Bandara Pendamping Soetta

Beban Jadebotabek yang terlampau berat tidak saja menimbulkan wacana pemindahan ibu kota negara, tetapi juga memunculkan gagasan pembangunan bandara baru sebagai pendukung Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) yang mulai kelebihan beban. Dua gagasan itu sudah lama mengemuka, isunya timbul-tenggelam, dan hingga kini tak kunjung juga terealisasi.

Pemindahan ibu kota prosesnya lebih rumit dan bisa makan waktu satu dekade, pun dengan konsekuensi timbul pro-kontra. Sedangkan pembangunan bandara baru bisa dilaksanakan dalam waktu singkat, tinggal kemauan politik, terlebih lagi kalau kebutuhan itu sangat mendesak. Realitanya, kapasitas Bandara Soekarno-Hatta sulit mengakomodasi pertumbuhan angkutan penerbangan yang cukup tinggi dari dan ke Jakarta. Sedangkan Bandara Halim Perdanakusuma sebagai bandara pendukung Bandara Soetta sifatnya hanya sementara.

Sejauh ini, ada tiga lokasi yang disebut-sebut bakal dibangun bandara baru sebagai pendukung Bandara Soetta, yakni di daerah Karawang dan Kertajati (Majalengka), keduanya di Jawa Barat, serta Lebak (Banten) yang digagas Lion Group. Karawang dibatalkan karena terbentur dengan lokasi jaringan pipa migas Pertamina. Selain itu, lokasi di Karawang tidak memenuhi persyaratan rencana tata ruang dan wilayah (RTRW) provinsi maupun kabupaten. Karena itu, rencana pembangunan bandara di Karawang dicoret dari daftar proyek strategis nasional. Sedangkan Lebak dinilai tidak layak karena terlalu dekat dengan Bandara Soetta.

Lokasi yang justru terus dibahas belakangan adalah Kertajati, Majalengka. Pemerintah sudah tegas menyatakan untuk segera membangun bandara internasional Kertajati dengan investasi sekitar Rp 23 triliun. Bandara ini bahkan siap beroperasi tahun depan. Majalengka juga dinilai strategis, apalagi jika dikaitkan dengan dua megaproyek, yakni rencana pembangunan Pelabuhan Patimban yang berjarak sekitar 100 kilometer dari Kertajati serta jalur kereta api cepat Jakarta-Bandung.

Lokasi mana pun yang akan dipilih, pemerintah tentu punya banyak pertimbangan, terutama pertimbangan dari sisi ekonomi dan teknis. Namun, lokasi yang paling ideal adalah arah timur dari Bandara Soetta, sehingga pilihannya bisa Karawang maupun Majalengka. Masing-masing lokasi tentu memiliki kelebihan dan kekurangan, sehingga memerlukan studi yang detail dan komprehensif.

Konsep adanya dua bandara besar yang saling berdekatan di sebuah negara sudah diimplementasikan oleh Amerika Serikat di New York, Inggris untuk bandara di London, dan Jepang untuk bandara yang ada di Tokyo. Itulah sebabnya, konsep multiple airport sudah layak diterapkan di Jakarta.

Meskipun PT Angkasa Pura (AP) II selaku pengelola Bandara Soekarno-Hatta bakal membangun landasan pacu (runway) ketiga, bandara internasional ini tidak akan mampu mengatasi lonjakan penumpang dalam beberapa tahun ke depan, terutama ketika jumlah penumpang menembus 100 juta, dari sekitar 70 juta saat ini.

Sedangkan Bandara Halim Perdanakusuma, yang baru dibuka kembali untuk penerbangan berjadwal, kapasitasnya sudah hampir penuh, baik dari sisi jumlah penumpang maupun pergerakan pesawat. Lokasi Bandara Halim memang ideal karena dekat dengan penumpang dari arah Bogor, Depok, Bekasi dan sekitarnya.

Untuk itu, dibutuhkan satu bandara besar dan berskala internasional untuk memenuhi koridor ekonomi mulai dari Jakarta Timur, Bekasi, Cikarang, hingga Cikampek. Terlebih lagi, Cikarang merupakan jantung ekonomi koridor Jakarta-Bandung. Di kawasan ini dibangun pusat manufaktur yang memproduksi lebih dari satu juta mobil, sepuluh juta motor, jutaan kulkas, televisi, dan alat-alat rumah tangga. Inilah kawasan yang didesain semacam Detroit-nya Indonesia. Ribuan perusahaan raksasa nasional dan multinasional berbasis di koridor ini dengan ratusan ribu karyawan kantor dan jutaan pekerja.

Pemerintah harus segera memutuskan pembangunan bandara baru sebagai pendamping dan pendukung Bandara Sokarno-Hatta. Dana tentu bukan lagi menjadi kendala. Yang bisa menjadi penghambat justru adanya tarikan berbagai kepentingan lintas kementerian, atau antara pusat dan pemerintah daerah.

Jika Bandara Soetta kelebihan beban atau melebihi kapasitas, tentu akan membahayakan keselamatan penerbangan dan mengganggu kenyamanan para penumpang. Apabila ini terjadi, ambisi Bandara Soetta untuk mampu menyaingi Bandara Changi Singapura hanya sebatas impian semata. Selain itu, posisi Bandara Soetta sebagai gerbang pariwisata Indonesia juga bakal tercoreng karena persoalan ketidaknyamanan.

PENULIS:

investor.co.id
Daily news and information on financial markets and investments.