BeritaSatu.com

Hidup Anda bisa seindah pelangi
Jika Anda pandai mewarnai.
Kami datang setiap hitungan detik,
membawa aneka ragam informasi.

Beritasatu.com mewarnai hidup Anda
dengan informasi aktual-penuh makna.
Beritasatu.com sumber informasi terpercaya.
Close
Beritasatu menerima blog karya Anda. Kirimkan ke blog@beritasatu.com

Musim IPO

Kamis, 18 Mei 2017 | 21:09

Pasar saham domestik masih punya daya pikat. Setidaknya itu ditunjukkan oleh derasnya aliran dana asing yang masuk (capital inflow) ke lantai bursa. Selama tahun berjalan (year to date/ytd) per 16 Mei 2017, pembelian bersih saham oleh investor asing (foreign net buy) di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencapai Rp 27,82 triliun.

Kencangnya arus dana asing yang masuk ke pasar saham dalam negeri selama tahun berjalan sungguh menggembirakan, terutama bila dikaitkan dengan periode-periode sebelumnya. Sepanjang tahun 2016, net buy asing di pasar saham hanya Rp 16,17 triliun. Bahkan, pada 2013 dan 2015, dana asing di pasar saham masing-masing minus Rp 20,65 triliun dan minus Rp 22,59 triliun.

Rekor net buy investor asing di pasar saham domestik diukir pada 2014, dengan nilai Rp 42,60 triliun. Jika tidak ada gejolak, apalagi bila sentimen positif terus bermunculan dan indeks harga saham gabungan (IHSG) tetap melaju di zona positif, bukan tidak mungkin rekor net buy asing di pasar saham terpecahkan tahun ini.

Selama tahun berjalan, IHSG tumbuh 6,61 persen ke level 5.646,99. Indeks digadang-gadang menyentuh 6.000-6.500 pada pengujung 2017, dengan syarat berbagai kebijakan ekonomi AS yang diterapkan Donald Trump tidak memicu ketidakpastian baru di pasar global, ekonomi Tiongkok tumbuh lebih moderat, dan negara-negara Eropa tidak terus tenggelam dalam perlambatan ekonomi.

Berbekal asumsi-asumsi tersebut, tak perlu heran jika banyak yang menganggap pertengahan tahun ini adalah timing yang tepat untuk melangsungkan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO). Wajar pula jika ada yang menilai sekarang adalah momentum yang bagus untuk mencatatkan saham perusahaan (listing) di BEI.

Bila investor berasumsi dan berekspektasi pasar akan naik (bullish), tentu saham IPO yang ditawarkan kepada publik bakal laris-manis. Dengan begitu, calon emiten bisa lebih fleksibel dalam menentukan harga (pricing) dan menetapkan jumlah saham yang dilepas ke publik (sizing). Alhasil, dana yang digalang perusahaan lewat IPO akan lebih optimal.

Tanda-tanda "musim IPO" sudah tampak. Selama tahun berjalan (ytd), sudah delapan perusahaan yang menggelar IPO saham. Hingga akhir Juni tahun ini diperkirakan masih ada 7-9 perusahaan lagi yang melangsungkan IPO saham. BEI tahun ini menargetkan IPO saham 35 perusahaan, dua kali lipat dari realisasi IPO tahun lalu sebanyak 16 perusahaan.

Analisis bahwa menggelar IPO pada pertengahan 2017 adalah keputusan yang bijak--baik dari sisi timing, pricing, maupun sizing--bisa dipahami. Buktinya, harga saham delapan emiten baru yang melantai di BEI tahun ini umumnya naik signifikan, malah ada yang menguat sampai 500 persen lebih.

Dari sisi makro, fundamental ekonomi Indonesia tahun ini juga relatif lebih kokoh. Meski asumsi pertumbuhan ekonomi nasional dalam APBN 2017 dipatok 5,1 persen, banyak yang percaya realisasinya bisa 5,3 persen, lebih tinggi dari realisasi pertumbuhan ekonomi 2016 yang cuma 5,02 persen.

Optimisme bahwa ekonomi 2017 lebih baik dari tahun sebelumnya dikuatkan oleh tren pertumbuhan ekonomi nasional dalam dua tahun terakhir. Pada 2015, ekonomi Indonesia tumbuh 4,88 persen, kemudian pada 2015 tumbuh 5,02 persen. Kendati bukan jaminan, itu adalah sinyal bahwa perekonomian nasional sedang dalam fase rebound.

Keyakinan bahwa ekonomi 2017 bakal lebih mulus tak hanya mendongkrak kepercayaan investor asing di pasar saham, tetapi juga mendorong korporasi untuk ekspansi. Selain menggalang dana melalui IPO saham, tak sedikit perusahaan yang menerbitkan obligasi untuk membiayai ekspansi. Hingga akhir tahun ini, emisi obligasi korporasi diperkirakan mencapai Rp 120 triliun, lebih tinggi dari tahun lalu Rp 111,86 triliun.

Dari sisi fundamental bursa, menggelar IPO saat ini juga merupakan keputusan yang rasional. Valuasi saham dan nilai buku emiten di BEI masih tergolong murah. Rata-rata price to earning ratio (PER) IHSG sekarang adalah 16,6 kali dengan price to book value (PBV) 2,1 kali. Dengan proyeksi laba emiten-emiten besar tahun ini tumbuh 35 persen dibanding tahun lalu yang cuma 20 persen, harga saham di bursa domestik bakal semakin atraktif.

Namun, mengandalkan IPO saham semata pada kondisi makro ekonomi, pasar, dan fundamental bursa sungguh tidak adil. BEI selaku otoritas bursa dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) selaku otoritas pasar modal perlu memberikan pemanis agar lebih banyak perusahaan yang tertarik untuk melangsungkan IPO dan menjadi perusahaan yang sahamnya tercatat di bursa (listed company).

Hal paling mendasar yang perlu segera dieksekusi BEI dan OJK adalah memangkas prosedur, aturan, dan biaya selama proses IPO maupun setelah saham perusahaan tercatat di bursa. Banyak pengusaha yang mengubur keinginannya untuk mencatatkan saham perusahaan di bursa akibat panjangnya prosedur, banyaknya aturan, dan mahalnya biaya, dari biaya IPO (initial listing fee), biaya tahunan (annual listing fee), hingga setoran OJK.

Debirokratisasi, deregulasi, dan efisiensi biaya perlu dilakukan, mengingat bursa saham negara lain sudah lama menerapkannya. Jika tidak, bursa saham kita akan terus tertinggal. Di Indonesia terdapat 5.000 perusahaan yang layak melantai di bursa saham, namun hingga kini baru punya 543 listed company. Padahal, Malaysia tahun lalu saja sudah punya 806 perusahaan, Singapura 774 perusahaan, dan Thailand 722 perusahaan.

Minimnya jumlah listed company di Indonesia semakin ironis manakala dikaitkan dengan produk domestik bruto (PDB). Nilai PDB kita sekitar US$ 862 miliar, sedangkan Malaysia, Singapura, dan Thailand masing-masing cuma US$ 296 miliar, US$ 293 miliar, dan US$ 395 miliar. Dengan PDB jauh lebih besar, seharusnya Indonesia memiliki listed company jauh lebih banyak.

Jangan lupa, memperbanyak listed company merupakan bagian dari upaya memperbaiki fundamental ekonomi nasional. Perusahaan publik wajib menerapkan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance/GCG). Kian baik tata kelola perusahaan, kian tinggi pula peluangnya untuk bertahan dan mencetak keuntungan. Semakin banyak perusahaan yang untung, semakin banyak pula tenaga kerja yang diserap, pajak yang disetor, dan nilai tambah ekonomi lain yang dihasilkan.

Blog Author
Investor Daily
Investor Daily
investor.co.id
Daily news and information on financial markets and investments.
Total post : 1253 | lihat semua post