BeritaSatu.com

Hidup Anda bisa seindah pelangi
Jika Anda pandai mewarnai.
Kami datang setiap hitungan detik,
membawa aneka ragam informasi.

Beritasatu.com mewarnai hidup Anda
dengan informasi aktual-penuh makna.
Beritasatu.com sumber informasi terpercaya.
Close
    Beritasatu menerima blog karya Anda. Kirimkan ke blog@beritasatu.com

    Karut-Marut Kuala Namu

    Jumat, 26 Juli 2013 | 08:15

    Penyakit birokrasi sudah menjadi pandemi di negeri ini. Kesalahan koordinasi, kuatnya ego sektoral, aturan yang tumpang-tindih, pelayanan yang lamban, perencanaan yang serabutan, dan pengerjaan proyek yang asal-asalan telah mewabah di mana-mana. Penyakit itu pula yang kini menjangkiti Bandara Kuala Namu di Deli Serdang, Sumatera Utara.

    Bandara Kuala Namu mulai Kamis (25/7) resmi beroperasi untuk menggantikan Bandara Polonia Medan yang sudah kelebihan kapasitas (over capacity). Inilah bandara berkelas internasional pertama di Indonesia yang dilengkapi dan terintegrasi langsung dengan jaringan kereta api (KA).

    Bandara Kuala Namu sejatinya adalah bandara "super". Jika Bandara Polonia hanya berdaya tampung 900.000 pergerakan penumpang per tahun, Kuala Namu mampu melayani pergerakan 8,1 juta penumpang per tahun. Dengan panjang runway 3.750 meter, Bandara Kuala Namu mampu didarati pesawat berbadan lebar sekelas Boeing 747-400. Bahkan, pada pengembangan berikutnya, Kuala Namu didesain memiliki kapasitas maksimal 22,1 juta pergerakan penumpang per tahun dan dapat menampung pesawat sekelas Airbus A380.

    Bandara Kuala Namu juga dirancang sebagai bandara berfasilitas wah. Untuk proses check-in, misalnya, bandara seluas 1.365 hektare yang berjarak sekitar 40 km dari Kota Medan ini dilengkapi 80 konter check-in dengan sistem baggage handling system (BHS), teknologi penanganan bagasi otomatis pertama yang digunakan bandara di Indonesia.

    Fasilitas lain yang mengundang decak kagum adalah delapan garbarata (avio bridge) canggih yang akan menghubungkan langsung penumpang dari area keberangkatan di dalam terminal menuju kabin pesawat. Juga keberadaan ruang tunggu (boarding lounge) mewah dan luas yang memisahkan penumpang penerbangan domestik dengan internasional, berikut area komersial di tiga lantai yang serba lengkap.

    Tapi, jangan dulu membayangkan Kuala Namu sudah mirip Bandara Cangi, Kuala Lumpur, Hong Kong, atau bandara-bandara internasional di Eropa dan Amerika Serikat (AS) yang serbamewah, lengkap, nyaman, dan menenteramkan. Kenyamanan dan kemewahan Bandara Kuala Namu mungkin baru bisa dirasakan beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun lagi. Itu pun jika pengelola bandara, pemda, dan kementerian terkait memiliki sense of belonging yang sama terhadap bandara tersebut.

    Kenyamanan dan kemewahan Bandara Kuala Namu baru di atas kertas. Pada hari "H" pengoperasiannya , jangan harap semua kenyamanan, keamanan, dan kemewahan itu ada. Pembangunan akses jalan arteri menuju Bandara Kuala Namu ternyata belum selesai. Jalan tol belum rampung. Fasilitas penunjang bandara di area terminal juga belum kelar. Tak kalah mencemaskan, kemacetan lalu lintas yang luar biasa dipastikan terjadi saat KA dari Medan ke Bandara Kuala Namu dioperasikan akibat banyaknya perlintasan sebidang.

    Bandara Kuala Namu yang dibangun sejak 2007 sesungguhnya belum siap dioperasikan. Lalu, kenapa pihak-pihak terkait, seperti PT Angkasa Pura (AP) II selaku operator, pemda setempat, Kementerian Perhubungan, Kementerian PU, dan Kementerian BUMN, memaksakan diri untuk mengoperasikan bandara tersebut? Ternyata alasannya sangat simpel, yakni karena pengoperasian Bandara Kuala Namu telanjur diumumkan ke masyarakat internasional sejak dua bulan silam.

    Alasan tersebut bukan saja tidak ilmiah, tidak rasional, dan penuh ironi, tapi sekaligus menunjukkan ketidakmampuan pihak-pihak terkait dalam menerapkan good governance. Secara terang-benderang, itu juga membuktikan bahwa mereka terjangkit penyakit birokrasi yang sudah akut. Koordinasi yang buruk, kuatnya ego sektoral, aturan yang tumpang-tindih, perencanaan yang serabutan, dan pengerjaan proyek yang asal-asalan telah mendarah-daging dalam birokrasi di negara ini.

    Kita sepakat bahwa karut-marut proyek Bandara Kuala Namu harus diluruskan. Pilar-pilar good governance--fairness (keadilan), transparency (transparansi), accountability (akuntabilitas), dan responsibility (pertanggungjawaban)--harus ditegakkan. Bagaimana pun, sebagian biaya pembangunan bandara ini yang totalnya Rp 5,8 triliun didanai dari APBN yang notabene adalah uang rakyat. Tak ada salahnya pula jika kita mendorong dilakukan pengusutan menyeluruh terhadap pembangunan proyek Bandara Kuala Namu. Jika Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) turun tangan dalam proyek "abadi" jalur Pantura Jawa, mengapa tidak untuk Bandara Kuala Namu?

    Blog Author
    Investor Daily
    Investor Daily
    investor.co.id
    Daily news and information on financial markets and investments.
    Total post : 446 | lihat semua post