BeritaSatu.com

Hidup Anda bisa seindah pelangi
Jika Anda pandai mewarnai.
Kami datang setiap hitungan detik,
membawa aneka ragam informasi.

Beritasatu.com mewarnai hidup Anda
dengan informasi aktual-penuh makna.
Beritasatu.com sumber informasi terpercaya.
Close
    Beritasatu menerima blog karya Anda. Kirimkan ke blog@beritasatu.com

    Rapat Diupload di Youtube, Semoga SBY-Marzuki Tiru Jokowi-Ahok

    Selasa, 13 November 2012 | 09:55

    Jokowi dan Ahok benar-benar fenomena. Bukan hanya saat berjuang meraih kemenangan tapi juga tatkala kemenangan sudah di tangan. Saat kampanye Jokowi-Ahok mengalahkan sekumpulan partai besar yang punya mesin politik, uang, dan kekuasaan. Ibarat sepak bola. statusnya sebagai pemain underdog justru membuat Jokowi-Ahok bermain dengan tanpa beban.

    Tapi yang lebih mencengangkan, ketika kekuasaan sudah di tangan, mereka memanfaatkannya dengan benar. Paling tidak dalam waktu kurang dari 100 hari kepemimpinannya  keduanya masih bisa merawat harapan warga Jakarta yang menginginkan Jakarta Baru.

    Penampilan Jokowi-Ahok setali tiga uang: tak dibuat-buat, jauh dari kesan jaim alias jaga image. Baju putih dengan lengan panjang yang dilinting alias dilipat dan celana hitam, mirip sales produk, menjadi pakaian kerja Jokowi. Sementara Ahok sering berbaju batik dan memimpin rapat tanpa basa-basi.

    Jokowi pernah menerima demonstran yang demo di depan Balaikota dengan lesehan di depan beranda Balaikota. Mahasiswa demo agar Jokowi memperhatikan nasib warga yang selalu kena banjir.

    Jokowi seketika itu juga menelepon camat yang bersangkutan untuk memasang mesin pompa. Kesempatan lainnya Jokowi menemui massa buruh yang menuntut Upah Minimum Provinsi dinaikkan. Jokowi pun berjanji memperjuangkannya.

    Gebrakan lain Jokowi-Ahok yang menyenangkan nettizens adalah merekam aktivitas kantornya lalu mengupload di youtube. Sebuah terobosan cerdas. Dalam rekaman di youtube dengan akun resmi "PemprovDKI", Ahok rapat dengan Dinas Pekerjaan Umum. Ahok bilang rapat akan dilanjutkan kalau Dinas PU mau menurunkan harga satuan hingga 25%. Kalau tidak mau rapat ditunda. Yang masih mau kerja silakan merevisi atau mundur.

    Dalam youtube bertajuk: 08 Nov 2012 Wagub Bpk. Basuki T. Purnama Menerima Paparan Dinas Pekerjaan Umum, Ahok mempertanyakan anggaran Rp1 Miliar untuk membuat pos polisi. Pejabat dibuat gelagapan.

    Ahok mengancam mendingan anggaran dibuat nol, lalu proyek dilaksanakan dengan anggaran operasional gubernur. "Anda kasih speknya, saya yang cari konsultannya," kata Ahok.

    Ahok membuat publik kembali menemukan kembali asa yang hilang: tentang pemerintahan yang bersih bebas dari korupsi, kolusi, nepotisme, dan bekerja sepenuh hati melayani rakyat yang dililit masalah.

    Bermimpi SBY dan Marzuki Alie Meniru
    Jokowi-Ahok mengubah tabiat pejabat yang maunya duduk di belakang meja menerima laporan. Lihatlah Jokowi mengajak kepala dinas turun ke lapangan. Sementara Ahok membuat rapat diketahui publik. Bahasanya yang apa adanya, marah-marah, menyanjung itu telah mampu merobohkan kepongahan pejabat.

    Lalu tebersitlah harapan kita bersama. Besok atau lusa kita semua melihat SBY berserta menteri-menteri di Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II, Marzuki Alie beserta komisi dan alat kelengkapan DPR, termasuk Badan Anggaran melakukan hal serupa. 

    Lalu besok atau lusa kita bisa melihat rapat Badan Anggaran DPR yang membahas alokasi bujet untuk kementerian dan daerah bisa dilihat oleh rakyat via youtube. Sesuatu banget bukan?

    Lalu  besok atau lusa kita bisa melihat rapat Komisi XI yang menentukan Gubernur BI. Betapa rakyat bisa melihat mana yang sudah disuap dan mana yang tidak.

    Presiden SBY dan kementerian memang membiarkan media televisi meliput sidang tapi hanya saat pembukaan. Sementara rapat intinya semua disuruh keluar. DPR memang beberapa kali menampilkan show yang gegap gempita. Beberapa kali sidang paripurna ditayangkan live di televisi. Tapi rapat-rapat kecil yang penuh dengan lobi-lobi tak pernah ada footage-nya.

    Kalau lembaga pemerintah transparan, seperti Jokowi-Ahok, kita tak perlu lagi berdebat apakah benar ada sejumlah BUMN diperas oleh anggota DPR. Coba kita lihat apakah Dahlan Iskan berani meniru dengan merekam dan mengunggahnya di youtube rapat-rapat di BUMN.

    Kalau Ahok berkali-kali bilang saya hanya makan gaji bulanan dan tak akan makan duit rakyat, maka dia wujudkan dengan menampilkan jumlah dan peruntukan anggaran operasional gubernur dan wakil gubernur akan dipasang di website. Apakah istana negara, kementerian, DPR, lembaga tinggi, dan pemerintah daerah berani menirunya?

    Apakah partai politik yang sering dikritik menerima duit syetan dari hasil pengumpulan secara haram itu juga berani mengikuti jejak Jokowi-Ahok. Sesuatu yang bakal dicatat dalam sejarah bahwa partai-partai di Indonesia telah transparan. Tak ada lagi tradisi laporan ke Komisi Pemilihan Umum hanyalah formalitas. Sebab jumlah yang dilaporkan jauh lebih kecil dari yang sesungguhnya.

    Aku ragu lembaga-lembaga yang kusebutkan di atas memiliki nyali meneladani langkah Jokowi-Ahok. Pejabat yang menolak paling-paling berlindung di balik kata "rahasia negara" dan "ancaman terhadap NKRI". Dua kalimat mulia untuk melindungi praktik kotor.

    Pejabat yang terbiasa patgulipat, pejabat yang ucapan dan tindakan tidak sama, pejabat yang tidak bersih pasti risih meniru. Aku memang pesimis mereka mau dan mampu menirunya. Kalian tidak punya kemauan walau kalian mampu melakukan. Keraguan dan pesimismeku ini bisa kalian bantah dengan satu cara: mengikuti keteladanan Jokowi-Ahok.

    Keteladanan serupa juga perlu ditiru oleh tim sukses dan relawan Jokowi-Ahok untuk tidak coba-coba menjadi makelar proyek di Balaikota. Kalian yang pernah membantu Jokowi-Ahok menjadi gubernur dan wakil gubernur jangan pernah coba-coba untuk main-main proyek. Tugas kalian seharusnya bermetamorfosa menjadi critical suport untuk kebijakan yang baik dan menjadi pengingat bila ada yang melenceng. Tidak lebih tidak kurang!

    Dan jika kalian semua tidak melakukannya maka kami akan melancarkan mosi tidak percaya. Seperti lagu Efek Rumah Kaca "Mosi Tidak Dipercaya"

    Ini masalah kuasa, alibimu berharga
    Kalau kami tak percaya, lantas kau mau apa?

    Kamu tak berubah, selalu mencari celah
    Lalu smakin parah, tak ada jalan tengah

    Jelas kalau kami marah, kamu dipercaya susah
    Pantas kalau kami resah, sebab argumenmu payah

    Kamu ciderai janji, luka belum terobati
    Kami tak mau dibeli, kami tak bisa dibeli

    Ini mosi tidak percaya, jangan anggap kami tak berdaya
    Ini mosi tidak percaya, kami tak mau lagi diperdaya

     

    Komentar
    Artikel ini belum lengkap tanpa pendapat Anda. Kirim komentar Anda.
    Loading komentar...
    Blog Author
    Ulin Yusron
    Ulin Yusron
    Jurnalis di Beritasatu.com
    Pemilik akun twitter @ulinyusron ini adalah anggota Aliansi Jurnalis Independen Jakarta. Penggemar sejati Manchester United dan pecinta keindahan alam, terutama manusia. Hobinya baca dan jalan-jalan. Semboyan hidupnya "Apa adanya itu luar biasa". Cita-cita terdekatnya pengin kuliah S2 di Manchester
    Total post : 14 | lihat semua post