BeritaSatu.com

Hidup Anda bisa seindah pelangi
Jika Anda pandai mewarnai.
Kami datang setiap hitungan detik,
membawa aneka ragam informasi.

Beritasatu.com mewarnai hidup Anda
dengan informasi aktual-penuh makna.
Beritasatu.com sumber informasi terpercaya.
Close
    Beritasatu menerima blog karya Anda. Kirimkan ke blog@beritasatu.com

    Pertaruhan Besar PDIP di Jawa Tengah dan Bali

    Senin, 22 April 2013 | 14:03

    Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) digadang-gadang akan menjadi penantang serius Partai Demokrat (PD) dalam pemilu 2014. Bersama Partai Golkar, PDIP akan memanfaatkan merosotnya popularitas PD belakangan ini.
    Besarnya swing voter menjadikan pemilu di Indonesia amat seru dan sulit diprediksi.

    Sejak era reformasi, tiga pemilu sudah kita lalui dan tiga pemenang pula kita dapati. PDIP berjaya pada Pemilu 1999. Golkar sukses mengudeta lima tahun berikutnya. Sedangkan PD secara gemilang memenangi Pemilu 2009.

    Giliran siapa menjadi jawara Pemilu 2014? Apakah masih akan menjadi jatah tiga partai itu, atau akan ada kejutan munculnya juara baru. Sepertinya kemungkinan pertama lebih realistis: biru, kuning, atau merah.

    Dibanding Demokrat, Golkar dan PDIP memang memiliki perjalanan sejarah yang lebih panjang. Wajar jika kedua partai ini dianggap paling berpeluang mengambil alih posisi puncak pemilu mendatang. Hampir dua periode pemerintahan, PDIP menempatkan diri sebagai "oposisi". Mengapa diberi tanda petik? Ya, karena sejatinya dalam sistem pemerintahan presidensial yang kita anut tidak mengenal oposisi.

    Sebagai oposisi, PDIP selalu mengambil sikap tegas terhadap pemerintah manakala ada kebijakan yang mereka anggap tidak sesuai. Sedikit banyak, langkah ini cukup efektif dalam menarik perhatian konstituen.
    PDIP juga concern dalam menampilkan politisi muda yang reformis. Sejumlah kader partai berlambang moncong putih banteng ini sukses menduduki jabatan politis di berbagai daerah. Nama yang paling menonjol tentu saja Joko Widodo (Jokowi).

    Kemenangan Jokowi di pilkada Jakarta melahirkan euforia di kalangan kader PDIP. Sosok yang digambarkan sebagai representasi wong cilik sukses menumbangkan nama besar gubernur petahana Ibukota.
    Namun, tak lama berselang euforia itu tak berlanjut. Jagoan PDIP di pilkada Jawa Barat dan Sumatera Utara kalah dari lawan-lawannya. Padahal, dalam kampanye kedua kandidat itu sudah menghadirkan figur Megawati dan Jokowi.

    Eits, tunggu dulu. Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan. Betul bahwa Rieke Dyah Pitaloka dan Effendi Simbolon gagal mengikuti jejak Jokowi. Akan tetapi, perolehan suara mereka tidaklah terpaut jauh dari pemenang di daerahnya masing-masing. Kebetulan, pemenang pilkada di dua provinsi itu berasal dari partai yang sama: PKS. Setidaknya PDIP bisa bernapas lega karena mereka tidak kalah dari Demokrat ataupun Golkar.
    Tak lama lagi PDIP akan melalui ujian selanjutnya, pilkada Jawa Tengah dan Bali. Dua daerah ini boleh dikatakan sebagai "basis merah" alias lumbung suara PDIP pada pemilu-pemilu sebelumnya, bahkan sejak sebelum era reformasi.

    Masih melanjutkan tren di pilkada sebelumnya, PDIP memasang kader internal di pilkada Bali dan Jateng. Di Pulau Dewata, PDIP dengan percaya diri menjagokan Anak Agung Ngurah Puspayoga yang saat ini menjabat sebagai wakil gubernur. Sedangkan untuk Jateng, mereka menugaskan salah satu legislator terbaiknya di Senayan, Ganjar Pranowo.

    Ada kesamaan dari dua pilkada ini, lawan yang dihadapi PDIP adalah gubernur petahana: I Made Mangku Pastika (Bali) dan Bibit Waluyo (Jateng). Namun, tidak seperti Puspayoga yang didukung maju di pilkada Bali, wagub Jateng Rustriningsih, yang juga kader tulen PDIP, justru harus gigit jari.

    Pada menit-menit akhir - tepatnya enam jam sebelum penutupan pendaftaran - PDIP mengeluarkan rekomendasi untuk Ganjar Pranowo. Peluang PDIP sebetulnya lebih terbuka lebar jika Rustri yang maju. Popularitas tokoh yang kerap disebut "Srikandi Jawa Tengah" ini cukup moncer. Sedangkan Ganjar, walaupun wajahnya sering nongol di televisi, masih kurang populer bagi sebagian besar kalangan. Penampilan dan pembawaan alumnus UGM itu juga terlalu priyayi, sehingga dapat menimbulkan kesan berjarak dengan wong cilik.

    Tantangan bagi PDIP semakin berat karena potensi suara massa terancam pecah. Seperti diketahui, ada kader lain PDIP yang juga maju di pilkada Jateng. Adalah Don Murdono, yang saat ini menjabat bupati Sumedang memutuskan mencalonkan diri sebagai cawagub. Ia akan berpasangan dengan Hadi Prabowo. Pasangan ini diusung koalisi partai menengah.

    Jika ingin menang, PDIP harus bisa memastikan bahwa pendukung Rustri tidak lari ke kandidat lain. Dukungan Rustri akan sangat menentukan apakah jalan Ganjar menuju Jateng 1 akan mulus. So, langkah pertama yang akan sangat menentukan nasib mereka adalah sejauh mana konsolidasi internal dibangun.

    Lalu, bagaimana dengan peluang di Bali? Hampir sama dengan di Jateng, persaingan di Pulau Dewata dipastikan akan sengit. Bicara popularitas, baik Pastika maupun Puspayoga, sama-sama dikenal luas. Pastika lebih diuntungkan jika ingin mengklaim keberhasilan program pembangunan selama lima tahun ini lantaraan posisinya sebagai orang nomor satu. Dukungan dari Demokrat dan Golkar kepada Pastika juga akan membuat PDIP harus bekerja ekstrakeras.

    Dilihat dari persebaran jaringan kekuatan partai, PDIP masih unggul dibandingkan partai lain. Partai ini memiliki jumlah anggota DPRD terbanyak, jaringan partai ke pelosok dusun dan tujuh dari sembilan bupati/wali kota di Bali. Pertanyaannya adalah, mampukah PDIP mengonversi keunggulan tersebut menjadi hasil kongkret di pilkada Bali?

    Dua pilkada ini adalah momen efektif untuk "memanaskan" mesin partai jelang pemilu legislatif tahun depan. Kemenangan di pilkada Jateng dan Bali mungkin tidak akan dianggap sebagai pencapaian istimewa. Namun, jika ternyata yang terjadi adalah kekalahan, maka posisi PDIP akan semakin terjepit. Jika di lumbung suara saja kalah, apalagi di daerah lain.

    Kita tunggu saja, apakah Bali dan Jateng masih "merah"?

    Blog Author
    Shendy Adam
    Shendy Adam
    Penulis dan pengamat sosial
    Pemilik nama lengkap M. Shendy Adam Firdaus, S.IP ini adalah pegawai di Biro Tata Pemerintahan Setda Provinsi DKI Jakarta. Cita-citanya menjadi jurnalis olahraga sempat terwujud di Harian Merdeka. Kini memilih untuk menjadi abdi negara, sambil tetap menuangkan ide-ide dan pemikiran, terutama di bidang olahraga melalui blog, jejaring sosial, dan media mainstream.
    Total post : 28 | lihat semua post