BeritaSatu.com

Hidup Anda bisa seindah pelangi
Jika Anda pandai mewarnai.
Kami datang setiap hitungan detik,
membawa aneka ragam informasi.

Beritasatu.com mewarnai hidup Anda
dengan informasi aktual-penuh makna.
Beritasatu.com sumber informasi terpercaya.
Close
    Beritasatu menerima blog karya Anda. Kirimkan ke blog@beritasatu.com

    Menjejak Kerajaan Opium di Golden Triangle

    Minggu, 27 Mei 2012 | 14:56

    Golden Triangle. Siapa yang tak tergiur mendengar nama Segitiga Emas yang terletak di Chiang Rai, utara Thailand dan berbatas wilayah dengan Laos dan Myanmar.

    Sejak 1920,  kawasan pegunungan dengan luas 950 kilometer persegi itu dikenal sebagai penghasil opium terbesar di dunia selain Afghanistan dan Myanmar. Opium telah dikenal sejak masa Yunani Kuno. Istilah opium berasal dari kata opion yang berarti getah tanaman poppy (Papaver somniferum).

    Getah yang dihasilkan dari buah tanaman poppy digunakan sebagai bahan baku narkotika. Getah yang dikeringkan dijual sebagai opium mentah. Jika diproses lebih lanjut, opium akan menghasilkan morfin. Bila diekstrak lagi, morfin akan menghasilkan heroin.  

    Tanaman opium sebenarnya bukanlah berasal dari Thailand, tetapi dari kawasan Mediterania. Konon, pasca Opium War antara Inggris dan China pada abad 18 yang berakhir dengan kekalahan China – harus menyerahkan Hongkong – terjadi migrasi para penduduk China (terutama suku-suku yang tinggal di pegunungan) ke negara tetangga, Laos dan Myanmar.

    Para pendatang dari China inilah yang memperkenalkan budi daya opium kepada penduduk setempat hingga akhirnya mereka memasuki Thailand. Perdagangan opium menjadi mata pencarian utama penduduk di kawasan Golden Triangle hingga terjadi pelarangan besar-besaran oleh pemerintah Thailand.

    Namun tetap saja terjadi perdagangan opium ilegal. Hingga kini, Golden Triangle masih menjadi pintu masuk opium-opium ilegal dari Myanmar.

    Meski telah dilarang oleh pemerintah, tidak berarti jejak opium lenyap begitu saja. Semuanya masih tersimpan rapi di House of Opium. Sebuah museum yang mencatat sejarah, perjalanan dan akibat yang dihasilkan dari opium. Tak hanya di Golden Triangle, tetapi juga di dunia.

    Saya beruntung bisa menyambangi tempat yang menyimpan banyak cerita soal barang terlarang tersebut.

    Mengunjungi Thailand sebaiknya tak hanya menghabiskan waktu menelusuri gemerlap malam dan shopping di Bangkok. Atau bermandi  matahari di tepian pantai Phuket dan napak tilas lokasi pengambilan gambar Leonardo DiCaprio dalam The Beach di Kho Phi Phi.

    Setelah berkendara selama tiga jam dari Chiang Mai, saya tiba di Sop Ruak, Golden Triangle, sore hari. Desa kecil yang jauh keramaian itu sungguh berbeda dengan persinggahan-persinggahan wisata lain di negeri Gajah Putih yang pernah saya kunjungi.

    Tiba-tiba hati saya terasa kelam. Mungkin karena awan hitam menggelayut di langit. Mungkin juga karena tempat ini adalah museum. Berlebihan jika saya berharap ada keriaan di sana. Entahlah.
     
    Sunyi menyambut kedatangan kami sore itu. Di halaman parkir hanya ada mobil kami. Saya datang dengan beberapa teman.

    Dark tourism (kunjungan wisata ke tempat-tempat yang berhubungan dengan kematian atau tragedi) memang belum begitu populer. Meski beberapa tahun ini komunitas penggemar tempat-tempat ‘gelap’ ini semakin berkembang.

    Salah satu tujuan dark tourism yang terkenal adalah Cu Chi Tunnel di Ho Chi Minh, Vietnam. Terowongan bawah tanah yang hanya bisa dilewati dengan berjongkok itu adalah basis para pejuang Vietkong saat melawan pendudukan tentara Amerika tahun 1960-1975.

    Didirikan tahun 1990, House of Opium menjulang di depan kami. Terdapat beberapa anak tangga yang harus ditapaki untuk memulai perjalanan menelusuri jejak opium.

    Uniknya, museum ini bukan milik pemerintah, tetapi didirikan oleh Patcharee Srimathayakun Chiang Saen, lulusan Fakultas Pendidikan Universitas Chulalongkron, Bangkok.  Kegemarannya mengoleksi barang-barang antik membuatnya mendirikan museum ini.

    Lorong kelam menjadi bagian pertama museum yang harus kami lewati. Hanya ada lampu-lampu sorot di kedua sisi lorong yang menerangi. Relief perdagangan opium dan efek yang ditimbulkan menghiasi dinding lorong.

    Tampaknya kurator museum ingin memunculkan sisi kelam penggunaan opium. Hampir seluruh bagian dari House of Opium bernuansa muram dengan lampu minim cahaya.

    Lepas menyusuri lorong panjang, kami disuguhi cerita sejarah perdagangan opium termasuk cara mereka mendistribusikan opium ke berbagai pelosok dunia.

    Di bagian lain, dipajang berbagai koleksi antik pemilik museum yang berkaitan dengan opium. Terdapat berbagai jenis pipa pengisap opium yang tersusun rapi di etalase kaca.

    Lalu, ada wadah-wadah opium dalam berbagai ukuran, bantal keramik persegi panjang dengan lekukan di tengah untuk menikmati opium dan segala peralatan yang terkait dengan budi daya opium.  

    Melongok bagian museum selanjutnya,  tersedia juga berbagai jenis tanaman opium, cara mengolah opium dan kebiasaan para pemakai opium menikmati setiap isapan candu tersebut pada suatu masa di China.  

    Para pecandu merebahkan diri di kursi kayu panjang sembari meletakkan kepala di bantal dan mengisap pipa opium.

    Buat saya museum ini mengagumkan. Menelusuri bagian demi bagian museum yang memberikan gambaran detail soal opium, membawa saya terlempar ke ratusan tahun lalu, saat perjalanan panjang opium yang menyebabkan Opium War ini dimulai.

    Saya mendapat pelajaran yang berharga sore itu, saat waktu seakan berhenti di kerajaan opium…
     

    Blog Author
    Angelina Donna
    Angelina Donna
    Managing Editor Beritasatu.com
    Menjadi jurnalis karena ajakan seorang teman. Tak disangka, ia benar-benar jatuh cinta dengan dunia jurnalistik. Bahkan penerima beasiswa AUSAID ini juga mengambil jurusan jurnalisme saat melanjutkan kuliah di Australia. Penyuka traveling, kuliner, dan fotografi. Saat ini menjadi Managing Editor di Beritasatu.com
    Total post : 6 | lihat semua post