"Merdeka atau Mati"

Ada tempat di mana Anda bisa makan gratis 3x sehari, tidak perlu bekerja, mendapat tempat tinggal gratis, pelayanan kesehatan gratis, dan penjagaan keamanan 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Namun, Anda tidak memiliki kebebasan. Apakah Anda mau tinggal di tempat seperti itu? Nama tempat itu adalah “penjara.” Pada kenyataannya, orang menginginkan kebebasan/kemerdekaan lebih dari apapun, karena itu timbul slogan "Merdeka atau mati." Kemerdekaan untuk memilih dan memutuskan merupakan hakikat manusia. Dari awal Tuhan menciptakan manusia dengan kehendak bebas.

Manusia modern mengagungkan kemerdekaan/kebebasan, tetapi seringkali kebablasan. Beberapa saat lalu saya melihat foto-foto saat teman saya berkunjung ke Belanda. Salah satunya, foto jarak jauh sekelompok orang yang bersepeda tanpa pakaian! Mereka anggap itu sebuah kebebasan. “Kebebasan” lain di Belanda adalah Anda bisa membeli narkoba dengan bebas. Semua menuntut kebebasan. Dari kemerdekaan berpendapat, hingga kebebasan dalam memilih gaya hidup yang sebenarnya dipertanyakan manfaatnya.

KEBEBASAN ATAU KEEGOISAN? Orang berpikir kebebasan adalah bisa melakukan apa yang kita ingin lakukan dan katakan, tanpa batasan dan tidak boleh ada orang yang melarang. Tetapi justru karena cara berpikir seperti inilah dunia menjadi kacau balau dan keluarga menjadi berantakan. Kebebasan menjadi sama artinya dengan keegoisan. Manusia bebas melakukan apa pun juga, tanpa memikirkan kerugian pada diri sendiri dan dampaknya pada orang lain. Kebebasan tanpa tanggung jawab adalah jalan menuju kehancuran.

KEMERDEKAAN UNTUK MELAKUKAN YANG BENAR. Sebenarnya, arti kebebasan adalah kemampuan untuk melakukan apa yang benar, bukan melakukan apa yang kita inginkan, karena tidak ada jaminan bahwa semua yang kita inginkan adalah hal-hal yang benar dan positif. Dan ternyata tidak semua orang mampu melakukan yang benar. Sebagian terikat oleh kebiasaan buruk dan dosa, yang membuat mereka terbelenggu. Yang lain tertipu oleh pandangan yang salah, seperti orang Belanda yang berpikir bebas menghisap narkoba tetapi pada akhirnya justru diperbudak narkoba.

KEBEBASAN YANG SEJATI menurut Rick Warren adalah kebebasan dari rasa takut, rasa bersalah, kekhawatiran, kepahitan dan kebebasan dari kematian kekal. Kalau demikian, berarti tidak ada kebebasan yang sejati tanpa Tuhan, karena hanya Ia yang dapat memberikan perlindungan, perasaan aman, dan pengampunan. Tuhan yang dihindari banyak orang karena dianggap memberi banyak peraturan yang melarang ini dan itu sehingga mengekang kebebasan mereka, ternyata justru memberikan kebebasan melalui peraturan-Nya untuk kita.

Kesimpulannya, kebebasan bukanlah merdeka untuk melakukan apa yang kita kehendaki, melainkan merdeka untuk melakukan kehendak-Nya. Merdeka untuk mengampuni, bebas untuk memberi, bebas dari rasa bersalah, tidak terikat apapun supaya kita bisa melakukan panggilan-Nya dan mencapai potensi kita yang tertinggi!

"Apakah kemerdekaan yang sesunggugnya? Kemampuan untuk menerima kenyataan bahwa saya tidak mendapatkan jalan/keinginan saya, tetapi tetap berbahagia seperti saya mendaperkannya" (Joyce Meyer).

PENULIS:

FOF Indonesia Ambassador
Ambasador dari Focus On the Family Indonesia. Lulusan California Polytechnic University, Pomona, AS ini melanjutkan S2 di bidang Intercultural Studies di Pasadena AS. Setelah lebih dari 20 tahun mendedikasikan dirinya pada sebuah LSM yang bergerak di bidang komunitas, pendidikan dan media, ia memutuskan untuk fokus menulis. Bukunya "365 Days of Inspiration" dan segera terbit buku dengan judul "Seeds of Inspiration".