BeritaSatu.com

Hidup Anda bisa seindah pelangi
Jika Anda pandai mewarnai.
Kami datang setiap hitungan detik,
membawa aneka ragam informasi.

Beritasatu.com mewarnai hidup Anda
dengan informasi aktual-penuh makna.
Beritasatu.com sumber informasi terpercaya.
Close
    Beritasatu menerima blog karya Anda. Kirimkan ke blog@beritasatu.com

    Melihat MU vs Real Madrid Dari Dua Perspektif Berbeda

    Rabu, 06 Maret 2013 | 14:09

    Saya selalu tergelitik jika ditanyai soal netralitas. Tak sedikit yang mengeluh soal bagaimana saya berat sebelah seperti berada di neraca yang memuat Pretty Asmara di satu sisi timbangan dan Widi Vierra di sisi satunya lagi. Satu orang twitterati (yang tak usah disebutkan akunnya, tapi saya akan memberinya kecupan virtual) menyebut saya self-righteous. Ah, indahnya. Hampir terdengar seperti sebuah pujian. Saya akan menaruhnya dalam bio Twitter.

    Omong-omong soal netralitas, berbagai mention di Twitter menyatakan tak sabar untuk melihat artikel ulasan soal pertandingan Manchester United vs Real Madrid semalam. Itu yang mereka ucapkan, tapi saya yakin bahwa yang sebenarnya ingin mereka katakan adalah mereka penasaran apakah saya punya kebesaran hati untuk mencerca kekalahan tim favorit saya, Manchester United, sama seperti saat saya mencerca tim lainnya.

    Saya yakin hati saya cukup besar walaupun tidak menderita hepatomegaly. Saya punya laporan CT Scan untuk membuktikan klaim tersebut. Okay, saya tidak punya, tapi percayalah apa yang saya katakan seperti anda percaya dengan apa yang dikatakan Rudy.

    Filsuf Prancis, Henri Bergson, yang memenangi Nobel Sastra tahun 1927, melontarkan pernyataannya yang paling termashyur, “The eye only sees what the mind is prepared to comprehend”. Mata hanya melihat apa yang siap dicerna oleh pikiran.

    Saya, seperti halnya anda, tak begitu gemar mendengarkan orang lain, tapi saya tahu bahwa saat seorang pemenang Nobel berbicara, setidaknya anda harus memperhatikan. Maka dalam rangka merayakan pernyataan dari Monsieur Bergson, saya akan membuat dua analisa dari pertandingan Manchester United vs Real Madrid semalam dari 2 sudut yang berbeda.

    Yang pertama dari perspektif yang hanya terlihat dari mata karena pikiran menghendaki demikian.

    Yang kedua dari perspektif yang tidak terlihat dari mata karena pikiran tidak menghendaki demikian.


    Perspektif Suporter Manchester United
    Manchester United bermain hebat dengan 11 orang dan mampu membuat para pemain Real Madrid frustrasi di babak pertama. Praktis di 45 menit pertama Madrid terpaksa melepas long ball berulang kali karena gagal menembus lini belakang United yang solid. Keputusan Sir Alex Ferguson menurunkan Danny Welbeck dan membangkucadangkan Wayne Rooney terbukti tepat. Welbeck mematikan pergerakan Xabi Alonso yang tak bisa berkutik.

    Tapi malapetaka datang ketika Nani diusir oleh wasit dari Turki, yang namanya ribet, karena dianggap melakukan tindakan berbahaya dengan mengangkat kaki terlalu tinggi dan menghantam Alvaro Arbeloa.

    Keputusan yang menggelikan! Anda bisa melihat sendiri bagaimana posisi Nani. Ia sedang berusaha mengontrol bola yang berada di mid-air, terang saja ia mengangkat tinggi kakinya. Tapi Nani tidak berusaha menyakiti siapa pun. Posisinya bahkan membelakangi Arbeloa. Nani tidak tahu bahwa Arbeloa berlari ke arahnya.

    Wasit jelas mengambil keputusan yang salah dan merampok Man United yang sedang unggul 1 gol. Ini jelas perampokan. Rasanya tidak keterlaluan jika ada yang merasa ini bagian dari konspirasi.

    Tentu saja sulit bermain dengan 10 orang menghadapi tim seperti Real Madrid. Hal ini mengingatkan pada insiden 3 tahun lalu saat United bertemu dengan Bayern Muenchen dan bermain bagus sampai ketika Rafael dikartumerah karena sebuah pelanggaran konyol. Bagaimana sebuah kejadian kecil bisa mempengaruhi jalannya pertandingan.

    United bermain heroik, buktinya saat bermain dengan 10 orang pun United tetap bisa mengancam gawang Madrid beberapa kali. Tapi sialnya kiper Diego Lopez sedang bermain di partai terbaik sepanjang karirnya yang akan ia ingat sampai akhir hayat nanti.

    Tentu saja kartu merah tersebut mengubah jalannya pertandingan. Sayang sekali bahwa yang menjadi fitur terbesar dari pertandingan ini bukan sepakbolanya, tapi malah performa wasit.

    Jose Mourinho mengatakan usai pertandingan bahwa Madrid tidak pantas menang dan tim terbaik tadi malam terpaksa kalah. Tumben dia punya nalar dan akal sehat. GGMU!


    Perspektif Non-Suporter Manchester United
    Kartu merah Nani jelas sekali sebuah keputusan yang benar. Peraturan FIFA soal Laws Of The Game menyatakan bahwa seorang pemain harus dikartumerah jika ia mengangkat kakinya dari tanah dan membahayakan keselamatan pemain lawan.

    Salah satu legenda MU, Roy Keane, saja  bilang bahwa Nani pantas dikartumerah. Legendanya saja omong begitu, masa fans-fansnya tidak mau dengar?
    Tidak penting pembelaan para fans MU bahwa Nani hanya sedang berusaha mengontrol bola, bukan ingin menendang Arbeloa, karena peraturan FIFA berkata demikian. Tidak penting bagaimana maksud awal dari Nani, tapi apa yang ia lakukan bisa berakibat fatal bagi Arbeloa.

    Tahukah anda, fans MU, bahwa apa yang dilakukan Nani tersebut bisa saja mengakhiri karir Arbeloa? Sebuah tendangan kungfu yang bisa merusak organ dalam tubuh, belum lagi merobek perutnya. Coba bayangkan bagaimana konsekuensinya jika itu terjadi? Bagaimana masa depan anak dan istri Arbeloa? Nani bisa membuat seorang anak menjadi yatim!

    Memang MU bermain jelek dan pantas kalah. Dari babak pertama mereka ditekan terus dan Madrid unggul ball possession. MU Cuma bisa serangan balik dan bertahan. Tidak gampang kan bertahan memarkir bis untuk menang? Makanya jangan suka mengejek Chelsea musim lalu. Dikira gampang apa?

    Kartu merah Nani mengubah pertandingan? Ah, itu alasan saja. Gol pertama dari Luka Modric itu bukan karena MU main 10 orang, tapi murni karena buah tendangan fantastis dari gelandang Kroasia tersebut. Gol kedua dari Cristiano Ronaldo? Jelas sekedar karena bek-bek MU kehilangan konsentrasi dan luput menghalau Ronaldo yang berdiri di blindside.

    Intinya tim terbaik pada pertandingan tadi malam menang dan itu adalah Real Madrid. Jangan percaya apa yang dikatakan Jose Mourinho soal tim terbaik terpaksa kalah. Itu Cuma ungkapan sarkastik dari Mou. Dia tidak benar-benar bermaksud kaya gitu.

    Lagipula kalau memang wasit berbuat kesalahan dengan kartu merah Nani, anggap saja itu sebuah karma dari bagaimana selama ini MU selalu diuntungkan oleh wasit. Tidak semua orang bisa jadi Howard Webb. Tuailah apa yang kau tabur, MU!

    ***

    Mata hanya mau melihat apa yang bisa dicerna oleh pikiran, kata Henri Bergson. Jadi memang terserah anda mana yang mau anda lihat. Tapi apa pun perspektif yang anda gunakan dan opini apa pun yang terbentuk, faktanya tetap bahwa Manchester United kalah dan Real Madrid menang.

    Pendiri The Guardian, CP Scott, mengatakan, “Comment is free, but facts are sacred”.

    Sebelum saya terlalu banyak mengutip pernyataan dari tokoh-tokoh yang sudah mangkat dan namanya belum pernah anda dengar untuk membuat saya terlihat intelek, lebih baik artikel pretentious ini diakhiri saja.

    Omong-omong soal netralitas, saya bisa mengklaim bahwa saya netral. Senetral The Holy See pada era Perang Dunia II.

    Blog Author
    Pangeran Siahaan
    Pangeran Siahaan
    Pecinta Sepak Bola
    Cita-citanya yang tidak kesampaian untuk menjadi pemain sepakbola memaksanya untuk menendang bola melalui kata-kata. Jika Anda tertarik pada hal-hal seperti St. Pauli FC, Brian Clough, dan masa depan formasi 4-2-3-1, maka Pangeran adalah orang yang tepat diajak bicara. Ia adalah koresponden sepakbola Indonesia untuk Press Association dan kontributor di blog The Jakarta Globe. Saat sedang tidak sibuk menonton sepakbola, Pangeran bisa didapati sedang menulis skrip acara TV Provocative Proactive tempat ia menjabat sebagai Chief Creative Writer.
    Total post : 212 | lihat semua post
    Close Ads