BeritaSatu.com

Hidup Anda bisa seindah pelangi
Jika Anda pandai mewarnai.
Kami datang setiap hitungan detik,
membawa aneka ragam informasi.

Beritasatu.com mewarnai hidup Anda
dengan informasi aktual-penuh makna.
Beritasatu.com sumber informasi terpercaya.
Close
    Beritasatu menerima blog karya Anda. Kirimkan ke blog@beritasatu.com

    Anatomi Sepak Bola: Playmaker, Trequartista, Regista

    Minggu, 18 Desember 2011 | 14:47

    Semua orang membicarakan Neymar, remaja berjambul ayam dengan sihir di kedua kakinya. Ketika Santos turun menghadapi Kashiwa Reysol di ajang FIFA Club World Championship, Neymar membuktikan bahwa reputasinya sebagai the next big thing di dunia sepak bola bukan sekadar isapan jempol. Neymar memang tampil memukau pada pertandingan itu, tapi yang lebih membuat saya penasaran sebenarnya adalah rekan setimnya yang berposisi lebih dalam, Ganso.

     

    Jika Neymar penyerang yang menggiring bola layaknya sirkus, maka Ganso playmaker yang berposisi lebih ke dalam. Reputasi Ganso tak kalah menterengnya dengan Neymar, tapi saya selalu penasaran jenis playmaker seperti apakah Ganso.

     
    Ada playmaker lainnya selain Ganso. Francesco Totti, Juan Roman Riquelme, Andrea Pirlo, Xavi, Luka Modric, Xabi Alonso, semuanya tepat untuk dilabeli sebagai playmaker, tapi hanya mereka yang tidak pernah menonton sepak bola sajalah yang bisa bilang mereka semua setipe.
     
    Setiap negara mempunyai kultur sepak bolanya sendiri, tidak hanya dalam aspek fans, tapi juga aspek taktis. Italia, negara yang secara tradisional memakai playmaker dalam skema permainannya membagi posisi ini dalam dua tipe. 
     
    Yang pertama adalah playmaker yang berposisi di lubang di belakang lini serang. Kita mengenalnya dengan trequartista (secara harafiah berarti tiga-perempat lapangan). Pemain yang menempati posisi ini bertindak sebagai otak serangan tim yang selain menyuplai bola ke penjuru lapangan, juga mampu menciptakan peluang bagi dirinya sendiri. 
     
    Pemain jenis ini adalah classic number 10, jiwa dan roh permainan. Setiap bola ada di kakinya kita mengharapkan sesuatu yang luar biasa terjadi. Seiring populernya istilah trequartista, kita mengenal bagaimana Francesco Totti di AS Roma identik dengan posisi itu.
     
    Jenis playmaker yang kedua adalah pengatur serangan yang ditempatkan jauh di dalam, cenderung di lapisan terdalam lini tengah. Di Italia posisi ini disebut regista, kita di Indonesia mengenalnya dengan deep-lying playmaker. Sepertinya halnya trequartista identik dengan Totti, maka tak ada ikon regista yang lebih populer daripada Andrea Pirlo. 
     
    Sepak bola Italia sedang statis secara taktik sampai ketika Carlo Ancelotti menempatkan Pirlo duduk menjadi dirigen di belakang garis gelandang. Pirlo, gelandang muda brilian yang tampak gagal memenuhi potensinya dan baru saja menjalani masa pinjaman di Brescia, akhirnya menemukan posisi yang pas dan akan dikenang sebagai salah satu gelandang terbaik Italia.
     
    Di Argentina, playmaker dipandang dengan perspektif yang lebih mono-dimensional. Di negara Tango tersebut, playmaker disebut dengan istilah Enganche (hook/pengait) yang bertugas menjahit lini tengah dengan lini depan. 
     
    Sejarah mencatat beberapa nama yang lekat dengan posisi ini seperti Ermindo Onega dan Ricardo Bochini, tapi penggila sepak bola yang lebih muda seperti saya mungkin lebih familiar dengan Juan Roman Riquelme, yang hidup dan matinya hanya sebagai enganche.
     
    Berbeda dengan di Italia ketika playmaker lebih mempunyai peran taktis, di Argentina enganche lebih dianggap sebagai seniman dengan bola di kakinya. Ia bebas melakukan apa pun untuk mendikte permainan timnya, termasuk memperlambat tempo permainan. 
     
    Menurut jurnalis sepak bola Argentina, Hugo Asch, ”enganche adalah seorang penyair, seniman, yang gundah jiwanya dan sulit dimengerti orang banyak. Ia kerap dianggap gila oleh orang di sekelilingnya, tapi adalah sesuatu yang tidak benar jika ia berpikir waras.”
     
    Anda tahu momen-momen saat playmaker klasik seperti Riquelme menunda tempo permainan dan tampak diam dengan bola di kakinya? Sesungguhnya itu adalah proses kreatif bagi seorang seniman untuk menghasilkan mahakarya. 
     
    Kolumnis sepak bola lain, Ezequiel Fernandes Moores meminjam istilah musik untuk menggambarkan, ”dalam pause tidak ada musik. Hening. Tapi pause berguna untuk menciptakan musik”. 
     
    Orang Argentina menyebut momen ketika seorang playmaker berpikir dengan ”La Pausa”. Sebagai seorang pemain yang hampir tidak mempunyai tanggung jawab untuk bertahan dan bebas bergerak ke mana saja ia mau, seorang playmaker jenis ini mempunyai lisensi untuk berkreasi apa saja, tapi sayangnya di lain sisi, tanpa bola di kakinya ia menjadi beban. Pasalnya kerap kali alur bola menjadi sentralistik ke arahnya, maka tidak sulit untuk mematikan permainan playmaker gaya enganche ini seiring meningkatnya kesadaran memaksimalkan peran gelandang bertahan.
     
    Evolusi taktik modern menjadikan sepak bola lebih mekanis, tapi kebutuhan akan pengatur serangan yang kreatif tetap ada sehingga membutuhkan beberapa penyesuaian.
     
    Rafael van der Vaart, Wesley Sneijder, Luka Modric, Deco, untuk menyebut sebagian kecil, adalah jenis-jenis playmaker modern yang selain dituntut untuk berkreasi juga mempunyai peran defensif. Mereka semua bebas bergerak ke mana saja dengan bola, tapi saat tidak memegang bola, mereka berkewajiban mengikuti arah diagram pertahanan yang diarahkan pelatih. 
     
    Tapi tak semuanya bisa dilihat dengan kacamata hitam putih karena saking dinamisnya sepak bola modern, mustahil untuk melabeli seorang pemain terhadap sebuah posisi secara sakelijk.
     
    Ambil contoh Barcelona, tim dengan tumpukan gelandang brilian. Yang manakah dari antara semua pemain mereka yang bisa disebut playmaker? Orang akan dengan cepat menyebut Xavi. Tapi lalu timbul pertanyaan, bagaimanakah peran Andres Iniesta? Apakah ia lebih tidak seorang kreator dibanding Xavi? Lalu bagaimana dengan Lionel Messi yang, selain punya dribble dari planet lain, juga punya visi permainan dan umpan terukur untuk membuka ruang? 
     
    Kembali ke pertanyaan awal, jenis playmaker yang manakah Ganso? Ia jelas memiliki visi lapangan dan kemampuan passing di atas rata-rata. Sebagai orang Brazil, tak mengejutkan melihat ia punya footwork dan teknik menggiring bola yang hebat, bahkan untuk ukuran playmaker
     
    Tapi yang mengejutkan, bermain di klub negaranya ketika bertahan dipandang sebagai hal sekunder, Ganso beberapa kali terlibat pergelutan di lini belakang dan meyakinkan saya bahwa seberapa pun tingginya teknik individu seorang playmaker, sedikit sekali tempat yang tersedia bagi mereka yang tidak dibebani kemampuan bertahan.
     
    Blog Author
    Pangeran Siahaan
    Pangeran Siahaan
    Pecinta Sepak Bola
    Cita-citanya yang tidak kesampaian untuk menjadi pemain sepakbola memaksanya untuk menendang bola melalui kata-kata. Jika Anda tertarik pada hal-hal seperti St. Pauli FC, Brian Clough, dan masa depan formasi 4-2-3-1, maka Pangeran adalah orang yang tepat diajak bicara. Ia adalah koresponden sepakbola Indonesia untuk Press Association dan kontributor di blog The Jakarta Globe. Saat sedang tidak sibuk menonton sepakbola, Pangeran bisa didapati sedang menulis skrip acara TV Provocative Proactive tempat ia menjabat sebagai Chief Creative Writer.
    Total post : 212 | lihat semua post