Sinergi Perangi Narkoba

Perang terhadap peredaran dan penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan obat terlarang (narkoba) makin pelik ketika muncul berbagai jenis narkotika baru. Saat ini terdapat sekitar 800 narkotika jenis baru yang beredar di dunia. Sebanyak 65 di antaranya sudah terdeteksi masuk ke Indonesia.

Selain jenis narkotika yang beraneka, psikotropika yang beredar legal untuk tujuan pengobatan pun rawan untuk disalahgunakan. Psikotropika adalah zat yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Beberapa obat depresan termasuk dalam kategori ini.

Kasus kepemilikan 30 butir Dulmolid yang melibatkan artis Tora Sudiro menunjukkan bahwa perang terhadap narkotika dan zat psikotropika makin pelik. Tugas aparat kepolisian maupun Badan Narkotika Nasional (BNN) menjadi lebih berat karena target mereka bukan hanya bandar dan pemakai narkotika yang harus dibekuk melainkan melebar bahkan sangat mungkin profesi-profesi legal.

Antara pasien dan dokter bisa saja menyalahgunakan penggunaan obat-obatan yang tergolong dalam kategori psikotropika dengan dalih untuk kesehatan. Dalam kasus-kasus seperti ini tidak bisa tidak aparat BNN maupun Kepolisian harus mampu membuktikan penyalahgunaan. Barang bukti tidak lagi hanya bisa ditunjukkan dengan temuan-temuan secara fisik. Aparat harus mampu membuktikan bahwa seorang yang ditangkap memang membutuhkan zat psikotropika tersebut demi kesehatannya, atau menggunakannya karena kecanduan. Bagaimana ia mendapatkannya, apakah melalui resep dokter atau tidak. Siapa yang menjual dan seterusnya.

Pembuktian yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan terkait kasus-kasus penggunaan zat psikotropika seperti ini bakal membuka mata awam bahwa bahaya narkoba bukan hanya sebatas ganja, sabu, ekstasi dan jenis yang umum dipublikasikan.

Pengawasan terhadap penyalahgunaan zat psikotropika akan lebih efektif manakala masyarakat mendapatkan pemahaman lebih detail mengenai aturan serta jenis narkoba. Awam perlu mendapatkan informasi lebih detail terkait zat-zat depresan yang bisa memperlambat fungsi otak serta risiko atau bahaya yang ditimbulkannya. Dengan sosialisasi masif, maka pengawasan terhadap penyalahgunaan psikotropika dan zat aditif lainnya bisa juga dilakukan secara tidak langsung oleh masyarakat. Awam, khususnya pasien dan keluarga pasien, akan semakin kritis. Publik pun dapat melaporkan bila mengetahui adanya pihak pengedar di luar otoritas yang diatur undang-undang.

Dalam kondisi seperti ini instansi terkait harus bersinergi menunjang tugas dan fungsi aparat kepolisian dan BNN dalam memerangi peredaran dan penyalahgunaan narkoba. Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) dan Kementerian Kesehatan (Kemkes) harus meningkatkan kerja sama dengan Polri dan BNN untuk mengawasi obat jenis ini. Sebab, upaya masif yang dilakukan aparat keamanan dalam pemberantasan narkoba membuat penggunanya beralih ke obat-obatan psikotropika, yang bisa didapat dengan mudah dengan risiko yang kecil.

Sinergi antarlembaga juga sangat diperlukan dalam mengatasi fenomena kemunculan pabrik-pabrik narkoba selama 10 tahun terakhir yang menggunakan bahan baku atau prekusor. Tumbuh suburnya produksi ilegal narkoba di Indonesia diduga karena kemudahan mendapatkan prekursor yang notabene digunakan secara luas oleh berbagai industri skala besar-kecil seperti industri farmasi, kosmetika, makanan, tekstil, cat, termasuk pula proses vulkanisasi ban.

Pengawasan melekat terhadap lembaga-lembaga terkait adalah sebuah keharusan. Manakala Aparat BNN dan Kepolisian sibuk memerangi jalur konvensional peredaran narkotika, lembaga terkait lainnya seperti Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, Kemkes, Bea Cukai, BPOM, tidak boleh berleha-leha. Sanksi keras dan tegas perlu diterapkan bagi setiap personel yang melakukan pelanggaran.

Secara internasional prekursor merupakan bahan yang di awasi secara sangat ketat mengacu pada ketentuan internasional yang tercantum Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Pemberantasan Peredaran Gelap Narkotika dan Psikotropika 1988. Prekursor yang diawasi tercantum dalam red list, yaitu daftar bahan-bahan prekursor yang diawasi secara internasional yang ditetapkan oleh badan internasional yang mengawasi impor, ekspor dan peredaran prekursor antarnegara (International Narcotics Control Board/INCB). Karena itu, keluar masuknya prekusor sejak dari proses impor, ke industri, bahan sisa, bahkan sampai dikonversi menjadi produk industri, harus dihitung cermat. Jangan sampai ada yang bocor.

PENULIS:

suarapembaruan.com