Indeks Menuju Level 7.000

Sentimen positif akan mendorong indeks harga saham gabungan menembus level 7.000 di akhir tahun 2018. Para pelaku bisnis yakin, tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya. Dalam situasi politik yang terkendali dan kondisi keamanan yang stabil, kegiatan ekonomi diyakini bakal berjalan dengan baik. Para investor akan kembali meningkatkan investasi, tak lagi wait and see. Ekspor, yang mencatat tren positif dalam dua tahun terakhir, akan terus meningkat. Pemerintah akan meningkatkan kualitas belanja demi mengangkat citra di mata pemilih jelang pilpres, Maret 2019.

Pilkada serentak 171 pasangan calon gubernur, bupati, wali kota, dan wakilnya yang akan digelar 27 Juni 2018 diyakini akan berjalan aman. Demikian pula dengan pendaftaran para calon presiden dan anggota legislatif, mulai September 2018. Suasana kontestasi politik sudah terasa sejak awal Januari 2018, namun stabilitas keamanan akan tetap terjaga. Konflik politik di tingkat elite tidak akan memicu konflik horizontal. Suasana panas pilgub DKI tahun 2017 tidak akan merembet ke pilkada tahun ini.

Dampak buruk isu SARA yang bakal diangkat pada pilkada 2018 dan jelang pilpres, Maret 2019, bisa diredam. Umumnya elite agama menunjukkan sikap toleran dan memisahkan agama dari politik. Isu SARA pasti dimainkan oleh pendukung kandidat tertentu. Namun, ketegangan antarkelompok agama dan etnis, seperti pada Pilgub DKI tidak akan terjadi di pilkada maupun pilpres yang diselanggarakan serentak dengan pileg.

Tahun 2017 dilewati dengan laju pertumbuhan ekonomi 5,05 persen, sedikit di bawah target pemerintah, 5,2 persen, dan angka 5,1 persen seperti yang diprediksikan banyak pengamat. Kenaikan indeks harga saham gabungan (IHSG) menunjukkan optimisme para pelaku bisnis akan prospek pertumbuhan ekonomi yang lebih baik pada tahun 2018. Para pengusaha yang tergabung di Kadin Indonesia memperkirakan, ekonomi tahun ini bisa mencapai 5,2 persen. Meski tidak sebesar target pemerintah, tetapi lebih tinggi dibanding realisasi tahun 2017.

Presiden Jokowi takkan menyia-nyiakan tahun 2018, tahun terakhir pemerintahannya. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), instrumen ekonomi paling penting untuk mendorong pertumbuhan dan pemerataan akan dimanfaatkan dengan efektif untuk mengangkat kinerjanya. Bagi incumbent, prestasi adalah kampanye terbaik untuk merebut simpati pemilih.

Belanja APBN yang dalam dua tahun terakhir tersendat akan dipercepat. Alokasi anggaran akan diatur lebih cepat dan tepat arah. Pemerintahan Jokowi akan berusaha mencegah penilaian miring bahwa belanja APBN menjadi faktor penyebab lambannya pertumbuhan ekonomi. Presiden Jokowi sudah menginstruksikan untuk menggerakkan ekonomi perdesaan lewat kegiatan padat karya. Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, dan Kementerian Perhubungan ditugaskan Presiden untuk menggelar proyek padat karya. Sedikitnya, 200 orang di setiap desa dilibatkan dalam proyek padat karya.

Selain belanja pemerintah dan rumah tangga, pertumbuhan ekonomi tahun ini akan dihela oleh ekspor yang membaik. Kenaikan harga minyak mentah akan diikuti oleh kenaikan harga berbagai komoditas pertambangan dan agribisnis. Ekspor batu bara dan sawit Indonesia akan kembali meningkat. Tren ini sudah dibaca pelaku pasar. Saham sektor pertambangan termasuk yang mengalami kenaikan signifikan selama 2017.

Sektor ritel dan properti yang agak lesu selama dua tahun terakhir akan bergairah tahun ini. Kegiatan sektor infrastruktur dan konstruksi akan semakin intensif. Kinerja perbankan akan terus membaik. Laba emiten sektor konstruksi diperkirakan naik hingga 18% dan sektor keuangan 21 persen. Saham-saham sektor ini akan mencatat kenaikan signifikan tahun ini.

Jika selama 2017 terjadi net selling Rp 39,87 triliun, tahun ini bakal terjadi net buying asing. Dalam sepekan pertama 2018, sudah terjadi net buying asing Rp 1,14 triliun. Pada tahun lalu, asing sempat net buying pada lima bulan pertama. Namun, sejak awal semester kedua, asing melakukan aksi jual.

Tidak banyak negara yang memiliki peluang investasi menjanjikan seperti Indonesia. Bunga surat berharga negara (SBN) 7-8 persen dan sambil menunggu peluang, dana asing bisa diparkir di bank dengan suku bunga deposito di atas 4 persen. Di Bursa Efek Indonesia, banyak saham berkinerja dan berprospek bagus yang masih undervalued seperti saham sektor infrastruktur dan konstruksi.

Bila selama tahun 2017, indeks terangkat 20 persen ke level 6.355, tahun ini, IHSG akan terus naik minimal 10 persen dan menembus level 7.000. Mereka yang membeli saham-saham undervalued akan meraup keuntungan di akhir tahun.

PENULIS:

investor.co.id
Daily news and information on financial markets and investments.