Pengunjung melihat pameran keramik

Jakarta - Seni rupa harus tetap hidup dan terus diperkenalkan. Hal ini penting dilakukan agar generasi muda sebagai penerus bangsa sekarang tidak kehilangan arah dalam perjuangan hidupnya di Tanah Air sekaligus menghargai karya-karya seniman terdahulu.

Demikian rangkaian diskusi dalam rangka peringatan 100 tahun kelahiran maestro seni rupa Indonesia Sindudarsono Sudjojono. Oleh karena itu, S. Sudjojono Center bekerjasama dengan Museum Sejarah Indonesia dan lainnya menggelar rangkaian acara seabad untuk lebih mengenal dan menghargai karya-karya Sudjojono.

"Seabad S Sudjojono" merupakan bentuk penghormatan atas peran, kontribusi dan pengaruh Soedjojono terhadap dunia seni rupa Indonesia. Perayaan ini akan digelar pada Desember nanti dengan berbagai agenda dan puncaknya dengan pameran lukisan pelukis.

Fokus perhatian lebih diberikan kepada lukisan yang dianggap sebagai maha karya yaitu lukisan "Pertempuran Sultan Agung dan Jan Pieterszoon Coen". Lukisan berukuran raksasa 3 x 10 meter ini merupakan warisan seni lukis anak bangsa sekaligus menceriterakan sejarah perjuangan bangsa, yang dibuat dengan riset, interpretasi dan detil yang mengagumkan.

Menurut kurator Seabad S.Sudjojono, Santy Saptari, lukisan Pertempuran Sultan Agung dan Jan Pieterzoon Coen dalam perang Mataram merupakan karya agung dari sang maestro yang bersejarah. Sudjojono adalah pelukis akademik yang mengerjakan karyanya dengan intelektual dan riset.

”Karya-karya beliau beraliran realis ekspresionis, dengan mengungkapkan realita hidup dan kritik sosial. Secara teknik dia bergaya seperti pelukis barat, tapi didalam jiwanya selalu Indonesia. Sebenarnya ia cinta dengan keindahan dalam berbagai bentuk. Karena itu, kami ingin meminta perhatian dan apresiasi masyarakat agar aset bangsa ini tetap terawat," katanya di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, Selasa (9/5).

Hal itu dikarenakan lukisan tersebut cukup memprihatinkan karena dimakan usia dan disimpan dalam kondisi yang kurang memadai, walaupun pada tahun 2008 pernah mengalami proses restorasi.

“Kami ingin fokus mulai dari karya puncak bapak, lukisan Sultan Agung yang cukup besar ini ukurannya, 3 x 10 meter dan dipajang di ruang Sultan Agung museum ini. Lukisan ini dibuat pada 1973-1974 sebagai bagian peresmian dibukanya Museum Sejarah Jakarta pada 1974. Lukisan ini juga merupakan pesanan Gubernur Jakarta, Ali Sadikin,” ujar Maya Sudjojono, anak S. Sudjojono sekaligus wakil S. Sudjojono Center.

Setelah diskusi tentang lukisan tersebut, serangkaian acara diagendakan di berbagai tempat. Pada Mei-September nanti akan diadakan pameran lukisan S. Sudjojono di Museum Topeng Ubud-Bali, pertunjukan seni di Museum Nasional, program seni untuk anak dan remaja, pameran lukisan dan konferensi di di Nanyang Technological University, Singapura.

Puncak acara Seabad S.Sudjojono akan diisi dengan pameran seni, kehidupan, dan warisan Sudjojono selama satu bulan yaitu pada 13 Desember 2013 hingga 12 Januari 2014 di Museum Nasional Indonesia, Jakarta. Pada pembukaan pameran tanggal 12 Desember 2013, Pasca Sarjana IKJ akan mempersembahkan pementasan teater.

Dikatakan, pameran lukisan ini dimaksudkan untuk mengenalkan pelukis S. Sudjojono kepada khalayak yang lebih luas. Masyarakat perlu diberi gambaran bahwa Sudjojono adalah tokoh penting seni Indonesia.

Senada dengan itu kurator, ahli museum, dan penulis buku 'Visible Soul' Amir Sidharta mengatakan lukisan Sultan Agung dan JP Coen dianggap sebagai maha karya karena lukisan sejarah yang dilukis bukan merupakan lukisan ilustratif, melainkan hasil pemahaman dan ekspresi dari perupa tentang peristiwa yang terjadi.

"Tidak banyak yang tahu, lukisan ini dibuat dengan detil dan riset yang mendalam. Aspeknya banyak dan masih harus digali. Pak Djon melakukan riset dan memilih satu titik interpretatif dimana ia bisa mengemukakan pendapatnya tentang kejadian itu,” tuturnya.

Suara Pembaruan

Penulis: H-15

Sumber:Suara Pembaruan