Cerdas Berinvestasi dengan Metode Value Investing

Cerdas Berinvestasi dengan Metode Value Investing
Indonesia Value Investor, Rivan Kurniawan. ( Foto: Istimewa )
Indah Handayani / FER Selasa, 2 Januari 2018 | 17:13 WIB

Jakarta - Berbicara mengenai investasi di pasar saham, mungkin yang terlintas di benak adalah metode beli dan jual saham, atau yang lebih dikenal dengan istilah trading. Tidak heran, metode ini lebih disukai oleh sebagian besar kalangan trader di tanah air karena dianggap dapat memberikan keuntungan lebih cepat. Namun apakah benar demikian?

Seorang Indonesia Value Investor, Rivan Kurniawan, memberikan pandangan yang berbeda. Meskipun metode trading dianggap dapat memberikan keuntungan lebih cepat, namun trading memiliki risiko yang jauh lebih tinggi. Sebab, trading hanya mengedepankan analisa teknikal seperti membaca trendline chart dan volume perdagangan saham.

"Namun, analisa teknikal tidak memperhatikan faktor fundamental perusahaan seperti kinerja keuangan," ungkap Rivan, dalam keterangan persnya, Selasa (2/1).

Rivan menambahkan, metode trading juga memiliki risiko yang tinggi karena berorientasi membeli saham untuk kemudian dijual kembali dalam jangka pendek. Padahal, harga saham sangat berfluktuasi naik dan turun dalam jangka pendek sehingga tidak mungkin seseorang bisa memprediksi harga saham akan naik atau turun pada keesokan harinya.

Selain metode trading, lanjut Rivan, ternyata ada metode berinvestasi lain yang menawarkan tingkat risiko yang jauh lebih rendah, namun berpotensi menghasilkan profit yang jauh lebih besar. Metode yang dimaksud adalah Metode Value Investing. Metode Value Investing ini juga sudah teruji untuk bisa secara konsisten mengalahkan rata-rata pasar dalam jangka panjang.

Oleh karena itu, Rivan mengatakan untuk bisa meraih profit secara konsisten di pasar saham, masyarakat dianjurkan berinvestasi saham dengan metode Value Investing. Alih-alih membeli saham berdasarkan analisa teknikal dan orientasi jangka pendek, Value Investing menekankan kepada membeli saham dari perusahaan yang memiliki fundamental kuat namun sedang 'salah harga' karena dihargai murah oleh pasar.

"Singkat kata, seorang Value Investor hanya mau membeli saham yang harga wajar nya di Rp 1.000 namun sedang diperdagangkan di harga Rp 700 atau lebih rendah lagi. Ibaratnya membeli rumah senilai Rp 1 miliar dengan harga Rp 500 juta," kata Rivan.



Sumber: Investor Daily
CLOSE