Menggenjot Pariwisata

Pariwisata tak hanya quick yielding industry atau cepat menghasilkan, namun juga menyerap jutaan tenaga kerja. Industri ini juga tak membutuhkan modal dolar sangat besar, namun lebih ke modal kepiawaian, jejaring, dan hospitality alias keramahan. Keputusan pemerintah menggenjot pariwisata sebagai penghasil devisa terbesar pada 2019 juga tidak hanya menjadi tanggung jawab Kementerian Pariwisata, namun juga kementerian lain dan perlu melibatkan swasta maupun masyarakat setempat.

Industri unggulan itu akan melahirkan banyak UKM. Ini misalnya biro-biro perjalanan yang dapat berkembang dan menghasilkan banyak uang, tanpa perlu modal besar. Mereka tak hanya mendapatkan banyak tip dari wisatawan asing (wisman) yang dipandu, namun juga komisi dari restoran maupun toko-toko suvenir. Yang diperlukan adalah kompetensi, kredibilitas, dan kepiawaian mengarahkan turis untuk mendapatkan pengalaman yang nyaman, indah, dan aman.

Masyarakat setempat juga bisa mendapatkan penghasilan lumayan dari menyediakan home stay. Salah satu daya tarik Bali di kalangan wisman dunia adalah bertebarannya home stay yang murah dengan fasilitas yang cukup baik.

Industri lokal, baik yang berbasis tradisional maupun modern, juga dipastikan tumbuh subur. Turis-turis yang mulai banyak berdatangan ke Solo misalnya, menjadi salah satu penopang kembali berkembangnya pusat batik tradisional di Kampung Laweyan.

Tembok-tembok tua di sana menjadi saksi masa kejayaan batik Laweyan yang sudah dimulai sejak 600 tahun lalu. Dahulu, kawasan ini banyak ditumbuhi pohon kapas dan menjadi sentra industri benang hingga kain tenun atau bahan pakaian yang disebut lawe. Dari sinilah asal nama Laweyan.

Di sisi lain, turis-turis yang mengunjungi Kota Pelajar dan heritage city Yogyakarta juga tak akan melewatkan untuk memborong kaus oblong produksi PT Aseli Dagadu Djokdja, dengan ciri khas kata-kata lucu nan menyentil. Dagadu ini awalnya merupakan usaha kecil-kecilan sekelompok anak muda yang sebagian besar kuliah di jurusan teknik arsitektur Universitas Gadjah Mada. Dagadu bukanlah perusahaan kaus dan tidak mempunyai pabrik kaus, namun yang dijual adalah kreativitas mengolah kata.

Pariwisata otomatis juga akan membangkitkan industri kuliner lokal maupun standar internasional. Restoran hingga kafe-kafe bakal penuh pengunjung hingga tengah malam. Industri ini juga pasti ramah lingkungan. Ecotourism atau wisata alam sendiri sudah berkembang menjadi segmen yang sangat menjanjikan.

Industri pariwisata juga menjadi tambang devisa yang tak akan ada habisnya. Devisa yang dihasilkan saat ini sudah menduduki peringkat kedua setelah komoditas minyak sawit, mengalahkan sektor migas. Bahkan, pada 2019 ditargetkan menjadi nomor wahid, dengan devisa setara Rp 280 triliun atau menggaet wisman 20 juta orang. Penyerapan tenaga kerja ditargetkan mencapai 12,6 juta. Sementara itu, hingga akhir tahun ini, kunjungan wisman ditargetkan mencapai 15 juta orang dan devisa Rp 200 triliun.

Pembangunan industri pariwisata ini merupakan mesin besar yang akan efektif menggerakkan ekonomi rakyat. Investasi pun akan tersedot ke sana, baik asing maupun dari domestik.

Untuk itu, pemerintah harus all out mewujudkan pariwisata sebagai penyumbang terbesar produk domestik bruto (PDB) RI dua tahun mendatang, mengingat Indonesia memiliki semua potensi yang dibutuhkan. Ini mulai dari alam pegunungan hingga bahari yang luar biasa indah, seni dan kebudayaan yang beraneka ragam, hingga bangunan bersejarah dan situs religi kuno, seperti Candi Borobudur, yang merupakan monumen Buddha terbesar di dunia.

Langkah yang harus dilakukan adalah, pertama, presiden harus tegas menugaskan semua kementerian untuk bahu-membahu menggenjot pembangunan pariwisata sesuai bidang tugasnya. Artinya, tanggung jawab atas sukses tidaknya pariwisata Indonesia bukan hanya tanggung jawab menteri pariwisata, namun juga tanggung jawab semua menteri terkait.

Kedua, pemerintah fokus pada pemenuhan persyaratan kesuksesan pariwisata, yakni triple A (access, amenities, and attraction). Untuk access cepat, tentunya menteri pekerjaan umum dan perumahan rakyat (PUPR) wajib bahu-membahu dengan menteri perhubungan, menteri BUMN, menteri hukum dan HAM yang membawahkan Imigrasi, serta menteri keuangan yang membawahkan Bea Cukai. Ini mulai dari penyediaan jalan-jalan mulus hingga bandara internasional. Landasan pacu bandara harus panjang sehingga bisa didarati pesawat berbadan lebar untuk penerbangan langsung dari negara-negara pusat wisman dunia, seperti Tiongkok, AS, dan Jepang. Selain itu, dibangun pelabuhan marina besar yang bisa disandari cruise atau kapal pesiar yang sekaligus dapat mengangkut 5.000 wisman.

Di bandara dan pelabuhan marina itu juga harus sekaligus dilayani oleh Kantor Imigrasi dan Bea Cukai. Yang tak kalah penting, para petugas sama sekali tidak boleh meminta tip, apalagi memeras sebagaimana pernah dituduhkan salah satu kedutaan asing di Jakarta. Insiden negatif akan cepat menyebar atau bahkan menjadi viral, dan tentunya bisa meruntuhkan semua upaya yang sudah dibangun.

Untuk pemenuhan amenities, pemerintah harus bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk swasta yang memiliki modal, manajemen, hingga SDM yang memadai. Ini mulai dari penyediaan toilet yang bersih dan cukup air, pembangunan pusat-pusat perbelanjaan, toko suvenir, restoran, hotel berbintang, hingga rumah sakit internasional dengan disediakan pula dokter-dokter ahli dari internasional.

Sedangkan dari sisi atraksi, harus dibangun pula event akbar yang digelar reguler, karena suguhan alam telanjang tidak cukup untuk wisatawan. Mereka juga butuh adanya atraksi yang dikreasi secara apik, mulai dari pertunjukan seni budaya lokal, festival musik seperti Java Jazz di Jakarta, hingga sport tourism seperti Tour de Flores di Nusa Tenggara Timur. Pulau Flores, NTT, khususnya di Pulau Komodo, merupakan habitat kadal raksasa komodo satu-satunya di dunia.

Ketiga, yang tak kalah penting, pemerintah harus mempersiapkan masyarakat lokal agar tak menjadi ancaman bagi tamu yang datang. Keramahan tidak hanya terbatas pada petugas hotel atau restoran, tetapi juga mencakup sopir yang tidak semena-mena menaikkan sewa mobil. Pedagang pun jangan aji mumpung melipatgandakan harga jual barang ke turis.

Untuk menjaga kenyamanan dan memberikan pengalaman wisata yang menyenangkan ini, pemerintah perlu mengedukasi masyarakat dengan melibatkan tokoh agama dan pemimpin adat yang disegani. Masyarakat lokal juga harus diberi kesempatan luas untuk menjadi pekerja industri pariwisata.

PENULIS:

investor.co.id
Daily news and information on financial markets and investments.