran bakal terjadi sebagai akibat aliran dana asing yang kembali masuk ke Indonesia yang jumlahnya lebih besar dari defisit neraca perdagangan dan jasa. Sebagian besar dana asing tersebut diperkirakan dalam bentuk investasi asing langsung (FDI), dan lebih besar dari yang masuk ke saham dan surat berharga negara.

    Sementara itu, bank sentral juga mencatat besaran cadangan devisa RI sendiri sempat memuncak pada April 2012, sebesar 114,93 miliar dollar AS. Kemudian seiring dengan defisit neraca pembayaran Indonesia dan kondisi nilai tukar yang melemah, cadangan devisa tergerus menjadi 106,55 miliar dollar AS per akhir Juli.

    Sementara itu, kinerja sektor perbankan hingga pertengahan tahun ini juga menununjukkan stabilitas yang tetap terjaga dengan fungsi intermediasi yang semakin kuat dalam mendukung pembiayaan perekonomian. Hal tersebut dapat ditinjau dari sejumlah indikator indikator kinerja industri perbankan seperti tingginya rasio kecukupan modal (CAR/Capital Adequacy Ratio) yang berada jauh di atas minimum 8 persen dan terjaganya rasio kredit bermasalah (NPL/Non Performing Loan) gross di bawah 5 persen. Artinya indikator tersebut menandakan perbankan di Indonesia dalam situasi yang baik.

    Lalu, intermediasi perbankan juga terus membaik, tercermin dari pertumbuhan kredit yang hingga akhir Juni 2012 mencapai 25,8 persen (yoy). Kredit investasi tumbuh cukup tinggi, sebesar 29,1 persen (yoy), sedangkan kredit modal kerja dan kredit konsumsi masing-masing tumbuh sebesar 28,2 persen (yoy) dan 19,6 persen (yoy) (Bank Indonesia, 2012). Dengan berbagai perkembangan di industri perbankan ini, diharapkan kapasitas perekonomian ke depan dapat semakin meningkat.

    Dari sisi investasi, Indonesia meraih predikat sebagai negara layak investasi (investment grade) dari lembaga pemeringkat internasional.  Dengan predikat terbaru itu, kini Indonesia bakal diperhitungkan para investor asing yang ingin menanamkan modalnya ke suatu kawasan. Target investasi tahun ini diperkirakan bisa terlampui dari yang ditargetkan sebesar Rp283,5 triliun. Kondisi perekonomian yang tetap tumbuh positif dalam tahun 2013, diperkirakan mampu meningkatkan investasi yang ditargetkan sebesar Rp390 triliun atau tumbuh sekitar 37 persen dibandingkan tahun ini.

    Tahun 2013 akan menjadi tahun yang penuh tantangan, meskipun peluang masih sangat terbuka dalam mempertahankan kinerja ekonomi yang dicapai pada tahun 2012. Setidaknya ada tiga tantangan yang perlu diwaspadai pada tahun 2013 yang bisa mempengaruhi kinerja ekonomi.
    Pertama, masih berlarutnya krisis sejumlah negara di Eropa dan Amerika. Amerika masih dihadapkan pada defisit fiskal dan defisit perdagangan yang besar. Pemerintahan Obama berjuang untuk menaikkan tarif pajak bagi orang kaya guna menekan jurang deficit fiscal yang besar. Kebijakan ini  akan menimbulkan kontraksi, terutama konsumsi dalam negeri AS, sehingga bisa menjadi pukulan bagi ekspor ke negara paman sam tersebut.

    Kedua, konsekuensi perlambatan ekonomi Eropa dan Amerika akan memukul target pertumbuhan ekonomi tahun 2012 yang diperkirakan menurun sedikit meski masih dalam kisaran diatas 6 persen. Kondisi ini diperkirakan masih akan terus berlanjut  pada tahun 2013, dan target pertumbuhan ekonomi tahun 2013 juga akan menurun lagi.

    Ketiga, ditengah pencapaian kinerja ekonomi, terutama pertumbuhan ekonomi secara konsisten di bandingkan negara-negara lain di dunia, negara kita masih menghadapi masalah kualitas pertumbuhan ekonomi yang menyebabkan rendahnya kemampuan menyerap tenaga kerja dan pemerataan.

    Kuatnya fundamental ekonomi dan besarnya potensi ekonomi Indonesia untuk tetap tumbuh positif dalam tahun 2013, terutama didorong oleh dua mesin utama pertumbuhan yakni konsumsi domestik dan investasi. Peran konsumsi domestik bahkan memegang peranan penting, sehingga mampu menjadi bantalan terhadap dampak penurunan ekonomi dunia. Investasi juga tumbuh positif.  Dalam dua tahun terakhir realisasi investasi telah meningkat pesat.

    Strategi dan Arah Kebijakan
    Masih tingginya kerentanan ekonomi global tahun 2013, diperlukan strategi dan arah kebijakan yang tepat, terutama agar mesin perekonomian semakin tumbuh secara berkualitas. Selain ditopang oleh konsumsi masyarakat dan investasi, pengeluaran pemerintah (anggaran negara) juga harus dapat menggerakkan perekonomian. Pengeluaran pemerintah ikut berperan besar dalam mendorong perekonomian jika alokasi anggaran negara tidak banyak bocor (dikorupsi) dan pencairan proyek yang tepat waktu dan benar-benar terserap.

    Sementara itu, kegiatan investasi riil untuk penambahan kapasitas produksi dan pembangunan infrastruktur perlu terus didorong sehingga pencapaian pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak menimbulkan tekanan inflasi. Demikian pula, penciptaan lapangan kerja dan pengentasan kemiskinan dapat terus berlanjut.

    Kebijakan makroekonomi, kebijakan fiskal Pemerintah dan kebijakan moneter Bank Indonesia perlu diarahkan untuk dapat menyetimulus perekonomian khususnya dari sisi permintaan dengan tetap menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Bank Indonesia perlu menempuh langkah-langkah untuk mempercepat penurunan suku bunga perbankan dalam rangka mendorong penyaluran kredit dan pembiayaan lain bagi dunia usaha.  

    Pemerintah juga harus mempercepat berbagai program yang selama ini telah dicanangkan untuk peningkatan investasi dan infrastruktur, khususnya dalam Master Plan untuk Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI).

    Kebijakan perdagangan juga harus diarahkan untuk memperluas penetrasi pasar ekspor Indonesia khususnya ke negara-negara emerging economies yang masih tumbuh kuat, baik di Asia, Afrika maupun Amerika Latin. Sementara kebijakan perindustrian diarahkan untuk mampu mendorong peningkatan industri dalam negeri dalam memenuhi kebutuhan permintaan dalam negeri perlu ditingkatkan. Termasuk di dalamnya adalah peningkatan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) maupun sektor informal yang telah terbukti mempunyai ketahanan yang tinggi dan mampu sebagai penyangga yang kuat bagi perekonomian nasional, khususnya dalam masa-masa krisis.
     

    Komentar
    Artikel ini belum lengkap tanpa pendapat Anda. Kirim komentar Anda.
    Loading komentar...
    Blog Author
    Aunur Rofiq
    Aunur Rofiq
    Politisi DPP PPP
    Sekarang menjadi Ketua Bidang Ekonomi dan Kewirausahaan DPP PPP, Pembina Himpunan Pengusaha Santri Indonesia, praktisi Bisnis Perkebunan dan Pertambangan. Aunur Rofiq bisa dihubungi di: aunur_ro@gmail.com
    Total post : 18 | lihat semua post