"Sport Tourism" Kekuatan Pariwisata

Sejumlah negara telah lama menggenjot sektor pariwisata untuk meningkatkan perekonomian. Berbagai upaya kreatif dilakukan untuk menarik wisatawan, terutama wisatawan mancanegara (wisman) untuk datang menikmati keindahan alam, kuliner, atau aneka atraksi budaya lokal yang menarik.

Salah satu upaya untuk menarik wisman adalah melalui ajang olahraga bertaraf internasional atau yang kerap disebut sport tourism. Bentuk wisata sambil berolahraga ini semakin banyak dilirik negara-negara di dunia untuk meningkatkan perekonomian mereka.

Sejumlah negara terus berlomba untuk menjadi tuan rumah pagelaran balap mobil Formula 1, balap motor MotoGP, Piala Dunia sepakbola, Olimpiade, atau Asian Games. Tujuan utamanya agar keindahan negara itu terekspos ke seluruh dunia, sehingga turis akan terus berdatangan dan menghabiskan uang mereka di negara tersebut.

Di Indonesia, sektor pariwisata diprediksi akan mampu menjadi kontributor terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB) pada 2019, menggusur sektor migas yang sumbangannya terus menurun. Target itu bisa tercapai jika jumlah wisman yang datang ke Indonesia mencapai 20 juta orang per tahun. Jika itu yang terjadi, maka kehadiran para wisatawan itu akan memberi kontribusi devisa sebesar Rp 280 triliun dengan menyerap sekitar 12,6 juta tenaga kerja. Artinya, sektor pariwisata akan menyumbang 15 persen PDB.

Hal itu sangat mungkin terwujud, karena saat ini PDB yang dihasilkan dari sektor pariwisata sudah sekitar US$ 13 miliar, sementara dari migas sebesar US$ 18 miliar dan trennya terus menurun. Tahun ini, pemerintah menetapkan target kontribusi pariwisata terhadap perekonomian (PDB) nasional sebesar 13 persen dan devisa yang dihasilkan sebesar Rp 200 triliun. Penyerapan tenaga kerja sebanyak 12 juta dan jumlah kunjungan wisman 15 juta.

Untuk mencapai target jumlah wisatawan itu, pemerintah dan para pemangku kepentingan lainnya harus membuat program-program kreatif terkait pariwisata. Salah satu yang bisa dilirik, karena tengah menjadi tren dunia adalah sport tourism.

Di Indonesia, ajang-ajang sport tourism sudah beberapa kali digelar. Tahun depan, kita akan menjadi tuan rumah Asian Games di dua kota besar, yakni Jakarta dan Palembang. Ini momentum bagus untuk terus memperkenalkan dunia wisata Indonesia kepada dunia.

Namun, sebelum menuju Asian Games 2018, saat ini ada ajang sport tourism bertaraf internasional yang tengah digelar, yakni lomba balap sepeda Tour de Flores (TdF) 2017. Ajang yang digelar pada 14-19 Juli di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) itu tentu membuka peluang bagi Indonesia, khususnya NTT, untuk memperkenalkan objek-objek wisata ke seluruh dunia.

TdF tidak sekadar lomba balap sepeda, tetapi juga bisa dimanfaatkan untuk mempromosikan pariwisata Flores, terutama mendorong terbentuknya Flores Tourism Authority (FTA) untuk mewujudkan Labuan Bajo sebagai destinasi wisata prioritas. Selain itu, juga untuk mendorong percepatan pembangunan infrastruktur di Flores.

TdF yang ada di bawah pengawasan Union Cycliste Internationale (UCI) itu merupakan yang kedua kali digelar. TdF pertama kali dilaksanakan pada 19-24 Mei 2016. Ketika itu, ajang balap sepeda internasional tersebut berhasil menyedot perhatian media massa, baik nasional maupun internasional. Nama Labuan Bajo bersama Pulau Komodo serta kawasan wisata lain di Pulau Flores pun semakin terkenal.

Selama ini, Labuan Bajo terkesan sebagai destinasi wisata “cadangan”. Ketika turis-turis asing bosan berada di Bali, mereka mencari lokasi wisata sekitar, salah satunya Labuan Bajo. Kini, dengan potensi wisata yang sangat menarik dan keberadaan infrastruktur yang semakin baik, seperti bandara internasional, bukan tidak mungkin Labuan Bajo akan menjadi tujuan wisata utama menggantikan Bali.

Kita tentu berharap agar pemerintah memberikan dukungan penuh terhadap ajang-ajang olahraga yang mendukung pariwisata, seperti TdF ini. Tanpa dukungan penuh dari pemerintah dan tentunya pihak swasta, ajang ini akan mati yang dampaknya tentu merugikan sektor pariwisata.

Keberhasilan sport tourism tidak bisa dilihat dan dirasakan dalam hitungan hari. Dampak positif bagi pariwisata dan warga baru bisa dirasakan setelah beberapa kali ajang itu digelar. Di sini, peran pemerintah daerah dan warga setempat tak kalah penting. Dukungan penuh pemda dan warga setempat sangat diperlukan demi keberhasilan ajang tersebut. Apalagi, hasilnya tidak hanya dirasakan panitia penyelenggara, tetapi juga warga dan pemda setempat.

Semangat sadar wisata harus terus disosialisasikan. Warga setempat harus diberi edukasi dan pelatihan tentang cara menerima tamu yang hendak berwisata dengan ramah. Bila perlu, warga setempat diberi pelatihan untuk membuat berbagai macam suvenir khas daerah untuk bisa dibawa pulang para turis. Dengan demikian, roda perekonomian akan terus berputar.

 

PENULIS:

suarapembaruan.com