Narkoba yang Terus Mengalir

Pengungkapan kasus penyelundupan satu ton sabu-sabu persis pada peringatan Hari Anti-Narkotika Internasional (HANI) 2017 pada Kamis (13/7) merupakan hadiah sekaligus alarm peringatan dalam upaya pemberantasan narkoba di Indonesia.

Keberhasilan Tim Gabungan Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya dan Polresta Depok menggagalkan penyelundupan narkoba di Dermaga eks Hotel Mandalika, Serang, Banten, tersebut merupakan kado membanggakan pada peringatan HANI 2017. Apresiasi layak disematkan kepada seluruh tim yang konon selama dua bulan mengendus sebelum menggerebek.

Di sisi lain, pengungkapan tersebut merupakan peringatan bahwa pasokan narkoba ke Indonesia tidak ada putusnya. Pengungkapan di Serang yang menewaskan satu tersangka adalah kasus yang cukup istimewa karena melibatkan orang asing dan barang bukti berupa satu ton sabu-sabu. Jumlah sabu-sabu yang tidak sedikit. Menko Polhukam Wiranto dalam sambutannya di puncak peringatan HANI menyatakan sabu-sabu sebanyak itu cukup untuk "meracuni" 5 juta pengguna. Angka itu cukup signifikan bila dibandingkan dengan data tahunan dari Badan Narkotika Nasional (BNN). Jumlah pengguna narkoba di Indonesia diperkirakan mencapai 5,1 juta orang. Artinya, kebutuhan pecandu narkoba di seluruh Indonesia dapat dipenuhi dari hasil selundupan hari itu.

Sedangkan dari nilai rupiah, sabu yang diselundupkan pun bukan main yakni Rp 1,5 triliun! Angka itu menggunakan patokan harga satu gram sabu sebesar Rp 1,5 juta. Padahal di pasaran harganya bisa sampai Rp 2,5 juta ketika barang haram itu sedang langka. Angka menggiurkan ini dapat menjerat siapa saja untuk ikut serta di bisnis haram narkoba. Pasar dan pasokan membuat narkoba terus mengalir. Meski upaya pemberantasan termasuk pencegahan penggunaan narkoba serta rehabilitasi korban, terus digalakkan, kenyataannya Indonesia masih menjadi pasar menjanjikan bagi bisnis narkoba.

Upaya penyelundupan satu ton sabu-sabu itu juga membuka mata kita bahwa terbuka kemungkinan masih ada lagi penyelundupan serupa yang tidak terungkap mengingat negara kita adalah negara perairan yang sangat terbuka. Sulit mengharapkan patroli laut baik dari Polairud maupun TNI untuk mengamankan seluruh perairan dari penyelundupan. Nyaris mustahil menjaga tiap kilometer perairan kita. Seperti juga pengungkapan di Serang, justru hasil penyidikan di darat serta informasi dari hasil kerja sama Kepolisian antarnegara yang membuat informasi terkumpul sehingga penyelundupan lewat laut efektif dicegah.

Menarik disimak adalah kerja keras BNN dan Direktorat Narkoba di Kepolisian tampaknya belum sepenuhnya diikuti oleh institusi terkait. Padahal upaya P4GN atau Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba, tidak bisa dilakukan hanya oleh BNN dan Polri. Bahkan semua lembaga atau institusi harus ikut serta mendukung karena kini narkoba sudah menjerat semua kalangan.

Dua contoh paling menonjol belakangan ini adalah peringatan BNN kepada maskapai penerbangan dan lembaga pemasyarakatan (lapas). Yang pertama terkait temuan kasus pilot pengguna narkoba. Alangkah berbahaya bila maskapai lolos mempekerjakan pecandu sebagai pilot, sehingga ratusan nyawa menjadi taruhan. Hal seperti ini bukan kasus baru namun ironisnya masih terulang.

Contoh kedua yang juga tak kunjung selesai adalah temuan narapidana yang mengonsumsi, menyimpan, dan bahkan mengendalikan peredaran narkoba dari balik penjara. Lapas seolah menjadi tempat ideal untuk para penjahat narkoba. Mereka lebih aman justru di dalam penjara. Pencegahan di area-area ini tentu memerlukan sinergi instansi yang terkait. Dan tampaknya, Kepala BNN Komjen Pol Budi Waseso telah mencium tidak adanya gairah yang sama dalam memerangi peredaran narkoba. Sejauh mana kita peduli pada pemberantasan narkoba manakala alam pikir dan keseharian kita disesaki dengan berita-berita politikus korup, saling jegal, hingga upaya mendirikan negara dengan menanggalkan Pancasila.

Momentum peringatan HANI 2017 dan pengungkapan kasus satu ton sabu-sabu merupakan momentum yang mengingatkan kita akan bahaya narkoba. Juga mengingatkan bahwa pada 2015 Presiden Jokowi menyampaikan keprihatinannya karena peredaran dan penggunaan narkoba di Indonesia yang sudah semakin parah. Indonesia ada dalam kondisi darurat narkoba. Kira-kira ada 50 orang di Indonesia yang tewas setiap hari karena penyalahgunaan narkoba atau sekitar 18.000 jiwa tiap tahun.

 

PENULIS:

suarapembaruan.com