BeritaSatu.com

Hidup Anda bisa seindah pelangi
Jika Anda pandai mewarnai.
Kami datang setiap hitungan detik,
membawa aneka ragam informasi.

Beritasatu.com mewarnai hidup Anda
dengan informasi aktual-penuh makna.
Beritasatu.com sumber informasi terpercaya.
Close
    Beritasatu menerima blog karya Anda. Kirimkan ke blog@beritasatu.com

    Hukum Rimba Dalam Lapas

    Rabu, 27 Maret 2013 | 07:56

    Fenomena pembunuhan tahanan di Lapas Cebongan Yogyakarta sungguh menjungkirkan logika dan mengiris nurani. Bak adegan film, pembunuhan para tahanan di dalam Lapas tersebut sangat rapi dan terorganisir. Mereka tampaknya merupakan pihak yang terlatih dan sangat professional. Meskipun yang mereka bunuh merupakan ‘pembunuh” yang juga merupakan preman, namun tindakan main hakim sendiri bagaimanapun tidak bisa dibenarkan.

    Ada keterkejutan yang luar biasa ketika berita tentang penyerangan Lapas Cebongan ini diturunkan. Pertama, karena kejadian tersebut terjadi di sebuah Lembaga Pemasyarakatan, yang notabene merupakan lembaga hukum Negara, dan juga mendapatkan penjagaan yang ketat dari aparat. Kedua, karena kejadian tersebut berlangsung singkat dan merenggut empat nyawa manusia sekaligus, belum lagi beberapa korban luka berat dan ringan lainnya. Ketiga, fenomena ini barangkali merupakan yang pertama kali dalam sejarah keamanan di Lapas, sehingga memiliki dampak sosial dan psikologis yang cukup besar.

    Teror, ungkapan ini mungkin sangat tepat untut menyebut aksi anarkis ini. Teror ini tidak hanya ditujukan kepada para tahanan, aparat hukum dan masyarakat dalam hal ini juga bagian dari obyek teror ini. Bahkan pasca kejadian tersebut, beberapa orang NTT, yang merupakan provinsi asal tahanan yang terbunuh tersebut, merasakan trauma dan terror yang luar biasa.

    Ada beberapa dugaan tentang motif aksi pembunuhan para tahanan di Lapas ini. Salah satunya adalah karena motif balas dendam. Mengingat para tahanan ini adalah menyandang status tersangka dalam kasus pembunuhan prajurit TNI beberapa waktu yang lalu. Dugaan ini diperkuat dengan modus penyerangan yang dilakukan oleh orang yang terlatih, dengan menggunakan senjata api dan granat. Namun tanpa bermaksud mencurigai, motif balas dendam teman korps dalam hal ini menjadi alasan yang sangat logis. Apalagi beberapa waktu sebelumnya, terjadi aksi balas dendam yang dilakukan oknum tentara dengan membakar markas polres yang dilator belakangi pembunuhan anggota TNI oleh oknum polisi.

    Hilangnya Kepercayaan Hukum
    Eksekusi terhadap para tahanan kasus pembunuhan di “rumah” hukum barangkali merupakan sebuah isyarat adanya ketidak percayaan terhadap hukum. Jika praduga balas dendam ini benar, maka ada pihak tertentu yang menganggap bahwa proses hukum di negeri ini belum mampu mengakomodir rasa keadilan. Akibatnya, hukum rimba dipilih sebagai upaya efektif untuk menegakkan keadilan, versi pihak tertentu. Hukum rimba dipilih karena dianggap sebagai representasi rasa keadilan, nyawa dibalas oleh nyawa. Di sisi lain, proses hukum dianggap tidak mampu lagi mengejawantahkan rasa keadilan, baik karena aparat hukum yang mempermainkan hukum, maupun intervensi pihak lain yang membiaskan substansi hukum.

    Sampai di sini, hukum rimba menjadi pilihan praktis bagi sebagian pihak yang memiliki kekuatan tertentu untuk menembus ‘tembok’ aparatur hukum. Dan jika ini benar, maka sebuah keruntuhan besar bagi tegaknya proses hukum di negeri ini. Siapa yang kuat, dia lah yang  mampu menguasai hukum.

    Kita semua berharap, Negara sebagai simpul konsensus bangsa harus mampu memberikan rasa aman dan adil kepada warganya. Negara merupakan anti-thesis hukum rimba, sehingga segala bentuk praktik rimba yang mendistorsi peran dan eksistensi Negara harus dihilangkan.Negara melalui aparatur dan norma nya harus tegas menyelesaikan segala bentuk pelanggaran hukum, siapapun pelakunya. Negara tidak boleh kalah, oleh gerombolan terlatih sekalipun.

    Blog Author
    Muhamad Mustaqim
    Muhamad Mustaqim
    Dosen STAIN Kudus
    Dosen STAIN Kudus, aktif di Kajian Sosial The Conge Institute Kudus.
    Total post : 31 | lihat semua post