Tingkatkan Kinerja Ekspor

Neraca perdagangan Indonesia kembali mencatatkan surplus pada Maret 2017 sebesar US$ 1,23 miliar, dengan nilai ekspor mencapai US$ 14,59 miliar dan impor US$ 13,36 miliar. Nilai ekspor bulan lalu meningkat 15,68 persen dibanding ekspor Februari 2017 dan naik 23,55 persen dibanding Maret 2016. Sedangkan nilai impor Maret 2017 naik 17,65 persen dibanding Februari 2017 dan meningkat 18,19 persen dibanding Maret 2016.

Data ekspor-impor yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), Senin (17/4), itu menjadi kabar menggembirakan. Surplus perdagangan pada Maret 2017 merupakan yang ketiga kalinya berturut-turut. Secara kumulatif, Januari-Maret 2017, terjadi surplus sebesar US$ 3,93 miliar. Surplus pada kuartal pertama 2017 itu juga yang tertinggi dalam tiga tahun terakhir dibandingkan dengan tahun 2014 yang mencatatkan surplus US$ 1,41 miliar, 2015 sebesar US$ 2,23 miliar, dan 2016 surplus sebesar US$ 1,65 miliar.

Kita bersyukur kinerja ekspor bulan lalu masih tumbuh positif di tengah pelemahan ekonomi global. Secara kumulatif, Januari-Maret 2017, kinerja ekspor mencapai US$ 40,61 miliar atau meningkat 20,84 persen dibanding periode sama tahun 2016, dengan ekspor nonmigas mencapai US$ 36,66 miliar atau meningkat 21,61 persen. Di saat yang sama, impor tercatat sebesar US$ 36,68 miliar atau naik 14,83 persen dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya.

Kita berharap kinerja ekspor yang bagus pada kuartal pertama ini dapat bertahan pada tiga kuartal berikutnya. Kinerja ekspor yang positif akan menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan sebesar 5,1 persen dalam APBN 2017. Lemahnya kinerja ekspor tahun lalu membuat ekonomi Indonesia hanya tumbuh 5,02 persen, lebih rendah dari asumsi dalam APBN Perubahan 2016 sebesar 5,2 persen. Berdasarkan data BPS, tahun lalu, ekspor mengalami kontraksi sebesar 1,74 persen dan memberi kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) sebesar 19,08 persen, impor minus 2,27 persen (kontribusi ke PDB 18,31 persen), dan pengeluaran konsumsi pemerintah minus 0,15 persen (kontribusi ke PDB 9,45 persen).

Sementara itu, penyokong utama pertumbuhan ekonomi tahun lalu adalah pengeluaran konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,01 persen (kontribusi ke PDB sebesar 56,5 persen), pembentukan modal tetap bruto (PMTB) yang tumbuh 4,48 persen (kontribusi ke PDB sebesar 32,57 persen), dan pengeluaran konsumsi lembaga non-profit yang melayani rumah tangga (LNPRT) yang tumbuh 6,62 persen (kontribusi ke PDB sebesar 1,16 persen).

Kinerja ekspor kita mengalami penurunan (slow down) selama tiga tahun terakhir. Pada 2015, nilai ekspor turun tajam menjadi US$ 149 miliar dari US$ 175 miliar pada tahun sebelumnya. Kinerja ekspor kembali melemah pada 2016 dengan nilai US$ 144 miliar. Untuk tahun ini, ekspor diharapkan dapat menjadi penopang pertumbuhan ekonomi karena didukung oleh kenaikan harga sejumlah komoditas, terutama batu bara, timah dan alumunium. Sedangkan harga komoditas non-migas seperti kelapa sawit (CPO) diharapkan kembali merangkak naik seiring peningkatan permintaan di pasar dunia.

Tidak hanya ekspor hasil tambang dan pertanian, kinerja ekspor tahun ini juga bakal disokong oleh sektor industri pengolahan yang pada Januari-Maret 2017 sudah mencatatkan kenaikan 19,93 persen dibanding periode sama tahun 2016. Ekspor tahun ini masih bisa ditingkatkan dengan melakukan penetrasi ke pasar-pasar nontradisional di luar Tiongkok, Amerika Serikat, Jepang, India, dan Uni Eropa. Potensi ekspor ke pasar nontradisional seperti negara-negara di kawasan Asia Selatan, Timur Tengah, Afrika, Amerika Latin terbilang besar. Hal ini karena barang-barang yang dibutuhkan konsumen di negara-negara tersebut sudah bisa diproduksi di Indonesia.

Selain fokus pada usaha besar, peningkatan ekspor juga bisa dilakukan dengan memberdayakan perusahaan-perusahaan skala usaha kecil menengah (UKM) berorientasi ekspor. Kita memiliki banyak UKM berorientasi ekspor yang menghasilkan aneka barang. Namun mereka butuh pembiayaan, pembinaan serta pendampingan agar produknya bisa cepat diserap pasar ekspor. Tiap tahun harus tercipta setidaknya ratusan eksportir baru dari UKM sehingga mereka punya kesempatan naik kelas menjadi pelaku usaha besar.

Dari sisi regulasi, peningkatan ekspor dapat dilakukan dengan memperbanyak pemberian fasilitas kemudahan ekspor bagi industri kecil menengah (KITE IKM) di sentra-sentra produksi IKM. Fasilitas KITE IKM ini diharapkan dapat memberikan bantuan kepada para pelaku usaha yang bergerak di IKM agar dapat meningkatkan ekspor. Insentif fiskal dan kemudahan prosedur ini dapat membantu IKM menggiatkan sektor usahanya. Dampaknya, nilai ekspor dapat meningkat, kontribusi ekspor terhadap PDB lebih besar, dan penyerapan tenaga kerja lebih tinggi.

Upaya lain untuk menggenjot ekspor nasional adalah melakukan sinergi antara sejumlah instansi. Dari sisi pembiayaan, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank menargetkan outstanding pembiayaan ekspor sebesar Rp 100,5 triliun pada tahun ini, meningkat 18,3 persen dari Rp 88,9 triliun pada 2016. Namun, persoalan ekspor tidak hanya terkait pembiayaan. Peran otoritas pelabuhan dibutuhkan untuk mempercepat urusan logistik di pelabuhan. Informasi potensi pasar di luar negeri dibutuhkan para eksportir untuk memperluas pangsa ekspor. Informasi tersebut bisa disediakan oleh para diplomat kita yang ditugaskan di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di negara-negara tujuan ekspor.

PENULIS:

investor.co.id
Daily news and information on financial markets and investments.