Mengapa Aku Tidak Cantik?

Cantik dan seksi, dua kata yang “mainstream” banget buat para perempuan. Coba kata lain dilekatkan pada perempuan, seperti bijak, berpengaruh, baik hati, berani. Tapi entah mengapa, perempuan selalu dinilai dari penampilan luar mereka, lihat saja majalah, infotainment, dan media. Repotnya, hal ini diserap oleh para perempuan modern. Gadis era ini lebih ingin terlihat seksi daripada tampak intelek, dan lebih suka dikenal sebagai gadis populer ketimbang ramah dan penolong. Dan sosial media mewujudkan semua itu.

Padahal menjadi orang cantik dan populer tidak menjamin kebahagiaan hidup. Buktinya, majalah Time menulis bahwa salah satu kelompok dengan angka bunuh diri yang tertinggi adalah para model catwalk yang cantik, tinggi, kaya dan terkenal. Rupanya tidak mudah menjadi model, karena setiap kali casting peragaan mode mereka selalu "dinilai" dari penampilan mereka: tangan terlalu besar, kaki kurang langsing, tubuh tidak proporsional dll. Bagaimana membantu anak-anak perempuan kita memiliki “self-esteem” yang sehat?

PERHATIKAN ASUPAN MEDIA. Ketika anak perempuan saya masih kecil, saya tidak mengizinkan dia menonton ajang pemilihan Miss World karena ia belum bisa mencerna dengan bijak. Pemilihan itu bisa membuatnya menilai "kecantikan" dengan kategori tertentu. Saya kawatir anak saya akan membuat definisi "cantik” adalah tinggi, putih, dengan gigi yang sempurna. Bukan dengan senyum yang bolong-bolong seperti senyumnya karena beberapa gigi susunya sedang tanggal.

Saya tidak mau anak saya "mengkotak-kotakkan" orang sesuai penampilannya. Ajang Miss World cenderung menilai penampilan luar. Padahal Tuhan melihat dan menilai hati, lebih dari tampilan fisik. Saya tidak mau anak saya terlalu cepat menilai orang karena penampilannya. Karena nantinya mereka akan mudah ditipu oleh orang-orang yang pandai memoles tampilan luarnya, dan kehilangan kesempatan untuk menemukan "emas" dalam hati orang-orang yang menyimpan keindahan dalam kemasan yang nampaknya "biasa-biasa" saja.

Kecantikan yang sejati tidak dapat terekam oleh kamera dan tak muncul di foto. Jadi, perhatikan apa yang ia baca, tonton dan dengarkan. Diskusikan mengapa Anda keberatan mereka menonton hal itu, dan kaitkan dengan nilai-nilai yang Anda yakini.

TEKANKAN NILAI-NILAI YANG BENAR. Seharusnya, standar kecantikan hanya boleh didefinisikan oleh Dia yang menciptakan manusia. Tidak akan Anda temukan dalam kitab suci standar kecantikan yang menulis tinggi badan, warna mata, bentuk tubuh, dll, karena memang Tuhan menciptakan berbagai jenis perempuan: kulit terang dan gelap, rambut lurus dan keriting, tubuh tinggi besar dan kecil, dll. Dalam kitab suci standar perempuan yang tepat adalah saleh, beriman, berani membela kebenaran, rajin, dan lainnya.

Beberapa hal lain yang dapat Anda tanamkan:

• KARAKTER – memiliki karakter yang unggul, dapat dipercaya, bisa menguasai diri, dan mencintai kebenaran.
• KECERDASAN – kalau diajak bicara “nyambung”, memiliki keinginan untuk maju dan terus belajar.
• KESOPANAN – mengerti bagaimana mempresentasikan diri dengan baik, sehingga orang lain menghargai kita.
• KASIH – sabar, menghormati orang lain, berkorban dengan rela, dan melihat yang terbaik dalam diri orang lain.
Katakan pada anak gadis Anda, “Jadilah seperti apa yang Tuhan mau, bukan apa yang orang ingin lihat.”

TANAMKAN TUJUAN HIDUP. Gadis yang tidak memiliki tujuan hidup atau cita-cita yang kuat, akan mudah terseret arus. Tunjukkan kepedulian Anda pada pencapaian akademisnya. Ajak ia untuk menjadi sukarelawan dalam kegiatan sosial. Ajak ia melihat dunia dari berbagai segi dan profesi. Katakan pada anak gadis Anda bahwa Anda percaya pada mereka. Samantha Ettus menulis di majalah Forbes, ketika ia mengadakan “internet talk show” ia mewawancarai 75 orang yang sangat sukses dari berbagai bidang. Satu hal yang sama dari mereka adalah orangtua mereka berkata bahwa mereka bisa mencapai apapun bila mereka menetapkan hatinya untuk mencapai hal itu.

BERI TAHU TOLOK UKUR YANG BENAR. Ketika liburan ke Hong Kong, Norman Vincent Peale melihat sebuah studio tatto. Berbagai contoh tatto dipajang, dan ada satu contoh yang mengejutkan, “Born to lose” (lahir untuk kalah). Norman masuk dan bertanya, “Memangnya ada orang yang mau mentatto tubuhnya dengan kata-kata itu?” Menurut pemilik studio memang ada beberapa. Norman berkomentar, “Sulit dipercaya ada orang waras yang mau melakukannya.” Dijawab oleh pemilik studio, “Sebelum ada tatto di tubuh, ada tatto dalam pikiran.” Setiap orang memiliki “tatto” dalam pikirannya tentang siapa dirinya, apakah ia “born to lose” atau “born to win.”Apakah ia “cantik” atau “tidak cantik.”

Pandangan terhadap diri inilah yang menentukan bagaimana ia menjalani hidup, hubungannya dengan orang lain, dan bagaimana ia memandang dunia ini, positif atau negatif. Orang membangun “self-esteem”nya dari macam-macam pengalaman: dari apa kata orang padanya, bagaimana orang memperlakukannya ketika ia kecil, apa kata media, dan lainnya.

Tetapi tolok ukur yang benar hanya satu, yaitu apa yang Tuhan katakan tentang kita, tidak peduli apa yang manusia katakan. Kita diciptakan, dicintai dan hidup untuk membawa kemuliaan bagi-Nya. Seperti uang Rp. 100.000, walaupun jatuh ke selokan, kotor, atau kucel, nilainya tetap sama, dan tetap bisa digunakan untuk membeli barang. Kita berharga dari “sononya” dan harga kita tidak ditentukan oleh cantik atau tidaknya kita.

Sebuah pendapat yang kontroversial dari Golda Meir, mantan Perdana Menteri Israel, “Tidak cantik merupakan berkat yang sesungguhnya... Tidak cantik membuat saya harus membangun sumber daya dari dalam. Gadis-gadis cantik punya rintangan yang harus diatasi.” Kecantikan memang bukan tentang wajah yang molek, tetapi pikiran yang menarik, hati yang indah, dan budi pekerti yang manis.

PENULIS:

FOF Indonesia Ambassador
Ambasador dari Focus On the Family Indonesia. Lulusan California Polytechnic University, Pomona, AS ini melanjutkan S2 di bidang Intercultural Studies di Pasadena AS. Setelah lebih dari 20 tahun mendedikasikan dirinya pada sebuah LSM yang bergerak di bidang komunitas, pendidikan dan media, ia memutuskan untuk fokus menulis. Bukunya "365 Days of Inspiration" dan segera terbit buku dengan judul "Seeds of Inspiration".