BeritaSatu.com

Hidup Anda bisa seindah pelangi
Jika Anda pandai mewarnai.
Kami datang setiap hitungan detik,
membawa aneka ragam informasi.

Beritasatu.com mewarnai hidup Anda
dengan informasi aktual-penuh makna.
Beritasatu.com sumber informasi terpercaya.
Close
    Beritasatu menerima blog karya Anda. Kirimkan ke blog@beritasatu.com

    Jangan Tunda Kenaikan BBM

    Jumat, 24 Mei 2013 | 08:55

    Salah satu faktor kenaikan harga saham di Bursa Efek Indonesia, Senin (20/5), adalah reaksi positif pelaku pasar terhadap penunjukan Chatib Basri sebagai menkeu, menganggantikan Agus Martowardojo. Pasar yakin, dengan posisi sebagai menkeu, Chatib akan tetap melanjutkan kebijakan fiskal yang prudent tanpa menghambat pencairan dana untuk berbagai pos yang sudah disetujui anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). Dengan kehadiran Chatib, harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi segera dinaikkan.

    Untuk menenangkan pasar, kenaikan harga BBM bersubsidi perlu diberlakukan Juni 2013. Penundaan akan membuat pemerintah kehilangan kredibilitas dalam mengelola fiskal. Jika itu terjadi, pemodal asing akan menarik kembali dananya dan capital outflow akan meningkat. Rupiah saat ini cukup rentan terhadap depresiasi. Perekonomian secara keseluruhan akan terganggu.

    Kondisi moneter saat ini tidak sebaik tahun sebelumnya. Neraca pembayaran pada kuartal pertama 2013 negatif. Cadangan devisa yang sempat US$ 120 miliar, kini tinggal US$ 104 miliar. Bila ada capital outflow dalam jumlah besar, neraca pembayaran kita akan jebol. Krisis moneter seperti tahun 1997-1998 tak terelakkan.

    Stabilitas moneter dan fiskal yang prudent adalah dua pilar yang menjadi andalan perekonomian Indonesia menghadapi krisis ekonomi sejak era Soeharto. Krisis ekonomi tahun 1997-1998 berawal dari krisis mata uang. Pelemahan mata uang memukul berbagai indikator ekonomi makro dan juga fiskal. Kini, fiskal yang tidak prudent bisa menjadi awal krisis ekonomi.

    Karena itu, pemerintah tidak boleh lagi ragu memberlakukan harga baru BBM bersubsidi, Juni 2013. Dalam rapat dengan Badan Anggaran DPR, Rabu (22/5), menkeu melontarkan rencana pemerintah untuk menaikkan harga BBM bulan Juni. Premium akan dinaikkan Rp 2.000 menjadi Rp 6.500 per liter dan solar Rp 1.000 menjadi Rp 5.500 per liter.

    Berapa persis tanggal kenaikan harga BBM sepenuhnya ditentukan presiden. Tapi, menkeu menyatakan harapannya agar selambatnya, akhir Juni, harga baru BBM bersubsidi sudah diberlakukan. Itulah juga harapan para pelaku pasar dan semua warga negara yang paham ekonomi. Penundaan kenaikan harga BBM berdampak sangat buruk terhadap perekonomian.

    Tanpa kenaikan harga BBM, subsidi BBM bakal membengkak dari Rp 193,8 triliun menjadi Rp 297,7 triliun. Sedangkan dengan kenaikan harga BBM - solar dan premium- pun, subsidi juga membengkak menjadi Rp 209,9 triliun. Lonjakan subsidi terjadi karena konsumsi BBM yang tak terkendali. Konsumsi BBM bersubsidi membengkak dari 46 juta menjadi 48 juta kiloliter.

    Dana kompensasi kenaikan harga BBM Rp 30,1 triliun kemungkinan besar disetujui mayoritas anggota DPR. Karena itu, tidak ada alasan pun bagi pemerintah untuk terus menunda kenaikan harga BBM. Walau agak terlambat, Juni adalah momentum yang tepat untuk menaikkan harga BBM. Setelah itu, Indonesia akan memasuki bulan suci Ramadan. Kenaikan harga BBM akan berpengaruh besar terhadap inflasi.

    Tidak ada satu pun alasan logis untuk mempertahankan BBM bersubsidi yang sangat besar. Pertama, BBM bersubsidi umumnya dinikmati kaum menengah atas yang memiliki mobil pribadi. Kaum miskin nyaris tidak kebagian BBM bersubsidi karena kualitas angkutan umum yang sangat buruk.

    Kedua, perbedaan harga BBM bersubsidi dan harga pasar yang sudah mencapai Rp 5.000 per liter memicu penyelundupan dan tekanan pada premium. Ketika perbedaan harga premium bersubsidi dan pertamax sudah lebih dari Rp 2.800 per liter, konsumen pertamax beralih ke premium.

    Ketiga, harga BBM bersubsidi yang terlalu murah merupakan pelanggaran terhadap asas keadilan. Selama ini, sesama saudara di luar Jawa yang lebih miskin membeli premium dengan harga di atas Rp 6.000 per liter, bahkan hingga Rp 10.000 per liter.

    Keempat, harga premium yang terlalu rendah seperti sekarang menghambat konversi energi dan pengembangan energi alternatif, khusus energi biofuel. Selama harga BBM cukup murah, konsumen tak akan bersedia membeli energi alternatif yang harganya jauh lebih mahal.

    Dengan berbagai argumentasi ini, kita berharap pemerintah tak lagi menunda menaikkan harga BBM bersubsidi. Selambatnya, akhir Juni, harga baru BBM bersubsidi sudah diberlakukan.

    Blog Author
    Investor Daily
    Investor Daily
    investor.co.id
    Daily news and information on financial markets and investments.
    Total post : 524 | lihat semua post