Dana Asing

Investor asing keluar dari pasar saham Indonesia. Hingga kemarin (11/9) masih terjadi aksi jual bersih (net sell) investor asing yang nilainya mencapai Rp 615,6 miliar. Dengan demikian, secara year to date (ytd), investor asing sudah membukukan net sell sebesar Rp 6,64 triliun. Padahal, dana asing sempat mencatatkan beli bersih (net buy) sebesar Rp 28,8 triliun pada 24 Mei lalu.

Keluarnya dana asing dari pasar saham ini merupakan anomali karena terjadi ketika indeks harga saham gabungan (IHSG) tidak terpuruk, bahkan mencetak rekor tertinggi dalam sejarah yaitu 5.910 pada 3 Juli 2017.

Kemudian, pada 23 Agustus 2017, IHSG kembali mencetak rekor tertinggi baru di posisi 5.914. Pada perdagangan kemarin, IHSG bertengger di posisi 5.871,88 setelah ditutup naik 14,76 poin atau 0,25 persen. Sepanjang tahun ini, IHSG telah tumbuh 10,86 persen.

Kondisi net sell juga menjadi anomali karena terjadi setelah pada 19 Mei 2017 lembaga pemeringkat Standard & Poor's (S&P) mengumumkan peringkat BBB- dengan outlook positif, yang merupakan kategori investment grade (layak investasi) untuk surat utang Indonesia. Dengan kategori investment grade, investor asing semestinya akan lebih banyak membeli dibandingkan dengan menjual sehingga yang terjadi adalah net buy, bukan net sell.

Sedangkan sebelum kategori investment grade diberikan, investor asing memburu saham sehingga terjadi akumulasi net buy. Kejadian net buy itu juga di luar dugaan. Sebab, pada periode tersebut tensi politik di Jakarta lagi memanas dipicu oleh hiruk pikuk Pilkada Jakarta yang menyita perhatian nasional dan internasional. Hal itu menunjukkan bahwa tensi politik dalam negeri tidak memengaruhi minat investor asing masuk pasar saham.

Aksi net sell investor asing di pasar saham mungkin disebabkan oleh kondisi pasar yang sudah berada di puncaknya. Sehingga mereka pun buru-buru mengambil langkah merealisasikan keuntungan atau profit taking. Pelaku pasar selalu melihat potensi gain yang diraih dalam investasinya. Pelaku pasar juga selalu mencari momentum yang dapat menjaga aset-aset dan melindungi portofolio mereka.

Kita bersyukur, meski terjadi net sell di pasar saham, dana asing itu sesungguhnya tidak keluar Indonesia. Dana asing itu hanya berpindah atau shifting dari saham ke instrumen investasi lainnya, termasuk obligasi. Ini karena pasar saham sedang tidak ada momentum, sementara pasar obligasi Indonesia masih memberikan imbal hasil yang menarik. Misalnya surat utang negara (SUN) masih bisa memberikan kupon bunga di kisaran 7,0-7,5 persen. Sedangkan untuk obligasi korporasi dengan rating A bisa 8,75-10 persen dan rating di bawah A tentu kuponnya lebih besar lagi.

Berbeda dengan pasar saham, pasar obligasi “kebanjiran” dana asing. Hal itu dapat dilihat dari kepemilikan investor asing di surat berharga negara (SBN) terus meningkat. Hingga 8 September 2017, kepemilikan asing di SBN menjadi Rp 794,11 triliun atau meningkat 19,27 persen dari posisi akhir tahun lalu sebesar Rp 665,81 triliun. Porsi kepemilikan asing itu mencapai 39,29 persen dari total penerbitan SBN.

Fenomena net sell di bursa saham juga disebabkan tidak adanya sentimen positif dari dalam negeri yang menjadi pertimbangan investor asing untuk tetap bertahan di pasar saham. Mereka masih membutuhkan bukti bahwa fundamental ekonomi Indonesia cukup kuat sehingga mampu menahan guncangan dari luar. Rancangan APBN 2018 yang telah disampaikan Presiden Joko Widodo, rilis paket kebijakan ekonomi jilid ke-16 serta pengumuman angka deflasi sebesar 0,07  persen pada Agustus 2017 belum mampu meyakinkan investor asing untuk masuk pasar saham.

Sedangkan dari sisi global sedang tidak menentu. Isu rudal Korea Utara menciptakan kekhawatiran eskalasi ketegangan geopolitik di Semenanjung Korea. Sedangkan mundurnya Wakil Gubernur The Fed Standley Fiscer--yang digadang-gadang sebagai calon kuat pengganti Janet Yellen--membuat pasar berekspektasi kenaikan suku bunga acuan The Fed kemungkinan baru dilaksanakan pada akhir tahun ini.

Kita juga bersyukur peranan investor lokal yang semakin besar di bursa saham Indonesia mampu menopang penguatan IHSG meski asing banyak melepas sahamnya. Investor lokal mulai berani masuk dan membeli di harga yang dianggap murah. Aksi investor lokal ini mampu mendongkrak IHSG seperti terjadi pada perdagangan kemarin.

Kini, investor asing menunggu momentum kinerja keuangan emiten dan data produk domestik bruto untuk kembali ke pasar saham. Kita berharap investor asing akan kembali masuk pasar saham jika kinerja emiten pada kuartal ketiga bagus. Kita juga berharap kinerja emiten akan tetap memberikan efek yang konsisten dalam jangka panjang. Sebab, pada akhirnya harga saham selalu mencerminkan fundamental perusahaan.

PENULIS:

investor.co.id
Daily news and information on financial markets and investments.