BeritaSatu.com

Hidup Anda bisa seindah pelangi
Jika Anda pandai mewarnai.
Kami datang setiap hitungan detik,
membawa aneka ragam informasi.

Beritasatu.com mewarnai hidup Anda
dengan informasi aktual-penuh makna.
Beritasatu.com sumber informasi terpercaya.
Close
    Beritasatu menerima blog karya Anda. Kirimkan ke blog@beritasatu.com

    Babak baru PSSI: Profesionalitas Klub dan Liga

    Rabu, 20 Maret 2013 | 08:10

    Setelah bertahun-tahun sepakbola Indonesia berada didalam lembah konflik yang tidak kunjung menemui titik temu, pada tanggal 17 Maret 2013 kemarin Kongres Luar Biasa yang diadakan oleh pihak PSSI yang turut juga dihadiri oleh perwakilan FIFA dan AFC sukses digelar. Walkout yang dilakukan beberapa pihak ternyata tidak berpengaruh pada jalannya KLB. Malah pihak FIFA dan AFC memuji suksesnya KLB ini. Inikah pertanda kembalinya sepakbola Indonesia yang terbaring sakit selama 3 tahun terkahir?

    Kita tahu pelaksanaan kongres sebelum-sebelumnya berlangsung kacau dan seringkali terjadi deadlock. Aksi protes yang frontal saat sidang berlangsung hingga melaksanakan kongres di lobi hotel. Berbagai cara kita tempuh untuk menyelamatkan sepakbola Indonesia dari tahun 2010 hingga sekarang, tapi selama itu pula konflik seolah tidak mau jauh dari sepakbola kita.

    Kembali ke Kongres Luar Biasa. Sebagai pengingat ingatan Anda, agenda yang dibahas dalam kongres kali ini yaitu soal penyatuan liga (ISL dan IPL) serta penjelasan struktur dan mekanisme promosi dan relegasinya, pengembalian empat anggota Eksekutif Komite, revisi statuta PSSI, dan penyelenggaraan kongres sesuai KLB Solo 2011. Dalam kongres ini juga KPSI secara resmi dibubarkan. Dari poin-poin diatas salah satunya tercipta kesepakatan di mana ISL dan IPL akan berjalan masing-masing musim ini. Mulai musim depan ISL dan IPL baru akan digabung dengan jumlah 22 klub yang akan bertanding dalam satu liga resmi. Rinciannya adalah 18 klub dari ISL dan 4 klub dari IPL.

    Setelah kongres selesai dan sukses dilaksanakan, apa selanjutnya yang PSSI harus lakukan untuk sepakbola Indonesia??

    Meskipun pelaksanaan kongres ini sukses dan Indonesia terlepas dari bayang-bayang sanksi, sepakbola Indonesia belum sepenuhnya sehat. Beberapa hari lalu sebelum KLB saya kebetulan melihat salah satu tweet dari FIFPro, organisasi pemain profesional dunia, yang menyebutkan bahwa kondisi klub di Indonesia hingga saat ini masih saja kesulitan untuk membayarkan gaji untuk para pemain. Di salah satu tweet FIFPro bahkan ingin Sepp Blater untuk segera menindaklanjuti kasus ini dengan tujuan agar tidak terulang lagi kasus meninggalnya pemain seperti Diego Mendieta tahun lalu. Jadi apakah Indonesia sudah bisa menghirup udara lepas dan terbebas dari jeratan sanksi?? Belum tentu.

    Status profesional sepertinya masih sulit untuk disematkan pada klub-klub di Indonesia. Keterlambatan pembayaran gaji, terbengkalainya nasib pemain-pemain yang berasal dari luar Indonesia, dan buruknya manajemen masih menjadi masalah utama. Tidak maksimalnya perhatian dari induk organisasi dan penyelenggara liga menjadi salah satu faktor mengapa klub di Indonesia selalu dalam kondisi yang tidak maksimal baik secara finansial maupun secara tim ketika mengarungi kompetisi.

    Dalam kriteria klub profesional menurut AFC dan FIFA menyebutkan bahwa klub harus mempunyai pendapatan dari sponsor, penjualan tiket, hak siar, hingga keuntungan merchandise. Kita tahu bahwa beberapa klub di Indonesia memiliki manajemen yang cukup baik dalam pengolahan pembayaran gaji hingga sponsorship, tetapi tidak semua klub menerapkan hal yang sama. Dalam pertandingan liga bahkan beberapa klub seringkali yang harusnya main dikandang sendiri malah harus dipindah ke stadion lain. Hal ini jelas mempengaruhi pendapatan dari klub.

    Perhatian dari klub terhadap pemain dan perhatian dari induk organisasi kepada klub-klub domestik harus lebih ditingkatkan intesitasnya. Karena pada dasarnya ruang lingkup hubungan antara pemain, klub, dan induk organisasi seharusnya berada dalam jarak yang dekat sehingga hal-hal sekecil apapun dapat diantisipasi oleh pihak induk organisasi. Dan yang pasti politisasi dalam persepakbolaan kita sudah seharusnya diminimalisir atau kalau bisa tidak perlu ada sama sekali campur tangan politik.

    Untuk sesaat publik sepakbola Indonesia dan PSSI boleh bernafas lega setelah lolos dari jeratan sanksi FIFA. Tapi sesungguhnya PSSI belum sepenuhnya bisa tenggelam dalam euforia layaknya Arsenal yang baru memenangkan trofi. Sudah saatnya PSSI menyelesaikan pekerjaan rumah lainnya. Setelah kasus dualisme sudah mencapai epilog-nya, kini masalah profesionalitas klub dan liga menjadi chapter baru untuk diselesaikan. 

    Blog Author
    Daniel Setiawan
    Daniel Setiawan
    Mahasiswa
    Mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Bunda Mulia ini pernah memiliki impian menjadi pemain sepak bola, meski akhirnya terhalang restu orangtua. Dunia desain grafis sempat menarik perhatian lelaki kelahiran 23 Oktober 1992. Sempat diterima di jurusan DKV, setelah melalui beberapa pertimbangan dengan orangtua, akhirnya ia memilih hijrah ke jurusan komunikasi yang masih dijalani hingga sekarang dengan konsentrasi di bidang Broadcast. Selalu mencoba menikmati jalannya rutinitas harian yang ada, karena setiap harinya adalah pengalaman baru.
    Total post : 12 | lihat semua post