Pembuktian Sari Narulita dalam “Damn! Lebih Indah dari Cinta"

Pembuktian Sari Narulita dalam “Damn! Lebih Indah dari Cinta
Nadia Felicia / CAH Kamis, 21 Agustus 2014 | 21:43 WIB

Jakarta – Setelah lebih dari tiga dekade vakum dalam memproduksi karya-karya fiksi dalam bentuk buku, Sari Narulita hari ini
meluncurkan kumpulan cerita pendek (cerpen) fiksi. Perempuan yang pada tanggal 26 Agustus mendatang akan berusia 70 tahun tersebut menyebut buku terkininya sebagai pembuktian diri.

“Buku kumpulan cerpen Damn! Lebih Dari Cinta ini adalah pembuktian diri saya. Bahwa tak ada hal yang bisa menghentikan seseorang untuk berkarya. Bahkan di usia sekarang ini pun saya masih bisa berkarya,” ujar Sari kepada Beritasatu.com, di Jakarta, Kamis (21/8).

Nama Sari Narulita awalnya dikenal bukan sebagai penulis. Di usia remaja, Sari sempat menjajal karier di dunia akting. Talentanya membawa ia berkarya di lebih dari 36 judul film tanah air, termasuk film Badai Pasti Berlalu, di sana ia beradu akting dengan aktris senior Christine Hakim. Ketika menginjak usia 30 tahun, ia sempat menuliskan perjalanannya ke beberapa negara dan dimuat di sebuah majalah. Di sanalah kariernya di dunia tulis menulis dimulai.

Di tahun 1978, Sari menerbitkan novel pertamanya, Kabut Cinta. Mendapat sambutan positif, ia kembali menelurkan karya novel kedua bertajuk Tatkala Cengkeh Berbunga di tahun 1982. Setelah itu, ia kerap mendapat permintaan menulis di berbagai media massa.

Hal ini kemudian menghantarnya menjabat puncak kepemimpinan beberapa majalah waralaba dari luar negeri, seperti Cosmopolitan, kemudian pindah untuk memimpin majalah Her World, Brides, dan Maxim. Hingga pada bulan Februari lalu ia memasuki masa pensiun.

“Saya baru memasuki masa pensiun. Selama ini bekerja di dunia media banyak kesibukan, tidak sempat menulis karya fiksi. Sekarang saya bisa lebih fokus mengerjakan kumpulan cerpen ini. Sebagian dari 13 cerpen di buku ini adalah karya lama. Sebagian lagi baru saya buat,” ungkap Sari sesaat setelah peluncuran bukunya di kawasan Senayan.

Pada ketigabelas cerpen di buku ini, Sari mengaku banyak mendapat inspirasi dari orang-orang yang ia temui di kesehariannya. Meski tidak berarti ia ambil keseluruhan cerita orang lain, hanya poin-poin atau penggalan kejadian saja. Inspirasi-inspirasi kecil itu kemudian ia kembangkan menjadi cerita. Di cerita-cerita tersebut, diakuinya, tersisip pesan-pesan moral.

“Masing-masing cerita punya pesan. Ada cerita yang mengajak perempuan untuk tangguh tanpa harus melepaskan sisi lemah lembutnya. Ada pula pesan untuk perempuan agar mau berani mendapatkan cintanya. Lalu, cerita lain berpesan tentang loyalitas,” tuturnya.

Pesan-pesan yang tersirat serta topik-topik pada cerita-cerita Sari ini tergolong relevan di setiap generasi. Meski ditulis dari kalangan yang sudah senior, bahasa penulisan Sari tidak berkesan demikian. Bahasanya yang ringan, spontan, gamblang, dan kekinian, membuat buku ini mudah dicerna bagi generasi mana pun. Pengalamannya membaca dan mengedit tulisan reporter-reporter di bawah kepemimpinannya, serta dekat dengan anak cucu membantunya mengadopsi serta belajar menulis
dengan gaya berbahasa masa kini.

Di kesempatan peluncuran buku tersebut, hadir pula pemimpin redaksi  majalah Cosmopolitan, Fira Basuki. Menurut Fira, Sari memiliki kekuatan dalam penulisan yang membuat pembacanya merasa terhanyut  dalam ceritanya. “Kekuatan Sari adalah membuat pembaca merasa terhubung dengan tokoh-tokohnya. Namun, ia tidak perlu menulis dengan gembar-gembor glamor seperti kebanyakan penulis masa sekarang. Ia menunjukkan  kesederhanaan dalam penulisan, tetapi tetap bermakna. Kisah cinta harian di tulisan Sari bisa menjadi bermakna dalam,” kata Fira.

Hadir pula dalam peluncuran buku tersebut, penulis buku dan cerpenis  Andrei Aksana. Menurut Andrei, kemauan Sari untuk menghadirkan karya di usia matangnya, patut diapresiasi. “Jangan pernah berpikir usia bisa menghalangi berkarya. Justru di usia matang, seseorang bisa jadi memiliki waktu lebih untuk merekam pengalaman-pengalamannya. Bahkan, bisa menjadi pelajaran untuk dipetik oleh orang muda,” katanya.

Di usianya yang matang, Sari membuktikan, kreativitas, keterampilan,dan kebisaan bisa terus berbuah. Meski memasuki masa pensiun, bukan berarti harus menyerah. Menurutnya, melalui tulisan kepribadian seseorang bisa terus abadi. Buku ini menjadi pembuktian awalnya. Di tahun ini, ia akan menerbitkan sebuah novel, juga bersama Gramedia.

Buku kumpulan cerpen Damn! Lebih Dari Cinta dengan ketebalan 208 halaman ini bisa didapatkan dengan harga Rp 48.000 di toko-toko buku terkemuka.

CLOSE