Makna Toleransi

Cover majalah LIFE Maret 1966 berjudul “The Crime of Being Married,” membahas pernikahan Mildred, seorang kulit hitam, dengan Richard Loving, kulit putih. Pernikahan antar ras di Virginia, USA saat itu dianggap melanggar hukum sehingga mereka dijatuhi hukuman penjara satu tahun. Pada akhirnya hukum ini dibatalkan, tetapi mereka sempat mendekam di penjara.

Pertikaian antar ras terjadi sepanjang sejarah. Dari urusan pernikahan, hasutan politik, kerusuhan di kota-kota, hingga usaha memusnahkan satu ras seperti yang dilakukan Hitler. Padahal ilmu pengetahuan menemukan bahwa seluruh dunia berasal dari satu perempuan. Hasil penelitian DNA dari Alan R. Templeton menyatakan bahwa secara genetik, tidak ada yang namanya “ras” (kulit putih, kulit hitam, mongoloid dll). Perbedaan terjadi karena lingkungan dan pernikahan selama berabad-abad.

Jadi, rasisme diskriminasi dan hasutan SARA adalah masalah uang, kekuasaan dan wilayah, bukan ilmu pengetahuan. Bukti lain, karena tidak ada urusan uang, kekuasaan dan wilayah, perbedaan SARA di antara tetangga saya sama sekali tidak menimbulkan masalah.

Semua Adalah Tetangga
Liburan Lebaran tahun lalu saya bertamu ke rumah mantan tetangga masa kecil saya. Kami dulu tinggal di kompleks yang sama, dari umur empat tahun hingga SMA. Saya masih ingat saat malam bulan purnama, kami bermain mainan tradisional Jawa beramai-ramai di luar rumah. Dia mengajari saya main sepatu roda, skateboard dan memanjat pohon. Lalu kami cari cacing untuk menakut-nakuti asisten rumah tangga kami. Kalau si mbak teriak, kami tertawa terbahak-bahak. Sungguh menyenangkan memiliki tetangga yang ramah dan baik. Saya masih ingat, di saat-saat keluarga kami sangat membutuhkan, mereka datang untuk mendukung. Saat Lebaran dan Natal tiba, kami rayakan bersama-sama.

Sebuah studi dalam Journal of Happiness Studies memantau kesehatan dan kebahagiaan 804 orang dalam jangka waktu 32 tahun. Ternyata, hubungan sosial yang positif di saat kanak-kanak dan masa remaja penting untuk kesejahteraan di masa dewasa. Tetapi bukan itu saja, hubungan tetangga yang baik telah membuat kami menjadi orang-orang yang penuh toleransi. Mungkin karena kami mengenal dari dekat, dan tidak melihat seseorang dari jauh lalu memasang “label” tertentu padanya sesuai latar belakangnya.

Sebenarnya, “tetangga” bukan hanya orang-orang di dekat kita saja, melainkan orang-orang yang bersama-sama kita mendiami dunia ini. Kalau saja kita lebih fokus pada persamaan dan bukan perbedaan, dunia akan menjadi tempat yang lebih damai.

Pentingnya Perbedaan
Menurut hasil penelitian dari berbagai ilmuwan, bergaul dengan orang yang berbeda justru membuat kita lebih pandai. Dalam interaksi itu, seseorang mengantisipasi pandangan yang berbeda, mendapat informasi dan ide yang berbeda, sehingga menjadi lebih kreatif dan inovatif.

Orlando Richard, profesor management dari University of Texas meneliti 177 bank, ternyata bank yang inovatif terdiri dari orang-orang dengan ras yang berbeda. Richard Freeman, profesor ekonomi dari Harvard meneliti 1,5 juta tulisan ilmiah, ternyata tulisan yang ditulis oleh kelompok dengan perbedaan ras memiliki dampak lebih besar daripada yang ditulis oleh kelompok etnis yang sama. Biarlah perbedaan memperkaya, bukan memisahkan kita.

Tetapi orang yang merasa tidak aman (insecure) takut pada perbedaan. Salah satu alasannya karena mereka membutuhkan pengakuan dari orang lain. Sehingga kalau orang lain memiliki pendapat yang berbeda, mereka anggap hal itu sebagai serangan terhadap pribadi mereka. Selain itu, orang yang “insecure” cenderung ingin mengontrol dan menguasai. Mereka takut kehilangan posisi, takut direndahkan, takut kalah. Orang-orang ini memiliki pandangan menang-kalah. Kalau kamu menang, berarti saya kalah. Supaya saya tidak kalah, kamu saya kalahkan terlebih dahulu. Semua perbedaan diselesaikan dengan kompetisi, bukan dengan kerja sama. Sayang sekali.

Membangun Toleransi
Yang perlu diketahui, toleransi bukanlah kompromi. Ketika orang salah mengerti hal ini, mereka berpikir bila mereka bersikap toleransi pada orang lain, mereka telah mengkompromikan prinsip hidup mereka. Ini tidak benar. Toleransi bukan berarti kita tidak punya keyakinan, atau kita kompromi dengan dengan kepercayaan kita. Kompromi berarti mengubah prinsip yang mendasar, supaya bisa memasukkan seseorang/sesuatu dalam sistem kita. Sedangkan toleransi adalah mengasihi dan tanpa mengubah prinsip. Contohnya, menerima paslon yang beda agama, bukan berarti kita berkompromi mengubah keyakinan kita. Toleransi memberi ruang untuk orang saling tidak setuju tanpa harus membenci.

Toleransi bukanlah persetujuan, tapi kemampuan untuk tidak setuju dengan orang lain (bahkan tentang hal-hal yang penting), namun tetap menghormati dan mengakui bahwa orang lain berhak memiliki pandangan yang berbeda, walaupun menurut Anda pandangan itu salah. Contohnya, seseorang bisa saja tidak setuju dengan praktek gaya hidup gay dan menentang kalau ada usulan pernikahan gay disahkan agama dan negara, tetapi bukan berarti ia tidak bisa berteman dengan para gay. Toleransi membuat kita bisa hidup berdampingan dengan damai dengan orang-orang yang berbeda dengan kita.

Membenci lebih mudah daripada toleransi. Untuk bertoleransi Anda perlu belajar mengenal orang lain, mendengarkan dengan sabar, berusaha mengerti dan menempatkan diri di posisinya. Sedangkan untuk membenci, tidak perlu berpikir, tinggal meluapkan emosi saja. Karena itu sangat mudah membakar kebencian, terutama dalam hal SARA.

Tetapi mari kita ingat bahwa negara kita ini salah satu negara paling unik di dunia. Jepang bersatu karena mereka homogen, satu suku. Thailand berdiri sebagai satu negara karena mereka menjadi "buffer" wilayah yang tak pernah dijajah. Amerika bersatu karena satu asalnya, para pilgrim yang datang dari Inggris. Tapi Indonesia beda suku, beda bahasa, beda budaya, beda wilayah, beda asal, bersatu karena sebuah ideologi yang menyatukan, yaitu Pancasila. Bila ideologi ini diganti atau diserang dengan hasutan SARA, maka hancurlah negara ini menjadi wilayah-wilayah yang kecil, dengan jumlah penduduk yang kecil, kekuatan ekonomi yang kecil, prestasi yang kecil-kecil. Apakah itu yang kita inginkan?

Satu hal yang perlu kita ingat, Nelson Mandela berkata,  orang tidak lahir lalu membenci orang lain berdasarkan warna kulit, latar belakang atau agamanya. Jadi, kebencian adalah sesuatu yang dipelajari. Kalau mereka bisa belajar membenci, mereka juga bisa belajar mengasihi. Justru mengasihi sebenarnya lebih alami dari membenci. Mari belajar mengasihi orang yang berbeda dengan kita, dan membangun bangsa ini dalam toleransi.

"Kita harus belajar hidup bersama sebagai saudara, atau musnah bersama sebagai orang-orang bodoh". (Martin Luther King, Jr.)

PENULIS:

FOF Indonesia Ambassador
Ambasador dari Focus On the Family Indonesia. Lulusan California Polytechnic University, Pomona, AS ini melanjutkan S2 di bidang Intercultural Studies di Pasadena AS. Setelah lebih dari 20 tahun mendedikasikan dirinya pada sebuah LSM yang bergerak di bidang komunitas, pendidikan dan media, ia memutuskan untuk fokus menulis. Bukunya "365 Days of Inspiration" dan segera terbit buku dengan judul "Seeds of Inspiration".