Pembayaran Berteknologi Nirsentuh

Program pembayaran jalan tol nasional secara elektronik mulai 31 Oktober 2017 diharapkan mampu memperbaiki layanan tol di Tanah Air. Yang lebih strategis, program ini nantinya diikuti dengan pembayaran jalan tol menggunakan teknologi nirsentuh seperti near field communication (NFC) pada akhir 2018 yang siap didukung kalangan perbankan.

Program pembayaran jalan tol nasional dengan uang elektronik, tentu saja harus sukses. Pasalnya, selain memperlancar arus kendaraan di jalan tol, hal itu juga sangat mendukung Gerakan Nasional Non-Tunai (GNNT) yang dicanangkan bank sentral dan pemerintah. Itulah sebabnya, kita menyambut baik langkah Bank Indonesia (BI) menggratiskan biaya kartu uang elektronik pada 17-31 Oktober 2017, bekerja sama dengan bank penerbit dan Badan Usaha Jalan Tol (BUJT).

Gratis biaya kartu tersebut juga membuktikan sinergi BI sebagai otoritas moneter, kementerian pemegang otoritas transportasi dan jalan tol, maupun pelaku industri perbankan dan jalan tol. Mereka juga merespons baik masukan dari masyarakat yang membutuhkan kemudahan untuk bisa menggunakan kartu tersebut, termasuk dari sisi keringanan biaya.

Pada periode gratis biaya kartu 17-31 Oktober 2017, biaya pembuatan kartu akan ditanggung oleh bank penerbit dan BUJT, masing-masing Rp 10.000. Jadi, masyarakat tinggal mengisi saldo di kartu tersebut. Insentif ini berpeluang besar mendorong semua masyarakat menggunakan uang elektronik untuk pembayaran jalan tol mulai 31 Oktober nanti.

Sebelumnya, pada 17-31 September 2017, biaya kartu sudah dipotong 50 persen atau menjadi Rp 10.000 untuk menyukseskan program pembayaran jalan tol secara elektronik. Sosialisasi program ini juga digencarkan dan mulai 17 September lalu, PT Jasa Marga Tbk (Persero) secara bertahap sudah mengubah metode pembayaran transaksi tunai menjadi nontunai di semua gardu tol di Jalan Tol Jakarta-Cikampek.

Alhasil, penetrasi uang elektronik untuk pembayaran jalan tol naik tajam, kini menembus 84-88 persen untuk wilayah Jabodetabek, dibanding bulan lalu 62-63 persen. Sedangkan untuk tingkat nasional menjadi sekitar 80 persen.

Saat ini, sudah ada lima bank yang menjadi bank penerbit uang elektronik untuk jalan tol, yakni PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, dan PT Bank Central Asia Tbk. Pada Desember nanti dijadwalkan masuk tiga penerbit lagi, yakni PT Bank Nationalnobu Tbk (NobuBank), PT Bank Mega Tbk, dan PT Bank DKI. Kesempatan bagi bank lain juga masih terbuka.

Adanya program penggratisan biaya kartu itu, tentu saja menarik masyarakat untuk segera berpindah menggunakan uang elektronik dalam membayar jalan tol. Selama ini, sebagian masyarakat masih menimbang-nimbang untuk menggunakan uang elektronik. Karena, apabila hilang, konsumen pun kehilangan uang. Padahal, sebenarnya sudah ada sejumlah pengamanan untuk menurunkan risiko. Misalnya jumlah dana yang mengendap di uang elektronik ada batas maksimalnya. Selain itu, dana yang mengendap di uang elektronik tidak boleh digunakan untuk membiayai kredit. Dana tersebut masuk dalam neraca on balance sheet atau dipergunakan untuk kewajiban segera.

Program insentif semacam ini tentunya sangat baik untuk dilanjutkan pada program perbaikan layanan jalan tol berikutnya, yakni lewat penggunaan pembayaran berteknologi nirsentuh. Program ini sangat membantu untuk benar-benar mewujudkan jalan tol sebagai jalan bebas hambatan. Pasalnya, uang elektronik harus ditempel dahulu di pintu tol dan masih ada sejumlah kendala yang berpotensi menimbulkan antrean.

Para pengguna mobil di jalan tol kadang mengalami gangguan, seperti setruk yang tidak keluar, atau kesulitan menempel kartu tol. Beberapa mesin juga lama dalam membaca kartu, sehingga proses pembayaran menjadi lebih lama. Semestinya proses ini hanya sekitar 3-4 detik.

Pengendara juga kadang tidak bisa menjangkau mesin pembaca kartu. Misalnya karena postur tubuh yang pendek. Pengemudi ini harus melepas sabuk pengaman dulu, menetralkan transmisi, melepas sabuk pengaman, memundurkan jok sampai mengeluarkan kepala, baru kemudian bisa melakukan penempelan kartu. Ada juga yang sampai harus membuka pintu, karena jarak mobil dengan mesin cukup jauh. Di sisi lain, kalau kurang hati-hati, sehingga terlalu mepet, tak jarang pelek mobil jadi terbaret.

Memang, sebagian konsumen ada yang mencari solusi dengan menggunakan tongkat, seperti tongkat narsistik (tongsis) yang banyak dijual. Namun, hal ini tidak menyelesaikan kendala tersebut. Misalnya, tetap dibutuhkan waktu untuk proses penempelan kartu. Selain itu, pengendara juga tetap harus memperlambat dan menghentikan dahulu mobilnya beberapa saat.

Untuk itu, program pembayaran jalan tol dengan menggunakan teknologi nirsentuh, seperti NFC, perlu juga disosialisasikan lebih awal dan mulai diterapkan secara sukarela bagi pengguna. Pasalnya, teknologi ini sebenarnya sudah ada, bahkan sudah lama digunakan negara-negara lain, seperti tetangga Malaysia.

Selain bisa memperlancar arus lalu lintas dan mempermudah pengguna jalan tol, sosialisasi dan penerapan yang lebih awal juga menghindari terjadinya ekses negatif karena ketidaksiapan konsumen saat awal penerapan. Hal ini terjadi pada hari-hari pertama penggunaan 100 persen uang elektronik di sejumlah ruas tol Jasa Marga.

Alhasil, kemacetan panjang terjadi menjelang pintu tol hingga masuk jalan tol. Teknologi seperti NFC juga sudah menjadi fitur standar di ponsel pintar. Selain pengguna dapat melakukan pembayaran dengan ponsel pintar ke perangkat transaksi tol tanpa menggunakan kartu, mereka juga bisa menggunakannya untuk membayar berbagai transaksi di toko, membeli makanan di restoran, membayar parkir, hingga menonton film di bioskop. Dengan demikian, hal ini bisa cepat menyukseskan GNNT.

PENULIS:

investor.co.id
Daily news and information on financial markets and investments.