Bisnis Siap Ekspansi

Pertumbuhan ekonomi paruh pertama tahun ini memang sedikit menurun dibanding periode sama tahun lalu. Namun, pada semester kedua dipastikan melaju, didorong berbagai faktor positif global maupun dalam negeri. Para pelaku usaha di Tanah Air pun tetap ekspansif, seiring perkiraan kondisi bisnis yang membaik hingga akhir tahun.

Badan Pusat Statistik mencatat, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) pada semester I 2016 mencapai 5,05 persen, setelah pada kuartal I dan II masing-masing tumbuh 4,91 persen dan 5,19 persen. Untuk kuartal III dan IV masing-masing 5,02 persen, dan kuartal IV 4,94 persen, sehingga pertumbuhan sepanjang tahun lalu sebesar 5,02 persen.

Sedangkan pada semester I tahun ini, ekonomi Indonesia tumbuh 5,01 persen, setelah pada kuartal I maupun II masing-masing mencatatkan pertumbuhan 5,01 persen. Namun demikian, pada kuartal III dan IV mendatang, ekonomi diperkirakan tumbuh lebih baik.

Membaiknya ekonomi itu diindikasikan dengan Indeks Tendensi Bisnis (ITB) pada triwulan III 2017 yang diperkirakan mencapai 108,82. Ini berarti, secara umum, kondisi bisnis pada triwulan III 2017 bakal meningkat dibanding triwulan sebelumnya, meski tingkat optimisme pelaku bisnis diperkirakan sedikit menurun dibanding triwulan II. Indeks ini diperoleh dari Survei Tendensi Bisnis (STB) yang dilakukan oleh BPS bekerja sama dengan Bank Indonesia, dengan melibatkan responden para pimpinan dari ribuan perusahaan besar dan sedang di seluruh provinsi di Indonesia.

Pada triwulan III 2017, kondisi bisnis seluruh kategori lapangan usaha diperkirakan meningkat. Peningkatan bisnis tertinggi diperkirakan terjadi pada lapangan usaha administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib dengan perkiraan nilai ITB sebesar 130,88. Sementara itu, peningkatan bisnis yang terendah diperkirakan terjadi pada lapangan usaha jasa perusahaan dengan perkiraan ITB 101,03.

Meski harus ada extra effort, pertumbuhan ekonomi kita masih bisa dikejar sesuai target 5,2 persen dalam APBN-P 2017. Untuk mencapai target itu, pada semester ini, pertumbuhan harus digenjot minimal 5,39 persen.

Untuk memperbaiki kondisi ekonomi, pertama-tama secara psikologis pemerintah harus mampu memompakan optimisme. Ini terutama dengan serius menggenjot realisasi government's spending untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi pada semester ini.

Pemerintah harus mau memperbaiki diri, mengingat buruknya realisasi belanja pemerintah telah terkonfirmasi pada pengeluaran konsumsi pemerintah yang hanya tumbuh 0,03 persen pada semester pertama 2017, jauh di bawah pertumbuhan PDB nasional 5,01 persen. Untungnya, pengeluaran konsumsi rumah tangga yang menyumbang separuh lebih PDB RI masih bisa tumbuh 4,94 persen dan investasi (pembentukan modal tetap bruto) 5,07 persen.

Di tengah masih belum pulihnya ekonomi global maupun domestik, belanja pemerintah wajib diperbesar untuk lebih menggerakkan ekonomi. Meski bukan penyumbang PDB yang terbesar, kenaikan realisasi belanja pemerintah untuk sektor produktif--terutama infrastruktur penting--akan memunculkan gairah baru swasta untuk lebih banyak berinvestasi. Sebagian pengusaha yang kini masih menahan investasi juga akan terdorong ekspansi dan menyerap banyak tenaga kerja, sehingga daya beli dan belanja masyarakat pun menguat.

Oleh karena itu, ke depan, kementerian/lembaga perlu mendapatkan insentif dan disinsentif berdasarkan besaran realisasi penyerapan anggaran dan percepatan pencairan pada semester akhir ini. Jika realisasinya jauh di bawah target dan pencairannya hanya menumpuk di akhir tahun, maka anggaran tahun depan harus dipangkas dan sebaliknya.

Demikian pula harus ada insentif dan disinsentif untuk mengefektifkan pengelolaan dana transfer daerah dan dana desa yang mencapai ratusan triliun rupiah per tahun, yang belum signifikan menggerakkan ekonomi daerah. Dari dana transfer ke daerah dan dana desa yang anggarannya naik menjadi Rp 766,3 triliun pada APBN-P 2017, sebanyak Rp 222,59 triliun dana pemda masih disimpan di perbankan. Hal ini sangat ironis di tengah kebijakan Kementerian Keuangan dan Ditjen Pajak yang terus mengejar pajak para pengusaha yang telah membayar kewajibannya. Bahkan, masyarakat yang daya belinya tertekan kenaikan tarif listrik dan gas pun masih akan dinaikkan pajaknya.

Pemerintah bersama otoritas yang lain juga harus bersinergi untuk meningkatkan market confidence. Kebijakan pemerintah harus ditingkatkan kualitasnya, misalnya melalui paket-paket ekonomi yang secara teori memang bisa membangun keyakinan pasar. Namun, di sisi lain, kebijakan yang tidak konsisten dalam pelaksanaannya--seperti yang tercermin dalam 15 paket sebelumnya--justru menjadi bumerang, karena malah bisa menimbulkan ketidakpercayaan (distrust) para pelaku pasar.

Oleh karena itu, pemerintah harus lebih serius dengan mulai mengeluarkan kebijakan yang betul-betul efektif dan bisa diimplementasikan di lapangan. Paket kebijakan ekonomi ke-16 yang akan dikeluarkan misalnya, harus sudah lebih dulu digodok antarkementerian, instansi, sekaligus melibatkan para pelaku bisnis, sehingga tidak ada yang bertentangan dengan undang-udang ataupun menimbulkan benturan di lapangan.

Paket ini juga wajib dikeluarkan setelah betul-betul siap saji alias langsung dilengkapi peraturan menteri, surat edaran dirjen, hingga kesiapan petugas di lapangan dan sosialisasi kepada masyarakat sebelumnya. Kebijakan baru yang seketika dapat diimplementasikan, seperti saat puncak kejayaan Orde Baru, akan menumbuhkan kepercayaan bahwa pemerintah benar-benar mampu melakukan perbaikan iklim bisnis dan birokrasi, bukan sekadar wacana.

Kepercayaan pasar ini penting, karena menjadi salah satu dasar bagi pelaku bisnis untuk mengambil keputusan. Ini termasuk keputusan untuk membeli atau menjual mata uang asing, yang pada akhirnya akan memengaruhi nilai tukar rupiah yang berperan penting dalam pembentukan indikator ekonomi makro maupun jalannya bisnis. Demikian pula keputusan konsumen untuk membeli atau menunda pembelian, yang selanjutnya memengaruhi permintaan terhadap produk atau tingkat penjualan.

Yang tak kalah penting, kepercayaan terhadap pemerintah ini juga harus ditingkatkan dengan menjaga optimisme para pengusaha yang masih mau berinvestasi besar-besaran. Misalnya membantu kemudahan perizinan, seperti dalam proyek Meikarta yang total nilai investasinya mencapai Rp 278 triliun, yang sebagian besar dananya akan dibelanjakan untuk membeli barang-barang produksi dalam negeri.

Gambaran tingkat kepercayaan pasar terhadap ekonomi maupun iklim bisnis ini nantinya juga terlihat dari pergerakan indeks harga saham di Bursa Efek Indonesia. Meningkatnya keyakinan para investor dan membaiknya prospek ekonomi dipastikan kembali menarik pemodal untuk masuk pasar saham, selain investasi langsung yang memberikan untung lebih besar dalam jangka panjang.

PENULIS:

investor.co.id
Daily news and information on financial markets and investments.