Mudik Nyaman

Tradisi dan budaya tahunan pulang kampung dimulai hari-hari ini. Puluhan juta perantau bakal meninggalkan kota-kota besar tempat mereka mencari nafkah. Mereka melupakan sejenak kebisingan dan keruwetan kota besar, untuk bersilaturahmi dan melepas kangen dengan orangtua, sanak saudara, dan handai taulan di bumi kelahiran.

Tahun ini, tercatat sekitar 29 juta pemudik bakal berlebaran. Jumlah pemudik yang menggunakan moda transportasi umum mencapai 19 juta. Jumlah pemudik dengan pertumbuhan tertinggi terjadi pada moda transportasi udara sebesar 9,8 persen, menjadi 5,4 juta orang. Disusul moda kereta api dengan kenaikan 7 persen dibanding tahun lalu, menjadi 3,7 juta pemudik. Angkutan penyeberangan sebanyak 3,98 juta orang atau tumbuh 4,5 persen. Moda angkutan laut sebanyak 960.000 penumpang atau naik 3 persen.

Pemudik sepeda motor tahun ini diprediksi berjumlah 6,07 juta orang atau naik 18 persen serta pemudik dengan mobil naik 13,9 persen menjadi 3,48 juta orang. Selain itu, Kemhub memfasilitasi penyediaan 208.000 kursi bagi penumpang angkutan mudik gratis.

Berbicara tentang hajatan mudik, yang senantiasa terlintas di pikiran adalah kemacetan yang parah di simpul-simpul jalan rawan kemacetan. Tahun lalu, kita ingat peristiwa kelam dalam sejarah mudik nasional karena kemacetan luar biasa di pintu tol keluar Brebes, Jawa Tengah, atau populer dengan sebutan "Brexit". Saking parahnya, peristiwa itu merenggut beberapa nyawa.

Jika dilihat secara menyeluruh, hal yang patut mendapat perhatian adalah angkutan umum. Dari seluruh moda angkutan umum, angkutan bus ternyata paling bermasalah. Kementerian Perhubungan mencatat, dari sekitar 11.600 bus, hanya 60 persen atau sekitar 6.600 unit yang dianggap layak mengangkut pemudik. Sisanya sekitar 4.000 bus dinilai tidak layak. Ini tentu akan membuat banyak penumpang tidak terangkut.

Ketidaksiapan dan kurang layaknya beroperasi mungkin juga banyak terjadi pada angkutan penyeberangan. Mengangkut penumpang yang melebihi kapasitas angkut kapal dan pelanggaran manifes kerap memicu terjadinya kecelakaan angkutan laut selama ini.

Realitas tersebut mengindikasikan bahwa manajemen angkutan umum masih buruk. Kelayakan sarana transportasi menjadi sangat vital karena menyangkut keselamatan penumpang. Semestinya, pemeriksaan kelayakan dilakukan jauh sebelum mudik berlangsung. Sejauh ini, Kemhub mengklaim bahwa sekitar 80 persen sarana di darat, laut, dan kereta api, sudah selesai menjalani pemeriksaan kelayakan. Sedangkan untuk pesawat udara, pemeriksaannya sudah hampir rampung.

Selain faktor keselamatan transportasi, hal paling penting dalam kelancaran arus mudik adalah manajemen di lapangan dan kesiapan infrastruktur. Koordinasi antar-kementerian dan lembaga sangat penting, mulai dari Kemhub, Kepolisian, pemerintah daerah, dan petugas, terkait di lapangan. Personel harus diperbanyak di simpul-simpul kemacetan karena ada tendensi ketidakdisiplinan para pengemudi.

Sedangkan dari sisi infrastruktur, pemerintah telah berupaya maksimal dengan mengebut penyelesaian jalan tol. Khusus wilayah Jawa, jalan tol telah menembus wilayah Gringsing, 40 km sebelum Semarang. Titik-titik keluar tol kini makin tersebar sehingga konsentrasi kendaraan bisa dipecah, tidak lagi menumpuk seperti pada kasus "Brexit".

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat menggaransi bahwa kondisi infrastruktur jalan nasional, jalan provinsi, kabupaten/kota, serta jalan tol sudah siap untuk dilalui saat musim mudik dan balik Lebaran. Karena itu, pemudik juga bisa memanfaatkan berbagai prasarana jalan tersebut, sehingga tidak mengandalkan jalan tol sebagai jalan utama.

Di luar kesiapan sarana angkutan dan infrastruktur, hal yang tidak kalah penting adalah kedisiplinan para pengemudi. Kita acap melihat bahwa pengemudi tidak sabar tatkala terjadi antrean panjang kemacetan. Mereka kemudian saling serobot dan mengambil jalur yang bukan haknya, sehingga kian mengacaukan lalu lintas. Untuk itu, petugas harus tegas menghadapi pengemudi yang tidak disiplin, suka menyerobot, dan ugal-ugalan.

Demikianlah, kelayakan sarana transportasi, kesiapan infrastruktur moda transportasi, manajemen lalu lintas dan pengaturan di lapangan, serta kedisiplinan para pengemudi menjadi penentu kelancaran arus mudik dan arus balik Lebaran. Semua itu harus diupayakan maksimal agar masyarakat merasakan mudik yang nyaman dan aman.

PENULIS:

investor.co.id
Daily news and information on financial markets and investments.