Salah satu adegan Gatot Kaca Jadi raja
Salah satu adegan Gatot Kaca Jadi raja (sumber: Yanuar Rahman/beritasatu.com)

Sebuah pagelaran drama sinema berjudul Gatot Kaca Jadi Raja rampung digelar, Sabtu (4/2) di Senayan City, Jakarta.


Pertunjukan berdurasi 60 menit ini memadukan seni wayang orang dan seni wayang tradisional dengan sentuhan elemen modern seperti penggunaan latar panggung digital, musik rock sebagai musik pengiring, dan efek visual mencakup tata cahaya dan kembang api.


Gatotkaca Jadi Raja menceritakan tentang Gatotkaca yang akan diangkat menjadi raja Pringgodani tapi ia harus dihadapkan dengan kenyataan bahwa sebelum dinobatkan menjadi pemimpin, tokoh yang dikenal memiliki otot kawat dan tulang besi ini harus menghadapi pamannya, Brojodento.


Selain menampilkan adegan teatrikal dalam cerita ini, penonton juga disajikan beberapa tayangan film yang diperlihatkan melalui layar latar ditengah cerita.


Didukung oleh Tora Sudiro, Titi DJ, dan Aqi "Alexa", mereka semua melakukan akting dan kemampuan mengolah vokal diatas panggung yang diiringi oleh latar musik scoring Aksan Sjuman secara live.


Gelaran acara ini dilakukan empat kali dalam satu hari yaitu pada pukul 13.00, 15.00, 19.00, dan 21.00 WIB. Pertunjukan yang diadakan Djarum Apresiasi Budaya ini bisa dikatakan sebagai alternatif hiburan yang mendidik, karena memberikan sebuah wawasan baru bagi kaum muda yang belum mengenal warisan budaya tanah air, seperti kisah pewayangan yang ditampilkan malam itu.


Namun, meski menceritakan tentang kisah Gatotkaca yang menggunakan latar jaman dahulu, para pemain banyak melontarkan dialog-dialog lelucon menggunakan istilah modern yang tentu saja dipahami oleh para penonton dan mengundang tawa mereka di tengah-tengah pementasan tersebut.


"Harapannya, dengan adanya pertunjukan ini masyarakat Indonesia mampu mengenal cerita pewayangan serta memaknai filosofi agung dalam karakter dan tokoh pewayangan," ujar Renitasari selaku Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation.