BeritaSatu.com

Hidup Anda bisa seindah pelangi
Jika Anda pandai mewarnai.
Kami datang setiap hitungan detik,
membawa aneka ragam informasi.

Beritasatu.com mewarnai hidup Anda
dengan informasi aktual-penuh makna.
Beritasatu.com sumber informasi terpercaya.
Close
    Beritasatu menerima blog karya Anda. Kirimkan ke blog@beritasatu.com

    Adil terhadap Samad

    Senin, 08 April 2013 | 09:57

    Surat teguran tertulis terhadap Abraham Samad dengan alasan ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu berinteraksi dengan pihak eksternal, menyimpan pertanyaan besar. Ini sama dengan pertanyaan besar di kalangan masyarakat, mengapa surat perintah penyidikan (sprindik) sampai bocor. Ada apa gerangan?

    Baik sanksi terhadap Samad maupun bocornya sprindik sesungguhnya sama-sama menyuratkan satu pesan penting, yakni KPK memang sedang tidak kompak. Kalau pelanggaran kode etik sedang yang dikenakan kepada Samad adalah komunikasinya dengan pihak eksternal, mengapa hanya Abraham Samad yang mendapat surat peringatan? Seketat apa pun bidang tugas  yang diemban KPK, semua pimpinan institusi  ini pasti berhubungan dengan pihak eksternal. Hakulyakin untuk hal ini.

    Publik justru melihat ada hal lain di balik keputusan Komite Etik KPK, yakni upaya menyingkirkan Abraham Samad dari kursi ketua KPK. Sudah bukan  rahasia lagi bahwa di antara pimpinan KPK ada yang ingin berlari cepat, tapi ada pula yang merangkak dalam penetapan tersangka kasus korupsi. Abraham Samad adalah sosok yang sangat berani dan ingin mempercepat pemberantasan korupsi di Indonesia.

    Bocornya sprindik kasus Anas Urbaningrum semakin menguak rahasia  ketidakakuran di antara pimpinan KPK. Bocornya sprindik ini disebabkan sikap mayoritas pimpinan KPK yang tak mau menerima hasil tim penyidik KPK. Dalam keterbatasan KPK, tim penyidik berhasil menemukan bukti awal yang menyakinkan bahwa Anas Urbaningrum terlibat. Alat bukti sudah cukup untuk menetapkan mantan ketua umum Partai Demokrat itu sebagai tersangka.

    Tapi, mereka tidak kompak. Ada yang menginginkan keputusan terkait Anas segera diambil, tapi ada pula yang mengulur-ulur waktu. Bocornya sprindik  akhirnya membuka “perang batin” di antara pimpinan KPK selama ini. Tak ada lagi yang perlu ditutup-tutupi dengan kasus ini.

    Kini, setelah Komite Etik menjatuhkan keputusannya, kita berharap tidak ada lagi duri yang menggangu tugas-tugas yang perlu segera dituntaskan KPK. Kita juga harapkan, seusai kasus bocornya sprindik Anas Urbaningrum,  tidak ada lagi ruang bagi berbagai kepentingan lain untuk masuk dan merusak fokus tugas KPK.

    Kasus bocornya sprindik Anas harus dijadikan pelajaran amat mahal bagi Abraham Samad beserta para pimpinan KPK. Mereka harus kompak.  Bagaimanapun untuk pemberantasan korupsi secara progresif di Tanah Air,  KPK tetap menjadi tumpuan dan harapan masyarakat. Karena itu, KPK harus memperkuat kembali kredibilitas, kewibawaan, dan penguatan kelembagaan. Segenap unsur pimpinan KPK pun mesti memperkuat soliditas, komunikasi, saling mengingatkan, kolektif kolegial, dengan tetap menerapkan supremasi hukum.

    Kejadian sprindik Anas harus menjadi bagian dari terciptanya kekompakan, kerja sama, dan efektivitas kepemimpinan KPK di masa-masa mendatang.  Hal itu penting, karena masih banyak agenda yang harus diselesaikan KPK dalam konteks pemberantasan korupsi dan penegakan hukum. Masih banyak kasus besar yang membutuhkan perhatian sungguh-sungguh dari KPK, seperti kasus Hambalang, Century, dan berbagai korupsi kakap lainnya. Tak bisa diharapkan kasus-kasus ini selesai kalau pimpinan KPK tidak kompak, saling curiga, bahkan saling menyalahkan.

    Ke depan, pimpinan KPK harus fokus pada tugasnya, yakni pemberantasan korupsi. Kelima komisioner KPK harus bisa mengembalikan wibawa institusi tersebut. Terciptanya institusi  KPK yang berwibawa, punya kredibilitas, baik dan sehat, serta dapat bekerja secara profesional dalam menjalankan fungsi dan kewenangannya, adalah harapan seluruh rakyat Indonesia.

    Akan halnya Abraham Samad, meski secara pskologis  kredibiltas ketua KPK ini agak terganggu oleh kasus bocornya sprindik Anas, kita harapkan itu hanya berlangsung sementara. Jangan sedikit pun mengurangi rasa hormat kita kepada Abraham Samad, atas keberanian dan keunikan yang dimilikinya. Figur seperti Abraham Samad sangat kita butuhkan.Sanksi peringatan tertulis sudah cukup bagi Samad. Dia bukan pelaku. Pelaku pembocor sprindik adalah sekretarisnya, Wiwin Suwandi. 

    Kalaupun yang menjadi persoalan kode etik adalah komunikasi Samad dengan pihak eksternal, itu berarti kita sudah bertindak tidak adil dan tidak jujur.  Kita yakin, semua pimpinan pasti berkomunikasi dengan pihak luar.  Karena itu, jangan terlalu membesar-besarkan soal sprindik Anas, karena  ada karang besar yang tetap terpajang di depan pelupuk mata kita, yakni  praktik korupsi yang merajalela di seantero Tanah Air.

    Guna meruntuhkan karang besar tersebut, kita membutuhkan figur seorang  Abraham yang mempunyai semangat antikorupsi.  Jadi, tidak boleh hanya karena  masalah sprindik, kita kemudian menyalahkan Abraham Samad. Dengan segala kekurangan dan keunikannya, figur Abraham Samad sangat kita perlukan untuk memerangi korupsi  yang menjadi penyakit akut di republik ini.

    Komentar
    Artikel ini belum lengkap tanpa pendapat Anda. Kirim komentar Anda.
    Loading komentar...
    Blog Author
    Investor Daily
    Investor Daily
    investor.co.id
    Daily news and information on financial markets and investments.
    Total post : 360 | lihat semua post