Laksmi Pamuntjak Wakili Indonesia di Olimpiade Poetry Parnassus

Laksmi Pamuntjak Wakili Indonesia di Olimpiade Poetry Parnassus
Penyair Laksmi Pamuntjak mewakili Indonesia di acara Poetry Parnassus ( Foto: dok.istimewa )
Rabu, 30 Mei 2012 | 11:54 WIB
Olimpiade tidak hanya untuk bidang olahraga saja, tapi juga untuk para penyair.

Dari pemenang Nobel asal Irlandia, Seamus Heaney hingga penyair yang eksil dari Korea Utara, Jang Jin Seong, ratusan penyair dari seluruh dunia direncanakan akan berkumpul di tepi sungai Thames pada musim panas ini untuk kembali menciptakan spirit puisi dari Olimpiade pada zaman dulu.

Pertemuan ini dinamakan Poetry Parnassus, yang dihadiri perwakilan masing-masing negara dari total 204 negara yang berkompetisi di Olimpiade. Para penyair ini dipilih oleh dewan juri yang antara lain adalah penyair ternama Simon Armitage.

Poetry Parnassus ini adalah pertemuan penyair terbesar sepanjang sejarah yang berlangsung selama seminggu pada akhir Juni, yang akan dipimpin oleh penyair Armitage dan direktur artistik Jude Kelly.

Acara ini akan berupa pembacaan karya para penyair, rapper, pendongeng, dan pendendang dalam lebih dari 50 bahasa dari Haiti hingga Maori dengan rencananya 100 ribu lembar puisi akan dijatuhkan dari helikopter ke kerumunan orang.

Dari Indonesia, terpilih penyair Laksmi Pamuntjak, yang terkenal dengan beberapa buku puisinya, Elipsis (2005) dan Anagram (2007).

“Saya sangat bersyukur telah terpilih mewakili Indonesia dalam festival puisi yang unik ini. Sebuah kehormatan besar. Karena di Indonesia banyak sekali penyair-penyair yang tangguh,” ujar Laksmi Pamuntjak.

Ia merasa beruntung karena sebagian besar puisi ia tulis dalam bahasa Inggris. Jadi lebih mudah diakses pembaca-pembaca puisi di luar Indonesia. “Sementara banyak penyair di Indonesia sajak-sajaknya belum diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris,” kata perempuan cantik ini.

Bagi Laksmi, keterlibatannya dalam festival ini terbilang pengalaman langka karena keunikan acaranya yang berangkat dari ide Olimpiade dan pembacaan puisi. “Sesuatu yang sifatnya lebih intim, dan tak mengurung identitas, bukan sebuah persandingan yang lazim. Meski keduanya sama-sama merayakan perbedaan dan kemajemukan,” kata ibu satu putri ini.

Laksmi patut berbangga karena nama-nama besar akan tampil di Poetry Parnassus. Dari pemenang Nobel Seamus Heaney yang mewakili Irlandia, kemudian Wole Soyinka dari Nigeria yang juga pernah meraih Nobel. 


Dari Amerika Serikat, akan diwakili Kay Ryan, Bill Manhire dari Selandia Baru, dan John Kinsella dari Australia.

Sejumlah penyair-penyair “perjuangan” juga akan hadir. Dari Jang Jin Seong yang harus melarikan diri dari Korea Utara, penyair Albania Luljeta Lleshanaku yang hidup dalam tahanan rumah karena orangtuanya melawan mantan rezim komunis di negaranya, hingga Gioconda Belli dari Nikaragua yang terpaksa melarikan diri ke Meksiko setelah masa revolusi Sandinista.

Masing-masing penyair juga akan berkontribusi menyusun antologi puisi, The World Record, yang akan diluncurkan pada 26 Juni. Poetry Parnassus ini adalah bagian dari acara final Cultural Olympiad dan akan bertempat di Southbank Centre di London dari 26 Juni hingga 1 Juli.