Membangkitkan "Market Confidence"

Dunia usaha membutuhkan kebijakan pemerintah yang benar-benar menyentuh kebutuhan mereka. Bukan sekadar sekumpulan peraturan seperti 15 paket kebijakan yang sudah diluncurkan. Saat pasar lesu dan ekonomi slow down seperti saat ini, isu paket kebijakan ekonomi ke-16 yang segera diluncurkan pemerintah disambut dingin oleh para pelaku bisnis.

Sikap pelaku usaha yang menyambut dingin paket kebijakan ekonomi ke-16 sepintas dinilai aneh. Bukankah para pebisnis membutuhkan paket kebijakan ekonomi untuk menggairahkan ekonomi yang sedang lesu? Para pebisnis memang membutuhkan kebijakan baru di bidang ekonomi. Tetapi, merujuk pada 15 paket kebijakan ekonomi sebelumnya yang sama sekali tidak berdampak, mereka bersikap apatis saat mendengar bakal ada lagi paket kebijakan ekonomi yang akan diluncurkan jelang peringatan Hari Kemerdekaan ke-72 RI.

Oleh karena itu, paket kebijakan ekonomi ke-16 hendaknya dipersiapkan lebih matang. Pertama, paket kebijakan ekonomi yang hendak diluncurkan harus benar-benar menjawab kebutuhan pelaku usaha. Paket kebijakan ekonomi yang akan datang harus berisi regulasi yang mampu membangkitkan kegairahan dunia usaha. Ada penyederhanaan dalam berbagai urusan perizinan, baik untuk investasi baru maupun perluasan.

Kedua, agar paket kebijakan ekonomi yang hendak diluncurkan sesuai harapan para pelaku bisnis, pemerintahan wajib mendata terlebih dahulu masalah yang mengganjal para pelaku usaha di setiap sektor, terutama sektor penting yang banyak menyerap tenaga kerja. Penyusunan paket kebijakan ekonomi hendaknya didahului oleh pertemuan dengan pelaku bisnis di setiap sektor. Pemerintah tak perlu alergi terhadap pelaku usaha. Mereka adalah aktor utama dunia usaha yang wajib didengar suaranya.

Tingkat kepercayaan diri para pelaku bisnis kini berada di titik nadir. Produk mereka sulit terjual di pasar, dalam maupun di luar negeri. Setiap saat, mereka dikejar pajak. Namun, bisnis mereka kian sulit. Dalam situasi seperti ini, pemerintah harus meluncurkan kebijakan yang mampu membangkitkan market confidence.

Memang tidak semua paket kebijakan ekonomi yang sudah diluncurkan tak memiliki regulasi yang mampu memacu kegairahan dunia usaha. Ada masalah besar lainnya, yakni implementasi kebijakan yang lemah. Keluhan terbesar dari kalangan pelaku usaha adalah lemahnya koordinasi antarkementerian. Setiap paket kebijakan ekonomi tidak langsung diikuti oleh peraturan pelaksanaan.

Setelah paket kebijakan ekonomi diluncurkan, ada menteri yang memberlakukan kebijakan baru yang menghambat dunia usaha. Ekspor dipersulit dan biaya produksi membengkak. Jangan lagi ada menteri yang mengeluarkan kebijakan yang bertentangan dengan semangat paket kebijakan ekonomi. Setiap menteri harus memastikan bahwa kebijakan yang diterbitkan tidak menghambat sedikit pun dunia usaha.

Tidak mudah bagi pemerintah untuk menerbitkan paket kebijakan ekonomi saat ini. Pada era tahun 1980-an hingga awal 1990-an, paket kebijakan ekonomi selalu berdampak luas. Para pelaku bisnis selalu penuh gairah menyambut paket kebijakan ekonomi. Karena pada waktu itu, tarif impor dan ekspor produk masih sangat tinggi. Setiap pemotongan tarif, pelaku usaha menyambut gembira dan dunia sudah bergairah.

Pada dua dekade itu, regulasi masih terlalu rumit dan kaku. Pada saat yang sama, birokrasi masih sangat buruk. Paket deregulasi dan debirokratisasi menjadi momentum yang ditunggu-tunggu karena dampaknya yang luas. Saat ini, ruang untuk pemotongan tarif nyaris tak ada lagi. Yang masih cukup terbuka adalah penyederhanaan perizinan dan pencabutan semua peraturan yang saling bertentangan dan menghambat efisiensi dan ekspor. Paket kebijakan ekonomi yang ditunggu pelaku pasar adalah harmonisasi semua peraturan yang ada.

Paket kebijakan ekonomi mestinya juga berisikan kewajiban birokrasi untuk melayani pelaku usaha. Hingga saat ini, birokrasi Indonesia masih sangat boros dan berbiaya tinggi. Tingginya inefisiensi masih terjadi sampai saat ini. Pungli masih terjadi dalam skala luas. Regulasi baru pemerintah mestinya menyentuh masalah ini.

Tahun ini, tahun keempat bagi Indonesia dengan laju pertumbuhan ekonomi di bawah 5,3 persen. Jika tidak ada paket kebijakan ekonomi yang mampu membangkitkan market confidence, masa slow down akan semakin panjang. Pada 2018 dan 2019, laju pertumbuhan ekonomi, bisa jadi, hanya berkisar 5,0-5,5 persen. Jika itu terjadi, kesenjangan ekonomi akan semakin lebar.

PENULIS:

investor.co.id
Daily news and information on financial markets and investments.