Menko PMK: Pengembangan Kebaya Perkuat Cinta Produk Dalam Negeri

?Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani saat membuka Pagelaran Pesona Kebaya Nusantara dalam rangka menyongsong Hari Ibu 2016 di Jakarta, Rabu (7/12). Acara diselenggarakan oleh Perhimpunan Kebayaku. (Istimewa)

Oleh: Asni Ovier / AO | Rabu, 7 Desember 2016 | 17:55 WIB

Jakarta - Pemerintah sangat menaruh perhatian dan harapan besar pada pelestarian dan pengembangan kebaya, yang dapat diarahkan untuk memperkuat industri kebaya. Pasalnya, pengembangan kebaya diyakini akan semakin memperluas kecintaan dan penggunaan produk dalam negeri.

Hal itu dikatakan Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani saat membuka Pagelaran Pesona Kebaya Nusantara dalam rangka menyongsong Hari Ibu 2016 di Jakarta, Rabu (7/12). Acara tersebut diselenggarakan oleh Perhimpunan Kebayaku.

"Kebaya bukan sekadar pakaian, namun juga mempunyai makna filosofi khusus. Bentuknya yang sederhana merupakan wujud kesederhaan masyarakat Indonesia yang memancarkan nilai-nilai kepatuhan, kehalusan, dan perilaku wanita yang serbalembut. Kebaya merupakan ikon wanita Indonesia yang anggun dan berbudaya, yang selalu mengayomi serta memberikan ketenteraman hati," kata Puan

Menko PMK melanjutkan, pengembangan kebaya, selain untuk memperkuat industri kebaya, juga dapat memperkuat kepribadian budaya perempuan Indonesia yang memiliki nilai estetika dan kearifan lokal. Oleh karena itu, ujarnya, perlu menjadi pemikiran dan komitmen bersama untuk mendukung upaya pelestarian dan pengembangan kebaya sebagai ikon busana perempuan nananggun dan berkarakter, tidak hanya untuk Indonesia, namun juga untuk masyarakat dunia.

Menko PMK memaparkan, sejarah kebaya bisa ditelusuri sejak ratusan tahun lalu, yang menyebar hampir ke seluruh penjuru Nusantara dengan berbagai bentuk dan variasi sesuai dengan perkembangan budaya setempat. Kebaya tidak hanya dipadukan dengan batik atau sarung pelekat, namun juga bisa dengan aneka kain tradisional daerah setempat, seperti tenun, songket, dan ulos.

Oleh karena itu, dari berbagai busana tradisional yang ada, Presiden Pertama Ir Soekarno menetapkan kebaya sebagai salah satu busana nasional, khususnya bagi wanita. Bung Karno menganggap kebaya sebagai busana yang paling ideal mencerminkan karakter dan keanggunan sosok perempuan Indonesia.

Puan menambahkan, tepat apabila mengangkat tema ini sekaligus memperingati Hari Ibu Nasional yang jatuh setiap 22 Desember. "Kebaya dan kaum ibu adalah dua karakter yang melambangkan wanita Indonesia yang kuat, teguh, namun lembut dan selalu menginspirasi," kata Puan.

Puan berharap pagelaran kebaya itu akan memberikan kontribusi bagi pelestarian dan pengembangan kebaya dan budaya Indonesia.

“Dengan semangat cinta busana karya budaya bangsa, kita semua berharap di masa mendatang, melalui sentuhan desain dan kreativitas para perancang busana, kebaya dapat bersaing dan berada pada kedudukan yang sama terhormatnya dengan busana modern lain, baik di dalam negeri maupun di tingkat internasional,” ujar Puan.

 




Sumber: BeritaSatu.com
ARTIKEL TERKAIT