BeritaSatu.com

Hidup Anda bisa seindah pelangi
Jika Anda pandai mewarnai.
Kami datang setiap hitungan detik,
membawa aneka ragam informasi.

Beritasatu.com mewarnai hidup Anda
dengan informasi aktual-penuh makna.
Beritasatu.com sumber informasi terpercaya.
Close
Beritasatu menerima blog karya Anda. Kirimkan ke blog@beritasatu.com

Cinta Sejatiku Seorang Pelacur

Minggu, 29 April 2012 | 16:01

 

Cinta. Tak semua orang mampu memiliki cinta sejati. Apalagi, beda cinta dan nafsu hanya dipisahkan kain tipis. 
 
Saya tak tahu apakah cerita berikut termasuk kisah cinta sejati atau justru hal bodoh. Biar kalian yang menilai.
 
Sebut saja Ramon (bukan nama sebenarnya). Sejak masa kuliah hingga sekitar dua tahun silam, Ramon terjebak dalam ranah kenikmatan sesaat ibu kota. Tepatnya, kala ia memasuki pintu 'surga' di suatu diskotek Jakarta, pada awal 2000-an.
 
Saat itu, darah muda Ramon memaksanya menelusuri hal-hal yang ingin diketahuinya. Hasrat tersebut, juga dipermudah kocek saku dari orangtua yang berlimpah. 
 
"Wow," kata ramon. Ia sangat terpukau dengan ingar bingar diskotek. Seksi. Erotis.
 
Tak lama, seorang "mami" menghampiri. Ramon pun diperkenalkan dengan si cantik, bernilai Rp280 ribu saja. 
 
Usai transaksi, si cantik yang bahenol, dengan genit membawa Ramon ke ruang asmara. Di lantai dua. 
 
Bak-bik-buk, mereka pun bermain 'api'. Hampir dua jam.
 
Meski masih nol, ternyata Ramon mampu mengimbangi permainan si cantik. Jantan.
 
Kemenangan melawan si cantik, membuat Ramon semakin menjadi-jadi. Saban minggunya, ia kerap mengunjungi klub tersebut, hanya untuk mencari sensasi yang lain. 
 
Karena itu, Ramon pun tak butuh waktu lama untuk dinobatkan sebagai raja di sana. Raja bagi para mami yang haus duit. 
 
Tak terasa, sudah dua tahun Ramon keluar masuk pintu surga sesaat. Namun, tak sedetik pun ia merasakan kejenuhan. 
 
Pada suatu malam, Ramon yang berdandan glamor disambut ajudan setianya. Seorang mami. 
 
Dengan lugas, ia langsung mengajak Ramon menemui gadis muda. Orang baru. 
 
Ramon terperangah melihat kecantikannya. Putih, seksi, lugu. 
 
Tanpa ba-bi-bu, ia langsung memboyongnya, meski nilai gadis itu lebih mahal ketimbang lainnya. Namun, di kamar asmara, si lugu justru tak memberikan servis bernilainya. Ia terdiam dan hanya berdiri di pinggir ranjang. 
 
Ramon tetap menunggu. Tapi, si lugu justru menitikkan air mata. Dengan nada iba, Ramon bertanya. Si lugu pun bercerita dengan suara berat. 
 
Rupanya, kedatangan si lugu di surga terlarang akibat keterpaksaan. Ia dijadikan pelacur oleh ayahnya yang bejat. Bahkan, ayahnya pula yang merenggut kesucian si lugu, jauh hari lampau. Miris. 
 
Ramon terdiam mendengar cerita si lugu. Ia sadar bahwa dirinya bejat. Namun, tak bakal sampai senista itu. Dan, pada malam itu, Ramon hanya mendengarkan si gadis lugu bercerita. Tanpa secuil pun menyentuh tubuh molek si lugu. 
 
Sejak saat itu, Ramon kerap mem-booking si lugu. Tapi, bukan untuk mendapatkan servis. Melainkan hanya bertemu dan saling bercerita. 
 
Pertemuan demi pertemuan, akhirnya mengubah rasa iba Ramon menjadi cinta. Bahkan, Ramon tak pernah bermain api lagi dengan para selir, layaknya dulu.  
 
Hanya saja, Ramon tak punya kekuatan untuk memboyong si lugu dari lembah nista. Apalagi, si lugu juga masih berkutat dengan utang 'seabrek' ayahnya kepada mami. 
 
Marah, jengkel, dan sedih. Itulah perasaan Ramon, ketika melihat si lugu masuk kamar dengan lelaki lain. Tapi, apa mau dikata, itulah risiko yang harus diambil, ketika menaruh cinta ke hati si lugu. 
 
Si lugu pun merasakan sebaliknya. Berulang kali ia meminta Ramon untuk meninggalkannya. 
 
Tapi, Ramon tetap Ramon. Keyakinannya begitu teguh bahwa si lugu adalah masa depannya. 
 
Tahun ini, Ramon dan si lugu telah mengikat cinta selama empat tahun. Si lugu masih terjebak di dalam surga, dan Ramon tetap menantinya.  
 
Komentar
Artikel ini belum lengkap tanpa pendapat Anda. Kirim komentar Anda.
Loading komentar...
Blog Author
Ardi Mandiri
Ardi Mandiri
Editor Megapolitan Beritasatu.com
Pemilik akun twitter @ardisoedirjo ini menulis sejak duduk di bangku kuliah. Di satu kampus kecil, tempat lahirnya banyak wartawan besar, IISIP Jakarta. Baginya, menulis adalah seni. Semua orang memang dapat menulis. Tapi, tanpa rasa, tulisan terasa hambar. Tanpa makna, maka seperti anak SD yang terpaksa mencatat tulisan di papan besar.
Total post : 4 | lihat semua post
Potongan Adegan Laga Joe Taslim di Fast & Furious 6
Saksikan potongan adegan laga antara Joe Taslim melawan Tyrese Gibson dan Sun Kang dari film Fast and Furious 6