BeritaSatu.com

Hidup Anda bisa seindah pelangi
Jika Anda pandai mewarnai.
Kami datang setiap hitungan detik,
membawa aneka ragam informasi.

Beritasatu.com mewarnai hidup Anda
dengan informasi aktual-penuh makna.
Beritasatu.com sumber informasi terpercaya.
Close
    Beritasatu menerima blog karya Anda. Kirimkan ke blog@beritasatu.com

    Menjaga Stabilitas

    Selasa, 03 September 2013 | 08:17

    Dengan menaikkan suku bunga acuan BI rate sebesar 50 basis poin ke level 7 persen, Bank Indonesia (BI) kian menunjukkan pentingnya stabilitas ekonomi. Dalam turbulensi ekonomi seperti ini, tidak semua target bisa digapai sekaligus. Harus ada prioritas: pertumbuhan atau stabilitas. Sedikit mengorbankan pertumbuhan, BI memprioritaskan stabilitas. Rupiah yang bergerak liar justru akan menghancurkan semua capaian target ekonomi yang sudah diupayakan selama ini.

    Selain menaikkan BI rate, bank sentral juga meluncurkan sejumlah kebijakan untuk menjaga likuiditas dolar AS. Turbulensi ekonomi diwarnai kepanikan para pelaku pasar dan situasi itulah yang terjadi di Jakarta dan sejumlah kota besar di Indonesia sebulan terakhir. Untuk meredam panic buying dolar, likuiditas mata uang bertuliskan In God We Trust itu harus disiapkan dalam jumlah cukup. Surat berharga yang selama ini hanya berjangka waktu beberapa hari hingga beberapa pekan diperpanjang hingga lebih dari enam bulan.

    Jika hasil yang diinginkan belum juga tercapai, bank sentral kemungkinan akan menaikkan lagi BI rate. Mumpung Indonesia belum masuk di jurang krisis, bahkan masih jauh dari ambang krisis sesuai kriteria pemerintah dalam Protokol Krisis, kebijakan ekstrem dengan menaikkan suku bunga acuan bank sentral bisa diterima para pelaku bisnis. Para bankir pun tidak mempermasalahkan jika BI rate dinaikkan hingga 8 persen jelang penghujung tahun ini.

    Dengan BI rate 8 persen, suku bunga deposito rupiah bisa mencapai 10 persen lebih. Surat utang yang diterbitkan pemerintah maupun swasta akan naik. Kondisi ini diharapkan bisa menarik minat pemodal untuk mengalihkan dana mereka ke rupiah, baik untuk ditempatkan di pasar uang maupun di surat utang. Indonesia tak akan lagi kesulitan likuiditas dolar AS. Kurs rupiah yang kini melambung jauh hingga menembus Rp 11.000 bisa turun ke Rp 10.000 hingga Rp 10.500 per dolar AS, level yang diinginkan pemerintah dalam revisi asumsi makro RAPBN 2014.

    Kenaikan BI rate sudah pasti mendongkrak bunga kredit. Harga dana akan mahal. Untuk sementara, Indonesia meninggalkan rezim bunga murah yang dinikmati satu setengah tahun terakhir. Apa boleh buat. Suku bunga pinjaman yang sempat turun ke level di bawah 13 persen harus kembali meningkat. Bunga KPR yang sudah mencapai satu digit kembali naik ke dua digit.

    Untuk mengerem anjloknya harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sudah membolehkan emiten melakukan buyback atau membeli kembali saham yang jatuh terlalu dalam hingga jauh di bawah nilai wajarnya dilihat dari price earning ratio (PER) dan price to book value (BV). Hampir semua saham kini sudah undervalued, tidak lagi mencerminkan kondisi fundamentalnya.

    Harga saham--sebagaimana kurs mata uang--mudah bergerak liar karena persepsi. Ketika ekonomi Indonesia dipersepsikan hendak roboh, penurunan harga saham di BEI bagai terjun bebas. Indeks harga saham gabungan yang pernah di atas 5.200 terjungkal hingga di bawah 4.000. Pada akhir pekan lalu, setelah pemerintah, BI, dan OJK merespons dengan sejumlah kebijakan, indeks kembali naik perlahan ke atas level 4.000. Rupiah relatif stabil pada kisaran Rp 10.800 hingga Rp 11.200 per dolar AS.

    Indonesia tidak sendirian. Turbulensi ekonomi justru berawal dari negara maju, AS dan Eropa. Krisis ekonomi AS yang terjadi tahun 2008 kini mulai pulih. Sedangkan Eropa yang mulai dihantam krisis tahun 2010 belum menampakkan perbaikan. Krisis Eropa menurunkan ekspor negara berkembang, termasuk negara besar, seperti Tiongkok dan Indonesia.

    Celakanya, Tiongkok--yang memproduksi berbagai macam produk pertanian dan industri--mengalihkan ekspornya ke Indonesia. Kawasan Perdagangan Bebas Tiongkok-ASEAN (CAFTA) membuka lebar-lebar pintu impor kedua negara dan hasilnya, tahun lalu, neraca perdagangan Indonesia dengan Tiongkok defisit hingga US$ 7 miliar. Secara keseluruhan, neraca perdagangan Indonesia pun defisit, sehingga menekan defisit neraca transaksi berjalan hingga 4,4 persen dari PDB pada semester pertama 2013.

    Dalam jangka pendek, pemulihan ekonomi AS berdampak buruk terhadap Indonesia. Melihat kemajuan perbaikan ekonomi negaranya, The Fed merencanakan penurunan quantitative easing (QE) atau pemompaan likuditas kepada pemerintah untuk membiayai pembangunan. Kebijakan ini berdampak langsung pada menariknya surat berharga AS untuk investasi. Para investor di berbagai negara mengalihkan dananya ke pasar surat berharga AS.

    Akibat quantitative easing tidak saja dirasakan Indonesia, melainkan semua negara. Dolar AS menguat terhadap hampir semua mata uang dunia, termasuk dolar Australia. Harga saham di berbagai bursa dunia juga turun. Faktor eksternal ini diperparah oleh respons internal yang kurang cepat dan tepat. Salah satu contohnya adalah terlambatnya penyediaan bahan pangan jelang Ramadan, sehingga melejitkan inflasi.

    Seperti analisis para pengamat, pemerintah akhirnya merevisi turun proyeksi laju pertumbuhan ekonomi tahun 2014 dari 6,3 persen ke 5,8 persen. Meski turun, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih tergolong tertinggi di dunia, setelah Tiongkok dan India. Pertumbuhan ekonomi negara-negara maju maksimal 2 persen, bahkan sejumlah negara masih minus.

    Paul Krugman, ekonom kondang kelas dunia, menegaskan, ekonomi Indonesia jauh dari krisis. Ekonomi Indonesia tidak akan terpuruk seperti tahun 1998. Persepsi inilah yang kiranya harus dibangun. Indonesia memiliki kekuatan konsumsi domestik dan kondisi inilah yang menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Saat ini, Indonesia memiliki 50 juta orang kaya dan 100 juta kelas menengah. Kedua kelompok ini, terutama yang 50 juta, yang menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi.

    Kita memang harus optimistis dan pernyataan Paul Krugman membesarkan hati kita. Tapi, kita tidak boleh terlena. Stabilitas ekonomi penting untuk menjaga keseimbangan. Kenaikan suku bunga adalah rem. Tapi, jika rem terus-menerus diinjak, mobil ekonomi Indonesia ini akan berjalan di tempat.

    Semua pihak wajib mengerjakan pekerjaan rumah (PR) dengan baik dan benar. Para bankir diharapkan tidak menaikkan terlalu tinggi bunga kredit. Para pelaku usaha tidak terlibat aksi spekulatif. Para eksportir diharapkan menyimpan dolarnya di bank-bank Indonesia. BI harus lebih berwibawa agar disegani pelaku pasar. Pemerintah perlu lebih serius memperbaiki iklim investasi. Hanya dengan langkah ini, kita boleh berharap, setelah stabilitas dan ekuilibrium, ekonomi Indonesia kembali melaju kencang.

    Blog Author
    Investor Daily
    Investor Daily
    investor.co.id
    Daily news and information on financial markets and investments.
    Total post : 470 | lihat semua post