BeritaSatu.com

Hidup Anda bisa seindah pelangi
Jika Anda pandai mewarnai.
Kami datang setiap hitungan detik,
membawa aneka ragam informasi.

Beritasatu.com mewarnai hidup Anda
dengan informasi aktual-penuh makna.
Beritasatu.com sumber informasi terpercaya.
Close
    Beritasatu menerima blog karya Anda. Kirimkan ke blog@beritasatu.com

    Kecap Globalisasi di Tahun Ajaran Baru

    Jumat, 05 Juli 2013 | 22:00

    Perempuan muda berkulit bersih itu mempersilahkan saya duduk di kursi, sambil menawari minuman dingin atau hangat. Barangkali karena wajah saya terlihat penat di ruang berpendingin itu. Dia minta ijin sebentar, karena akan mengantar tamu sebelumnya, yang pamit pulang.

    Sambil menunggu tuan rumah kembali, saya membaca brosur dan buletin bulanan, berisi kegiatan siswa dan sekolah. Tulisannya dalam bahasa Inggris, yang rasa-rasanya lebih mirip struktur bahasa Indonesia daripada Inggris.

    Dalam buletin itu ada tulisan mengenai kelas memasak. Sepertinya begitu, kalau dilihat dari apron dan topi koki yang dikenakan para siswa. Ada kelas berkebun, terlihat dari sarung tangan yang kebesaran dan topi caping. Para siswa itu mengelilingi pot tanaman. Ada juga foto anak-anak yang gelantungan di flying fox dan basah-basahan di kolam ikan.

    Foto para gurunya pun terpampang manis, ada yang baru melahirkan, kabar pernikahan dan kematian mertua perempuan.

    Dalam brosur dua halaman itu, selain foto-foto para siswa juga terdapat rincian biaya pendidikan dan cara pembayaran. Brosur ini sepenuhnya dalam bahasa Indonesia.

    Si Jeng kembali, dengan senyum manisnya.

    "Bagaimana Bu, apa yang bisa kami bantu?".

    Pertanyaan yang sama untuk kelima kalinya dalam dua minggu terakhir, yang dilontarkan oleh perempuan manis seperti dia, di lima tempat yang berlainan.

    Untuk kelima kalinya, saya juga memulai percakapan yang sama.

    Itu adalah kejadian di bulan Maret, ketika saya mendatangi sekolah-sekolah yang menyelenggarakan pendidikan tingkat taman kanak-kanak dan sekolah dasar.

    Dari kelima tempat itu, jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan relatif sama.

    Bahwa meski tahun ajaran baru dimulai pertengahan Juli, namun pendaftaran telah dimulai sejak November tahun lalu. Beberapa sekolah sudah fully booked namun masih menyediakan daftar tunggu.

    Konon katanya, kalau permintaan membludak maka akan dibuka kelas baru. Perkara guru tambahan, akan dicari kemudian, atau dibagi dengan kelas yang sudah ada, atau mungkin juga akan ada penggabungan kelas.

    Jadi sebenarnya untuk apa ada istilah fully booked atau daftar tunggu, kata saya dalam hati, tapi tidak diucapkan, takut menyinggung perasaan si Jeng.

    Seperti sekolah-sekolah yang saya datangi sebelumnya, taman kanak-kanak ini menggunakan dua bahasa pengantar, yaitu Inggris dan Indonesia. Urutan itu menunjukkan prioritas. Jika berlanjut ke sekolah dasar, bahasa pengantar sepenuhnya adalah adalah bahasa Inggris. Jika ada permintaan orangtua siswa, maka akan diadakan kelas Mandarin.

    "Pengajarnya dari mana Bu," tanya saya.

    "Oh, yang sudah ada adalah guru-guru berpengalaman yang telah melanglangbuana di lembaga pendidikan di Bekasi, Tangerang, Jakarta, Bogor, dan sekarang mereka mengajar disini," kata si Jeng.

    "Tidak ada kelas dengan bahasa pengantar yang sepenuhnya bahasa Indonesia," tanya saya.

    "Awalnya kami membuat kelas seperti itu, tapi sekarang sudah sepenuhnya dwi bahasa, bahkan ada kelas khusus yang sepenuhnya menggunakan bahasa Inggris. Seperti disebut dalam brosur itu, kami membantu menyiapkan putra putri ibu di era global."

    "Bagaimana dengan kegiatan olahraga siswa," tanya saya.

    "Kami mempunyai ruang serbaguna berpendingin udara, yang biasa digunakan sebagai tempat olahraga. Jadi anak Ibu tidak akan kepanasan."

    "Anak saya alergi gigitan serangga, yang sampai sekarang saya tidak tahu jenisnya. Hanya tahu akibatnya, yaitu gatal-gatal seluruh badan bahkan hingga ke lubang hidung dan telinga," tambah saya.

    "Oh, tenang saja Bu, seluruh ruangan di sekolah kami berpendingin udara. Tidak ada pepohonan dalam radius 50 meter dari tempat kegiatan siswa. Kami rutin melakukan penyemprotan sehingga semut saja sulit ditemukan disini."

    "Kalau kegiatan kesenian bagaimana, apa ada kelas menari atau bermain angklung, gamelan, " tanya saya.

    "Kami mengadakan kelas balet, dan sebulan sekali ada kelas musik bertema. Misalnya, untuk bulan ini temanya adalah musik Celtic. Pokoknya semua kegiatan belajar mengajar disini, didesain agar para siswa tidak kuper dengan pergaulan internasional," kata si Jeng, yang senyum manisnya tidak pernah berkurang.

    Saya benar-benar penat.

    Sambil pamitan saya sempat melirik biaya pendidikan yang belasan juta itu.

    Tentu saja saya tidak perlu lama-lama mengambil waktu si Jeng, karena saya berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Sunda dengan anak, dan masih tetap menginginkan anak semata wayang berusia 4 tahun ini mengenal baik bangsanya. Tentu saja sekolah ini tidak menginginkan orang seperti kami.

    Keluar dari ruangan yang sejuk, mata saya agak nanar disergap terik matahari yang terasa makin panas karena dipantulkan kembali oleh semen yang menutup halaman sekolah.

    Agak mengerikan membayangkan si bujang kecil dipersiapkan menghadapi era globalisasi oleh sekolah-sekolah seperti ini, yang konon, para gurunya telah melanglangbuana di Bekasi, Tangerang, Jakarta dan Bogor.

    Blog Author
    Entin Supriati
    Entin Supriati
    Penulis lepas
    Selama 16 tahun menjadi wartawan, pernah bekerja di media cetak, online, radio dan sedikit mengenal sistem kerja di televisi. Sampai saat ini masih tetap berjuang mengurangi membaca buku dan menulis, karena ternyata menyebabkan jarang bicara.
    Total post : 21 | lihat semua post