BeritaSatu.com

Hidup Anda bisa seindah pelangi
Jika Anda pandai mewarnai.
Kami datang setiap hitungan detik,
membawa aneka ragam informasi.

Beritasatu.com mewarnai hidup Anda
dengan informasi aktual-penuh makna.
Beritasatu.com sumber informasi terpercaya.
Close
Beritasatu menerima blog karya Anda. Kirimkan ke blog@beritasatu.com

Penipuan Berkedok Investasi

Sabtu, 18 Maret 2017 | 08:55

Penipuan berkedok investasi terus saja terjadi dan korban terus berjatuhan. Sebagian korban adalah para pegawai negeri sipil (PNS) dan pensiunan. Kasus penipuan terjadi di seluruh wilayah NKRI, Sabang hingga Marauke. Tidak saja yang berpendidikan rendah. Mereka yang berpendidikan menengah dan tinggi juga terkena aksi penipuan berkedok investasi dengan janji keuntungan berlipat ganda dalam sekejap.

Di Jabodetabek, wilayah yang menjadi jantung finansial Indonesia, penipuan berkedok investasi juga kerap terjadi. Isu paling hangat adalah penipuan yang dilakukan Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Pandawa. Mulai beroperasi tahun 2015, koperasi yang menjanjikan keuntungan bersih 10 persen sebulan ini langsung merebut hati banyak nasabah. Dalam sekejap, Pandawa mampu menghimpun dana publik hingga Rp 3 triliun dari sekitar 38.000 nasabah. Sebagian besar nasabah berasal dari Jabodetabek. Sebagian lain dari berbagai wilayah, termasuk NTT.

Kasus penipuan oleh KSP Pandawa mulai terkuak akhir tahun 2016. Merespons laporan para nasabah, Satgas Waspada Investasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menghentikan seluruh kegiatan penghimpunan dana yang dilakukan Pandawa Group karena berpotensi merugikan masyarakat dan diduga melanggar UU tentang Perbankan. Penghimpunan dana masyarakat hanya boleh dilakukan oleh perbankan dan lembaga keuangan lainnya yang mendapat izin operasi dari OJK.

Sejak 2013, demikian data OJK, penipuan berkedok investasi mencapai 80 kasus. Kasus besar lainnya yang kini sedang ditangani aparat penegak hukum adalah penipuan oleh Cakra Buana Sejahtera Indonesia (CBSI), yang banyak beroperasi di Jawa. Perusahaan dengan izin usaha sebagai perdagangan umum ini beroperasi sejak 2011 dan menjanjikan keuntungan bersih kepada nasabah penyimpan dana 5 persen sebulan.

Kasus lain yang sangat spektakuler tahun 2016 adalah penipuan yang dilakukan oleh Kanjeng Dimas Taat Pribadi di Jawa Timur. Dengan bungkus agama dan kemampuan supranatural dalam penggandaan uang, Kanjeng Dimas mampu menyedot dana masyarakat hingga triliunan rupiah. Kasus demi kasus penipuan terjadi di saat pendidikan masyarakat kian baik, institusi keuangan semakin banyak, alternatif investasi legal kian banyak tersedia, arus informasi semakin kencang, regulator dan pengawas sektor keuangan semakin eksis.

Ada sejumlah faktor yang menyebabkan masyarakat mudah tertipu oleh investasi bodong. Pertama, literasi keuangan masyarakat Indonesia masih rendah. Survei yang dilakukan OJK tahun 2016 menunjukkan, literasi keuangan masyarakat Indonesia baru 29,7 persen. Yang dimaksudkan dengan literasi adalah pemahaman masyarakat tentang keuangan. Masyarakat Jakarta yang dianggap lebih terdidik hanya memiliki literasi keuangan 40 persen. Semakin jauh dari Jakarta, literasi keuangan masyarakat semakin rendah.

Jauh lebih rendah lagi pemahaman masyarakat tentang investasi di pasar modal. Literasi pasar modal hanya 4,4 persen. Artinya, dari 100 orang Indonesia yang Anda temui, hanya empat orang lebih yang paham soal investasi di pasar modal. Untuk industri perbankan yang sudah sangat populer pun tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia hanya 28,9 persen. Dalam situasi seperti ini, masyarakat dengan mudah ditipu oleh mereka yang cerdas dan jahat.

Pemahaman masyarakat yang rendah tentang industri keuangan bisa dilihat dari ketidakmampuan mereka dalam membedakan koperasi dan industri keuangan lainnya. Nasabah KSP Pandawa, misalnya, tidak paham bahwa koperasi tidak boleh menghimpun dana masyarakat yang bukan anggota koperasi. KSP Pandawa adalah koperasi yang mendapat izin operasi dari Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah. Yang boleh menghimpun dana masyarakat hanya bank, perusahaan sekuritas, manajer investasi, atau perusahaan asuransi yang mendapat izin operasi dari OJK. Sebagian besar nasabah yang menyetor dana ke KSP Pandawa adalah masyarakat yang bukan anggota koperasi.

Memercayai janji keuntungan bersih sebuah investasi 5-10 persen sebulan mencerminkan minimnya pengetahuan nasabah tentang investasi, baik investasi langsung maupun investasi portofolio. Perusahaan manakah yang mampu memberikan keuntungan 60-120 persen setahun? Di manakah Pandawa menanamkan dana masyarakat? Dengan menjanjikan keuntungan 120 persen setahun, Pandawa mestinya memiliki perusahaan yang mampu mencetak lagi 150 persen setahun. Bisnis yang normal umumnya memberikan keuntungan sekitar 10-30 persen setahun.

Kedua, faktor keserakahan membuat nasabah menutup mata terhadap informasi lain. Legalitas perusahaan pun tidak diperhatikan. Dalam merespons berbagai tawaran investasi, pertanyaan pertama adalah legalitas perusahaan dan kompetensi para pengelola. Akibat keserakahan, nasabah kehilangan akal sehat dan mempercayai begitu saja janji imbal hasil hingga 120 persen setahun.

Ketiga, minimnya sosialisasi dan edukasi tentang industri keuangan dan investasi. Indonesia saat ini memiliki cukup banyak alternatif investasi. Bagi mereka yang tidak mampu investasi langsung dengan membuka usaha, ada perusahaan investasi yang siap membantu. Ada perusahaan sekuritas dan manajer investasi yang siap mengelola dana nasabah. Perusahaan ini legal, mendapat. Izin operasi dari OJK dan para pengelolanya memiliki sertifikat sebagai profesional di bidang keuangan. Namun, faktanya, nasabah pasar modal belum sampai satu juta. Sekitar 500.000 adalah nasabah reksa dana dan 480.000 adalah nasabah saham yang tercatat di Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).

Kini saatnya pemerintah, OJK, bursa efek, perusahaan sekuritas, manajer investasi, lembaga pendidikan, dan media massa bahu-membahu memberikan edukasi tentang investasi. Bahwa pertimbangan utama dalam investasi adalah keamanan dana. Investasi hanya aman jika perusahaan yang dipercayakan untuk mengelola dana memiliki legalitas dan para pengelola adalah profesional bersertifikat dari OJK. Pertimbangan kedua adalah likuiditas. Dana yang ditanamkan harus bisa ditarik kembali kapan saja. Keuntungan atau imbal hasil adalah pertimbangan terakhir.

Blog Author
Suara Pembaruan
Suara Pembaruan
suarapembaruan.com
Total post : 1256 | lihat semua post