Reksa Dana

Seperti pasar saham, industri reksa dana sedang bergelimang optimisme. Jika saat ini unit reksa dana baru sekitar 256,46 miliar dan nilai aktiva bersih (NAB) atau dana kelolaan (asset under management/AUM) baru mencapai Rp 345,65 triliun maka dalam beberapa tahun mendatang jumlahnya bakal berlipat ganda. Hal yang sama akan terjadi pada jumlah rekening investor reksa dana yang saat ini baru sekitar 500.000.

Secara historikal, industri reksa dana memang terus meningkat. Dalam sewindu terakhir, NAB industri reksa dana tumbuh rata-rata 25 persen per tahun. Hasil pengembalian investasi (return) reksa dana juga menjanjikan, malah kerap lebih tinggi dari pertumbuhan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) atau dibanding imbal hasil (yield) obligasi.

Tahun ini, berdasarkan prediksi moderat para analis, reksa dana masih menjanjikan return tinggi. Dengan skenario IHSG pada akhir Desember 2017 bertengger di level 5.800 dibanding 5.296 pada akhir 2016 (menguat 9,5 persen), reksa dana saham, reksa dana campuran, dan reksa dana pendapatan tetap masing-masing membukukan return 10,4 persen, 8,1 persen, dan 5,5 persen.

Bahkan, dalam skenario optimistis, reksa dana mampu menorehkan return yang jauh lebih besar. Dengan asumsi IHSG bercokol di level 6.100 pada akhir Desember 2017 (naik 15 persen dari akhir Desember 2016), reksa dana saham, reksa dana campuran, dan reksa dana pendapatan tetap diprediksi mencetak return masing-masing 17,7 persen, 13,4 persen, dan 7,5 persen.

Di luar itu, industri reksa dana di Tanah Air masih bergerak lamban. Sejak produk reksa dana diperkenalkan pada 1995, AUM reksa dana tak sebanding dengan jumlah pemegang rekening dana pihak ketiga (DPK) di perbankan. Dengan jumlah DPK saat ini sekitar Rp 4.809,30 triliun, berarti dana kelolaan reksa dana baru mencapai 16,5 persennya. Dengan jumlah rekening perbankan saat ini 196,5 juta, berarti rekening investor reksa dana baru 0,04 persennya.

Angka-angka itu akan terbenam lebih dalam jika disandingkan dengan pencapaian industri reksa dana negara-negara tetangga. AUM reksa dana di dalam negeri sebesar Rp 345,65 triliun (US$ 26,5 miliar) dengan rasio AUM terhadap produk domestik bruto (PDB) 2,84 persen masih jauh di bawah AUM industri reksa dana Thailand senilai US$ 131,49 miliar (32,8 persen PDB), Malaysia US$ 155,21 miliar (62,8 persen PDB), atau Singapura US$ 1,72 triliun (793 persen PDB).

Padahal, dari sisi potensi dan peluang, industri reksa dana di Indonesia memiliki segalanya. Di negeri ini terdapat sekurangnya 60 juta penduduk kelas menengah yang sangat potensial menjadi nasabah reksa dana. Jika para MI mampu menjaring 10 persen saja penduduk kelas menengah, industri reksa dana di Tanah Air akan langsung "terbang".

Berbagai upaya sebetulnya telah ditempuh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan para pemangku kepentingan lainnya, terutama Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI), untuk menggenjot jumlah nasabah dan AUM reksa dana di dalam negeri. Namun, sepertinya, upaya mereka belum cukup. Buktinya, target menambah jumlah investor menjadi 5 juta dan melipatgandakan AUM menjadi Rp 1.000 triliun belum terealisasi.

Upaya OJK mendorong pemasaran reksa dana mikro untuk menjangkau masyarakat menengah ke bawah dengan batasan nilai investasi awal minimal Rp 100.000 sudah tepat. Langkah OJK menambah jalur distribusi agen penjual efek reksa dana dengan melibatkan perusahaan di bidang pos dan giro, pegadaian, perasuransian, pembiayaan, dana pensiun, serta penjaminan juga sudah benar. Begitu pula kemudahan membuka rekening reksa dana secara online yang memungkinkan investor mendaftar sebagai nasabah dan bertransaksi dari jarak jauh.

Kita percaya, melalui langkah-langkah tersebut, inklusi keuangan dapat diwujudkan. Akses masyarakat bawah terhadap produk reksa dana akan semakin luas, sehingga mereka ikut menikmati keuntungan. Ujung-ujungnya, kesejahteraan mereka meningkat dan pemerataan pendapatan tercapai. Upaya OJK itu juga bakal meningkatkan literasi keuangan di kalangan masyarakat bawah. Dengan begitu, tak akan ada lagi cerita masyarakat terjerumus dalam investasi bodong.

Namun, sekali lagi, berbagai ikhtiar itu belum membuahkan hasil yang optimal. Faktanya, berbagai kasus penipuan berkedok investasi bodong masih sering terjadi. Alih-alih mengembang-biakkan uangnya pada instrumen investasi yang aman dan menguntungkan, sebagian masyarakat memilih investasi yang membuat mereka "buntung".

Maka tanpa bermaksud mengecilkan perjuangan OJK dan para pelaku industri reksa dana, tak ada salahnya jika kita mengingatkan mereka bahwa dibutuhkan langkah-langkah terobosan yang tak biasa untuk membangkitkan industri reksa dana. Tak hanya menyangkut kebijakan, tapi juga varian produk dan penetrasi pasar.

Dengan kata lain, upaya meningkatkan inklusi keuangan yang sedang digalakkan OJK, pemerintah, dan para pelaku industri harus seiring sejalan dengan upaya meningkatkan literasi keuangan. Itu karena literasi dan inklusi keuangan di Tanah Air masih terbilang rendah. Berdasarkan hasil survei terbaru OJK, indeks literasi dan inklusi keuangan saat ini masing-masing baru mencapai 29,66 persen dan 67,82 persen.

Tetapi upaya-upaya itu tetap tak akan membuahkan hasil optimal jika tidak diikuti sosialisasi dan edukasi. Itu sebabnya, kita mendorong OJK, manajer investasi (MI), dan pemangku kepentingan lainnya agar melakukan sosialisasi dan edukasi yang lebih efektif dan efisien. Selain itu, kita mendorong para MI meningkatkan jumlah maupun kualitas SDM-nya. Jumlah wakil agen penjual efek reksa dana (WAPERD) masih minim. Belum lagi dari sisi kualitas.

Kita sepakat bahwa reksa dana adalah instrumen yang paling cocok untuk meningkatkan literasi sekaligus inklusi keuangan di Indonesia. Dengan karakteristiknya yang tahan risiko, jumlah dana fleksibel, simpel, dan menguntungkan, reksa dana seharusnya menjadi instrumen investasi yang paling "dekat" dengan masyarakat. Reksa dana selama ini terasa "jauh" dan "asing" karena sosialiasi dan edukasinya belum efektif.

PENULIS:

investor.co.id
Daily news and information on financial markets and investments.